Muslim Sejati dalam Menyikapi Duniawi (Part 2)

Muslim Sejati dalam Menyikapi Duniawi (Part 2)

Apakah Sedekah Membuat Hartamu Berkurang
Ilustrasi beberapa uang koin.

Muslim Sejati dalam Menyikapi Duniawi (1)

Suaramuslim.net – Masih tentang eksistensi duniawi dan bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim terhadapnya. Pada tulisan sebelumnya telah kita bahas mengenai sikap terhadap dunia, yang pertama bahwa harta kekayaan bukan tolak ukur pujian atau ujian seseorang. Lalu yang kedua, hendaknya kita jadikan harta ini hanya sebatas sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan utama.

Dalam suatu hadis dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah memuliakan orang yang menjadikan dunia ini sebagai mediator untuk memperoleh keutamaan kehidupan akhirat. Maka, jangan sampai teperdaya olehnya. (Lihat At Takatsur: 1-2).

Rasulullah juga mengajak kepada kita agar meluangkan waktu untuk beribadah kepada Allah, Sehingga Allah akan mencukupi kebutuhan kita. (HR. Ahmad). Ingatlah bahwa harta kekayaan yang ada di dunia ini sangat sedikit, sangat singkat dan fana (rusak).

Berikutnya tulisan ini akan mengupas tiga sikap kita sebagai muslim terhadap duniawi, dari poin ketiga sampai kelima.

Ketiga: yakinilah bahwa harta adalah titipan Allah

Harta kekayaan yang kita miliki dan seluruh kenikmatan yang kita rasakan hakikatnya dari dan milik Allah (QS. Al-Jatsiyah: 13). Sedangkan kita hanya menerimanya sebagai titipan yang sebagian juga menjadi hak orang lain yang membutuhkannya (QS. An-Nur: 33).

Dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik, beliau berkata:

كُنْتُ أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الحَاشِيَةِ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَبَذَهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَةً شَدِيدَةً، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَثَّرَتْ بِهَا حَاشِيَةُ البُرْدِ مِنْ شِدَّةِ جَبْذَتِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ضَحِكَ، ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

“Saya berjalan bersama Rasulullah, ketika itu beliau mengenakan kain (selendang) Najran yang kasar ujungnya, lalu ada seorang Arab badui (dusun) yang menemui beliau. Maka ditariknya kain Rasulullah dengan kuat hingga saya melihat permukaan bahu beliau membekas lantaran ujung selimut akibat tarikan Arab badui yang kasar. Arab badui tersebut berkata; “Wahai Muhammad, berikan kepadaku dari harta yang diberikan Allah padamu,” maka Rasulullah menoleh kepadanya diiringi senyum serta menyuruh salah seorang sahabat untuk memberikan sesuatu kepadanya.” (Al-Bukhari).

Karena harta itu milik Allah, maka Allah-lah yang mengatur bagaimana harta tersebut bisa sampai kepada kita. Kita hanya menjalankan sebab. Jangan seperti Qarun yang begitu bangganya memiliki harta yang banyak, dia bersikap sombong. Sehingga Allah kemudian membinasakannya. (QS. Al-Qashash: 78).

Maka kita harusnya sadar tatkala bermuamalah dengan titipan tersebut, harus sesuai dengan aturan yang memberikan titipan. Dan ingatlah setiap nikmat itu akan dipertanggungjawabkan kelak (QS. An-Nahl: 53 dan At-Takatsur: 8). Kita gunakan titipan harta dengan penuh kesadaran bahwa hal itu akan dipertanyakan dari mana didapatkan dan ke mana dibelanjakan.

Keempat: sikapilah harta secara proporsional dan memperolehnya secara profesional

Dunia itu harus ada, bahkan kita tidak bisa menuju akhirat tanpa melalui dunia. Dunia harus kita miliki sebagai sarana untuk mengantarkan kita kepada akhirat. (QS. An-Nahl: 8). Maka Allah melarang orang-orang yang mengharam-haramkan karunia-Nya. (QS. Al-A’raf: 32).

