Respect + Responsibility = Trust

51
Nilai Respect + Responsibility = Trust

Suaramuslim.net - Senin 19 Februari 2018, saya diundang rapat di sebuah lembaga pendidikan. Saya mengenal lembaga ini hampir di separuh usia saya. Karena memang sejak mahasiswa dahulu saya sering beraktifitas di tempat ini. Hal yang membuat saya sedih adalah tempat ini tidak banyak mengalami perubahan, sementara saya dan kawan-kawan sewaktu masih mahasiswa, sudah cukup banyak memgalami perubahan. Bahkan kelompok kegiatan yang dulu pernah "numpang" hidup dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan pengabdiannya, sekarang sudah jauh lebih berkembang, mereka bahkan sudah mempunyai lahan jauh lebih luas dibanding area lembaga ini, dan ditambah di lahan tersebut mereka dulu menumpang hidup, sekarang mereka sudah bisa membangun lembaga pendidikan tinggi dengan gedung yang cukup megah di tempat lain.

Saya mencoba mengurai kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Mulailah saya memetakan beberapa hal yang menurut saya penting.

Hal pertama yang saya lakukan adalah bertanya kepada penanggung jawab lembaga, apa sesungguhnya yang akan kita capai saat ini? Jawaban singkat muncul, kita mau menata kembali lembaga ini. Kemudian saya melanjutkan pertanyaan, darimana kita mulai perbaiki? Cukup banyak jawaban yang muncul. Salah satu peserta rapat menguraikan bahwa perbaikan bisa kita mulai dari penataan manajemen kelembagaan, diharapkan dengan penataan kelembagaan, setiap orang akan mengetahui tugas dan tanggung jawabnya. Yang lain juga memberi usulan penataan itu bisa dimulai dari sumber daya manusianya. Alasannya kalau sumber daya manusiannya baik, maka upaya perbaikan dan pengembangan lembaga bisa dilakukan dengan baik.

Bagi saya menata sebuah lembaga dan memperbaiki merupakan sebuah rangkaian "menjahit" yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus dirangkai secara simultan. Keduanya bisa berjalan baik kalau diantara keduanya ada yang disebut "trust". Nah pertanyaan besarnya adalah kenapa kita tak bisa berkembang meski kita mempunyai sarana dan fasilitas yang cukup sebagai modal? Karena kita tidak mempunyai "trust".

Baca Juga :  Darurat Perlindungan Anak di Jawa Timur

"Trust" atau kepercayaan sejatinya adalah modal dasar yang sangat kuat selain uang. Karena "trust" adalah barang yang mahal. Dengannya sejatinya kita bisa mendatangkan uang. Ambil saja contoh betapa banyak orang yang susah mendapatkan modal dari bank, meski tawaran dan prospek kegiatan yang dipaparkan sangat menarik dan mengagumkan. Tapi di lain sisi ada juga orang dengan tawaran yang sama, dia bisa mendapatkan dana untuk menjalankan program kegiatannya. Lagi-lagi karena faktor kepercayaan yang bisa memudahkan orang bisa mengakses modal perkembangan.

"Kepercayaan" sejatinya adalah sebuah perasaan hati yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang atau lembaga dengan dasar-dasar yang rasional.

"Kepercayaan" dalam teori sebab akibat, berada dalam posisi akibat. Artinya bahwa kita bisa dipercaya oleh seseorang karena orang lain melihat kita pada posisi meyakinkan untuk bisa dipercaya. Itu artinya orang lain mendapatkan penilaian jejak rekam kita bahwa kita adalah orang yang tidak pernah mengambil hak orang lain, kita tidak pernah berbohong, kita dikenal jujur, kita dikenal tidak menikung orang lain dan sebagainya.

Kepercayaan adalah sebuah proses panjang agar antar satu orang dengan yang lain bisa saling melengkapi dan mengisi. Sehingga kepercayaan tidak akan serta merta bisa didapatkan, kalau orang lain pernah mengenal kita melakukan sesuatu yang mencederai kepercayaan. Untuk bisa saling percaya biasanya sebuah proses, diantaranya seseorang sangat percaya kepada kita karena memang jejak rekam kita dikenal oleh kawan sebagai orang yang baik. Penilaian baik itu yang oleh Lyckona karena disebabkan oleh sikap kita yang "respect" terhadap diri dan orang lain serta ditambah lagi dengan keberadaan kita yang selalu "responsif". Tanggap dan bertanggung jawab. Sikap "respect" dan "responsibility" inilah yang kemudian menjadikan orang lain merasa nyaman terhadap kita. Rasa nyaman itulah yang kemudain berdampak pada adanya "trust" terhadap kita. Sekali kita berbohong dan merusak kepercayaan orang lain terhadap kita, bukan tidak mungkin kita akan kesulitan mendapatkan kepercayaan lagi. Sehingga kita mesti harus berhati-hati dalam bersikap, agar kepercayaan yang sudah kita dapatkan tidak dengan sendirinya hilang.

