Bunda Irawati Sumedi, Psikolog, C. NNLP Psikolog di Lembaga Pendidikan Attaqwa, Lembaga Nurul Hikmah Sidoarjo, Praktisi Perkembangan Anak & Neuro Parenting. Foto: Suaramuslim.net

Suaramuslim.net – Sebagai orang tua tentu kita selalu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati, mulai dari memastikan tumbuh kembang anak optimal, menjadikannya pribadi unggul hingga segala macam proteksi bagi si kecil.

Eits, tapi jangan sampai berlebihan menerapkan pola asuh dan kontrol terhadap anak ya bunda-bunda dan para ayah, karena bisa jadi kita akhirnya termasuk dalam hyper parenting.

Hyper parenting atau yang disebut juga intensive parenting merupakan pola pengasuhan orang tua terhadap anak dengan intensitas kontrol yang ketat, meski sebetulnya tujuannya baik. Namun akan jadi masalah jika kita memaksakan aktivitas itu secara terus menerus hingga pengawasan atau kontrol yang berlebihan kepada anak.

Ketika berbicara tentang hyper parenting ini artinya pengasuhan yang berlebihan. Maksudnya, ketika kita melakukan hyper parenting, maka yang terjadi adalah pengasuhan yang intensitas kontrol terhadap perilaku anak, kondisi anak itu sangat berlebihan dari orang tua. Dan ini mengakibatkan orang tua akan sangat waspada terhadap kondisi anak, apa pun itu.

Hyper parenting ini terjadi karena adanya filosofi bahwa anak kita harus unggul dalam segala hal. Baik itu secara akademik, aktifitas-aktifitas lain atau pun pencapaian-pencapaian yang lain. Jadi karena ada filosofi dari orang tua seperti itu.

Mengapa orang tua menjalankan hyper parenting?

Orang tua merasa bahwa setiap anak mempuyai potensi, setiap anak mempunyai bakat. Dan masing-masing bakat ini harus dieksplorasi semaksimal mungkin. Karena ketika kita mampu mengeksplorasi bakat dan potensi anak ini, maka anak akan mendapatkan prestasi yang luar biasa, akan mendapatkan pencapaian yang luar biasa. Jadi ini sebenarnya lebih kepada ego orang tua dan juga rasa sayang yang berlebihan.

Hyper parenting ini terjadi karena ego dan over protective atas nama cinta kepada anak-anaknya. Tak hanya itu, ego ini juga disebabkan tuntutan dari masyarakat sehingga orang tua berpikir “anak saya harus unggul karena akan bersaing dengan orang lain.”

Jadi itu adalah sebuah fenomena di zaman sekarang, di mana para orang tua berlomba-lomba agar anaknya meraih pencapaiannya yang terbaik karena mereka harus bersaing dengan sesama anak lain dan mereka harus menjadi seseorang yang unggul.

Menurut saya sebenarnya ini tidak ada salahnya, cuma terkadang orang tua tidak tahu menempatkan bagaimana caranya, metode yang dipakai harus seperti apa. Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anak, bahkan pengasuhan dengan model tiger mom juga sebenarnya dilandasi oleh rasa sayang yang berlebihan agar anak-anaknya menjadi pemenang.

Jadi kalau kita berbicara tentang hyper parenting sebenarnya lebih banyak beririsan dengan pola asuh dengan tipikal tiger mom.

Para orang tua ini kebanyakan tidak menyadari. Padahal kalau mereka mau belajar misalnya adanya kecemasan yang berlebihan terhadap anak, sikap yang terlalu detail terhadap kebutuhan-kebutuhan anak, itu semua sudah termasuk ciri-ciri bahwa dia nantinya akan melakukan sesuatu yang sifatnya hyper parenting.

Kemudian orang tua terkadang melakukan sesuatu yang berlebihan. Semisal si anak sudah belajar di sekolah, kemudian sepulang sekolah dia masih harus les, mengikuti kursus, itu semua sebenarnya tuntutan dari orang tua.

Kemudian juga adanya ketakutan dari orang tua seperti takut gagal, dia merasa frustasi juga karena dia selalu membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Jika itu terus terjadi maka ketika dia memberikan stimulasi kepada anaknya dan ternyata respons ataupun aksi yang ditampilkan anak itu tidak sesuai, maka dia akan semakin stres. Sehingga yang terjadi adalah tuntutan-tuntutan kepada anak semakin besar.

Apakah masa lalu orang tua juga berpengaruh terhadap pola asuh kepada anaknya di masa depan?

Tidak berpengaruh. Faktor pengasuhan orang tua itu tidak akan mempengaruhi. Kita tahu bahwa orang tua zaman dahulu lebih santai dalam mendidik anak-anaknya, tetapi yang terjadi pada ibu-ibu zaman sekarang dengan memberikan les anak berbagai macam, masih kecil sudah diwajibkan les dan kursus. Kita pernah tidak mengukur kemampuan dan bakat anak kita. Ini semua adalah ego dari orang tua karena kebutuhan untuk teraktualisasi dirinya bahwa dia ingin dianggap sebagai orang tua yang hebat dan sukses.

Artikel ini dikutip dari siaran Mozaik Radio Suara Muslim Surabaya 93.8 FM pada hari Rabu, 29 Januari 2020 pukul 13.00-14.00 bersama Bunda Irawati Sumedi, Psikolog, C. NNLP Psikolog di Lembaga Pendidikan Attaqwa, Lembaga Nurul Hikmah Sidoarjo, Praktisi Perkembangan Anak & Neuro Parenting.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.