Ibnu Taimyah mengatakan bahwa seluruh harta dan nikmat yang Allah ciptakan asalnya untuk orang yang beriman. Konotasinya, harta dan kenikmatan itu pada dasarnya haram bagi orang kafir. Oleh karenanya setiap kenikmatan dan harta yang mereka cicipi di dunia ini akan diazab Allah. (QS. Al-Ahqaf: 20).

Berbeda dengan orang yang beriman, yang akan menikmati karunia Allah sampai hari saat mereka akan kembali dan menghadap Allah. (QS. Al-Mulk: 15). Maka Allah menganjurkan untuk segera bertebaran mencari anugerah-Nya (QS. Al-Jum’ah: 10) agar dapat menikmatinya serta menyukurinya. (QS. An-Nahl: 14).

Hadis riwayat Ibnu Asakir dari Anas:

لَيْسَ بِخَيْرِ كُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِاخِرَتِهِ وَلاَ اخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتّى يُصِيْبُ مِنْهُمَاجَمِيْعًا

 فَاِنَّ الدَّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى اْلاخِرَةِ وَلَاتَكُوْنُوْا كَلًّ عَلَى النَّاسِ

“Bukanlah orang yang paling baik di antara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain.”

Dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah juga dijelaskan;

  اَلْمُؤْ مِنُ اْلقَوِيُّ خَيْرٌوَاَحَبُّ اِلَى اللهِ مِنَ اْلمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ

 اِحْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِا للهِ وَلَاتَعْجِرْ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, sedangkan pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah kamu untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada allah dan janganlah kamu merasa tidak berdaya.”

Rasulullah memotivasi kita agar menjadi mukmin yang kuat karena Allah menyukai mukmin yang kuat. Dalam mencapai sesuatu yang bermanfaat kita harus bersemangat juga tetap diiringi dengan memohon pertolongan Allah agar dipermudah jalannya. Sebagai seorang muslim kita dilarang menjadi umat yang lemah karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. (QS. An Nisa: 9).

Hadis riwayat Al-Bukhari dari Zubair bin ‘Awwam, Rasulullah bersabda:

لَاءَنْ يَاءْخُذَ اَحَدُ كُمْ اَحْبَلاً فَيَأْ خُذَحُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ فَيَبِيْعَ فَيَكُفَّ اللهُ بِهِ وَجْهَهُ

 خَيْرٌ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اُعْطِيَ اَمْ مُنِعَ

“Sungguh jika salah seorang di antara kamu membawa seutas kayu bakar lalu kayu itu dijual sehingga Allah mencukupkan kebutuhan hidupnya dengan hasil jualannya itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi maupun ditolak (tidak diberi).”

Dalam memenuhi kebutuhan hidup kita harus bekerja keras, dengan hati yang ikhlas dan tanpa rasa minder walaupun pekerjaan itu diremehkan orang lain. Jika mau bekerja, Allah berjanji akan mencukupkan kebutuhan kita. Meminta-minta merupakan perbuatan yang dibenci dalam Islam oleh karena itu kita dilarang melakukannya.

Hadis riwayat Al-Baihaqi:

 اِعْمَلْ لِدُ نْيَكَ كَاءَنَّكَ تَعِيْسُ اَبَدًا وَعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَاءَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

“Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.”

Dalam mengerjakan sesuatu kita harus bersungguh-sungguh melakukannya agar hasilnya baik. Namun di saat beribadah kepada Allah kita harus dengan setulus hati beribadah kepada-Nya seakan-akan kita tidak akan pernah hidup lagi (mati besok).

Islam menganjurkan kepada kita agar bekerja keras, tekun dan ulet dengan tidak melalaikan kewajiban pokok untuk persiapan kampung akhirat. (QS. Yusuf: 87).