Baca Juga :  Penjara Itu Bernama Sekolah

Suatu saat di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, sang Khalifah bersama pengawalnya berjalan malam hari untuk melihat keadaan rakyatnya. Lalu Umar melihat seorang ibu sedang memasak sementara di dalam tenda yang tak jauh dari si ibu memasak, Umar mendengarkan anak-anak dari ibu itu menangis. Dengan santun dan mengucapkan salam, Umar kemudian mendekat dan bertanya. "Wahai ibu! Apa yang menyebabkan semua anakmu menangis?". Dengan nada yang agak meninggi, sang ibu menjawab "mereka semua lapar". "Lalu apa yang sedang engkau masak? Kok kelihatannya dari tadi saya lihat tidak selesai-selesai?", tanya Umar. Si ibu menjawab bahwa yang dimasak adalah batu, karena batu ini hanya untuk menghibur mereka agar tertidur untuk melupakan laparnya. "Semoga saja, Allah melaknat Umar Sang Khalifah, karena tak becus mengurus rakyatnya". Ucap sang ibu dengan nada yang geram.

Mendengarkan jawaban sang ibu yang mengumpat Khalifah, Umar bukannya marah, tapi justru ia bersyukur dan menangis, karena takutnya terhadap pertanggungjawaban di hadapan Allah. Lalu dia mohon ijin kepada ibu untuk pulang dan bergegas untuk kembali. Dalam perjalanan pulang, Umar menangis dengan perasaan yang sangat takut dan mencekam. Bergegas dia menuju Baitul Mal untuk mengambil barang persediaan yang ada dan diserahkan kepada sang ibu agar terbebas dari rasa lapar dan kekurangan. Dipikulnya sekarung gandum. Sang pengawal melihat Khalifah memikul gandum sendiri, berusaha untuk menggantikan, tapi apa jawab Umar "Sanggupkah engkau memikul beban dosaku di hadapan Allah karena kelalaianku bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatku?" Sesampainya di tempat ibu tadi, Umar memberikan makanan kepadanya, agar bisa melepaskan rasa lapar anak-anaknya. Setelah itu Umar memasakkan ibu dan anak-anaknya dan menyerahkan sekarung gandum.

Baca Juga :  Mengikat Peradaban Baru

Melihat apa yang dilakukan Umar, sang ibu berdoa kepada Allah "Semoga keberkahan dan ridho menyertai anda, semoga saja orang seperti anda yang ditakdirkan oleh Allah untuk menggantikan Umar". Mendengar apa yang diucapkan dan didoakan oleh ibu tadi, Umar lalu menyampaikan kepada si ibu bahwa yang dimaksud Umar sang khalifah itu adalah dirinya. Mendengar apa yang disampaikan oleh orang yang ada di hadapannya dan itu adalah Umar sang Khalifah, sang ibu tersungkur menangis dan meminta maaf karena selama ini telah keliru memandang sosok Sang Khalifah.

Pesan penting yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah bahwa kepercayaan akan didapatkan bila kita dalam bersikap memang dikenal sebagai pribadi yang "respect" tanggap dan peka. Tanggap dan peka itu akan menuntun kita pada sikap bertanggung jawab dan menghormati.

Nah kawan.... Siapapun Anda, lembaga apapun yang Anda kelola, kalau "respect" dan "responsibility" tidak Anda miliki, maka jangan harap kita bisa memperoleh hadiah "trust" dari masyarakat. Marilah kita biasakan membangun sikap yang peka, tanggap dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial kita, karena dengan itu akan memudahkan orang percaya. Dan Ingat bahwa kepercayaan adalah modal dasar yang sangat kuat untuk berkembang.

Editor: Muhammad Nashir
*Ditulis di Surabaya, 20 Februari 2018

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

SHARE
M. Isa Ansori
Pegiat pelestarian cagar budaya, Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Pengajar Psikologi Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris LPA Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here