Pancasila dan Islam
Sarjono Kartosuwiryo, Putra dari tokoh utama DII/TII Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo disaksikan Menteri Koordinator Polhukam Wiranto usai mengucapkan ikrar setia kepada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika di Gedung Kementerian Polhukam, Jakarta, Selasa (13/8). (Foto: Gatra.com)

Suaramuslim.net – Baru-baru ini tersebar luas foto yang memperlihatkan seseorang yang disebut sebagai putra Kartosuwiryo (tokoh yang bersama Soekarno dan Muso pernah nyantri di rumah HOS Tjokrominoto di Surabaya) sedang mencium bendera Merah Putih disaksikan oleh Menkopolhukam Wiranto.

Foto ini seolah ingin mematahkan wacana Ijtima Ulama tentang NKRI bersyariah dan khilafah; bahkan keturunan tokoh nasional yang paling Islamis pun sudah meninggalkan cita-cita mensyariahkan NKRI.

Saya perlu memberi catatan soal ini. Dengan menyerukan NKRI bersyariah, Ijtima Ulama 4 tidak ingin mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Ijtima Ulama menegaskan bahwa ekspresi Islam oleh umat Islam dijamin oleh konstitusi, bukan ekspresi intoleran seperti yang dicoba disemburkan oleh kalangan Sekgras (sekuler garis geras) dan Komgras (komunis garis keras).

Bagi kedua kelompok ini, Ijtima tersebut merupakan hambatan besar dalam agenda gelap mereka mengangkangi NKRI. Penggunaan istilah penumpang gelap dalam gerbong Prabowo oleh kedua kelompok ini tidak saja melukai para ulama dan cendekiawan muslim, tapi juga fitnah besar.

Baca Juga :  Ikut Hasil Ijtima' Ulama, Kunci PBB Bisa Lolos 'Parliamentary Treshold'

Ijtima Ulama tidak pernah mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara. Setiap organisasi yang hidup dalam NKRI dijamin keberadaannya sesuai dengan keunikan visi dan misinya masing-masing sebagai perwujudan Bhineka Tunggal Ika. Pancasila adalah platform kehidupan bersama dalam keragaman. Melarang ekspresi Islam oleh organisasi Islam dan individu muslim justru tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Para peserta ijtima berkeyakinan bahwa mereka sebagai warga negara berhak untuk mengekspresikan keislaman mereka di NKRI yang berpancasila. Seruan Ijtima Ulama ini justru menengarai kecenderungan NKRI akhir-akhir ini yang makin tidak berpancasila yang digerakkan oleh kelompok Sekgras maupun Komgras.*

Gunung Anyar 14/8/2019
Daniel Mohammad Rosyid
Direktur Rosyid College of Arts and Maritime Studies

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.