Oleh karenanya kita dapati dalam hadis yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah tidak pernah berlindung terhadap kekayaan dan juga kemiskinan, akan tetapi Rasulullah berlindung dari ftinah kekayaan dan kemiskinan.

Di antara hadis tersebut adalah doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الكَسَلِ وَالهَرَمِ، وَالمَغْرَمِ وَالمَأْثَمِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ النَّارِ، وَفِتْنَةِ القَبْرِ وَعَذَابِ القَبْرِ، وَشَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، وَشَرِّ فِتْنَةِ الفَقْرِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kepikunan, terlilit utang, dan dari kesalahan dan dari fitnah neraka serta siksa neraka, dan dari fitnah kubur dan siksa kubur dan dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kefakiran serta fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (Muttafaqqun alaih).

Doa ini merupakan isyarat dari Nabi bahwa pada kekayaan ada fitnah dan pada kemiskinan juga terdapat fitnah. Rasulullah menghargai umatnya yang giat bekerja dan mencela orang-orang yang meminta-minta.

لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Sungguh, seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dan dipikul di punggungnya, itu lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya.” (Al-Bukhari).

Kelima: mulianya harta yang dimiliki hamba Allah     

Rasulullah telah bersabda:

نِعْمً المَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki hamba yang saleh (baik).” (Ahmad).

Karena orang saleh akan menyalurkan hartanya kepada hal-hal yang dicintai Allah (QS. Al-Baqarah: 261 dan At-Taubah: 41).

لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal; (terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Al-Bukhari).

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (Shahihul Jami’).

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah rasa senang (kebahagiaan) yang engkau masukkan ke dalam seorang muslim, atau menghilangkan kesulitannya, atau melunaskan utang-utangnya, atau menghilangkan rasa laparnya.” (Ath-Thabrani dalam Mu’jam Ash-Shaghir).

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Berinfaklah wahai anak cucu Adam, niscaya Aku akan berinfak kepadamu (memberi ganti).” (Muttafaqun ‘alaih).

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (Muslim).

Tidak selayaknya orang beriman bersifat kikir.

وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

 “Dan tidak akan berkumpul sikap kikir dan keimanan dalam hati seorang hamba selamanya.” (An-Nasa’i).

Suatu saat Sa’ad bin Jubair melihat ada orang tawaf di Ka’bah yang setiap dia bertawaf orang tersebut berdoa:

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي، اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي

 “Ya Allah jauhkan aku dari sifat pelit, Ya Allah jauhkan aku dari sifat pelit.”

Sa’ad bin Jubair tatkala mendengarkan doa tersebut menyangka bahwa apakah orang itu adalah orang yang pelit sehingga dia harus berdoa seperti itu? Akan tetapi setelah dicari tahu, ternyata orang tersebut adalah Abdurrahman bin ‘Auf yang terkenal suka berinfak.

Intinya adalah harta bukanlah hal yang tercela, justru sangat dianjurkan dalam syariat jika seseorang yang memiliki harta, kemudian harta tersebut digunakan di jalan Allah, sehingga hal tersebut akan menaikkan derajatnya di akhirat kelak. Akan tetapi orang-orang yang memiliki harta namun digunakan pada perkara-perkara yang sia-sia dan tidak diridai Allah, maka harta akan mendatangkan kecelakaan baginya di akhirat kelak.

Semoga dengan harta dapat mengantarkan kita bahagia dunia dan akhrat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Al-Baqarah: 201).

 Wallahu a’lam bisshawab

Khozin Mustafid, S.Ag, M.Pd.I – Narasumber Program Solusi Ustaz Radio Suara Muslim
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on facebook
Share on Facebook
Share on twitter
Share on Twitter
Share on whatsapp
Share on WhatsApp
Share on telegram
Share on Telegram

Leave a comment

Wakaf

10.000 Al-Quran

Persembahkan Pahala Amal Jariyahnya untuk Orang Tua dan Keluarga Tercinta.