Nabi Musa, Fitnah, dan Kesempurnaan Fisiknya

Suaramuslim.net – Allah senantiasa menunjukkan kekuasaan-Nya dengan melindungi para nabi dan rasul-Nya dari berbagai fitnah dan tuduhan buruk. Ujung dari tuduhan dan fitnah terhadap utusan Allah pada hakikatnya adalah penolakan terhadap risalah ilahiyah. Kali ini, ditampilkan sosok Nabi Musa yang memiliki kesempurnaan fisik dengan selalu menutup tubuhnya. Hal ini dalam rangka untuk menjaga auratnya dari pandangan orang lain. Anehnya para pembencinya menuduh dan memfitnah Nabi Musa, ketika menutup tubuhnya, dengan tuduhan keji. Mereka menganggap Nabi Musa berpenyakit kulit di sekujur tubuhnya sehingga selalu menutupinya. Namun Allah tidak diam dalam menolong hamba-hamba-Nya dengan cara-cara yang halus dan mendidik, bukan dengan cara yang kasar dan serampangan.

Fisik Nabi Musa dan Fitnahnya

Nabi Musa merupakan sosok nabi yang kuat dan pemberani, memiliki fisik yang kokoh dan melekat kesempurnaan kepribadiannya. Namanya sering disebut di dalam Al Quran dan kisahnya terpampang di berbagai surat. Namun, sosok agung ini memiliki sifat pemalu, dengan senantiasa menutup tubuh dan auratnya. Akibat menutup tubuhnya ini sempat menjadi bahan ejekan bagi para musuh dakwahnya. Tuduhan buruk dari para pembencinya dengan mengatakan bahwa Nabi Musa sering menutupi tubuhnya dikarenakan berpenyakit kulit, seperti kudis, belang dan sebagainya.

Baca Juga :  Kisah Heroik Para Sahabat dalam Perang Badar

Menghadapi tuduhan itu, Allah menunjukkan kebesaran-Nya, dengan memperlihatkan kesempurnaan fisik Nabi Musa, yang nantinya bisa menutup mulut para pembencinya. Ada sebuah kisah dimana ketika Nabi Musa saat mandi, dia memilih sebuah tempat yang sepi dan jauh dari pandangan manusia. Hal ini berbeda dengan umumnya kaum Bani Israil yang mandi di tempat terbuka dan tidak jarang terlihat auratnya satu sama lain. Nabi Musa berbeda dengan kebanyakan manusia, dimana memilih tempat mandi yang jauh dari pandangan manusia. Suatu saat, Nabi Musa mandi, dengan melepas bajunya dan meletakkannya di atas sebuah batu.

Saat selesai mandi, Nabi Musa hendak mengenakan bajunya dan ternyata batu itu bergeser dan berjalan menjauh dari Nabi Musa. Nabi Musa berupaya untuk mengejar baju yang berada di atas batu itu, hingga orang-orang menyaksikan fisik Nabi Musa saat itu. Para pembencinya melihat bahwa fisik Nabi Musa demikian sempurna tanpa terlihat adanya kudis atau penyakit kulit lainnya. Anggota badan Nabi Musa bagus, kulitnya bersih, dan tak ada cacat sama sekali. Allah ingin menunjukkan kesempurnaan fisik Nabi Musa ini dalam rangka untuk menolong hamba-Nya dari ejekan dan fitnah yang ingin menyudutkan Nabi Musa.

Baca Juga :  Kemerdekaan Itu, Kamu Syukuri atau Kufuri?

Pertolongan Allah atas Hambanya

Kisah Nabi Musa ini menjadi bukti tentang pentingnya menjaga aurat dan tidak mengumbarnya kepada orang lain. Pentingnya menjaga aurat menjadi pesan penting dan tidak mudah untuk memperlihatkan kepada orang lain. Dengan menjaga aurat dari pandangan orang lain, maka bukan hanya menyelamatkan diri kita, tetapi juga akan membebaskan dari ancaman bagi orang lain.

Kekuasaan Allah sedemikian besar bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga diri dengan memperdalam agamanya. Allah senantiasa membela hamba-hamba-Nya dari tuduhan buruk dan fitnah kejam yang ditujukan pada utusan-Nya. Apa yang menimpa Nabi Musa ketika mengalami tuduhan buruk dan fitnah karena menutupi tubuhnya, maka Allah langsung membelanya dengan cara yang tidak pernah diduga-duga. Betapa tidak, batu yang umumnya dia tak bergerak, tiba-tiba dibuat bergerak dan bergeser dengan menjauhi Musa. Dengan adanya peristiwa itu, orang-orang yang membencinya bisa bungkam dan berbalik kagum atas apa yang diejeknya.

Allah juga ingin menunjukkan bahwa cacat atau aib yang dituduhkan kepada para utusan Allah hanyalah sebagai pintu masuk untuk menolak ajaran-Nya. Ketika sukses menuduh dan memfitnah fisik para utusan Allah, maka akan mudah untuk menolak risalah-Nya. Tetapi Allah sebagai Dzat yang Maha Sempurna senantiasa melindungi hamba-hamba-Nya dari berbagai fitnah yang mengarah pada penolakan terhadap ajaran yang dibawa oleh para utusan-Nya, dan membantahnya dengan cara yang baik.

Baca Juga :  Strategi Nabi Ya'qub dalam Mengelola Konflik Anak

*Ditulis di Surabaya, 28 Nopember 2018

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.