pemulung jujur
Pak Bewok, pemulung jujur di bekasi. Foto: Fajar Sadik kiblat.net

BEKASI (Suaramuslim.net) – Bapak tua ini asalnya dari Surabaya. Anaknya tiga, cucu sudah lima. Pekerjaan sehari-hari adalah pemulung dan bantu buang sampah warga. Untuk itulah, saya panggil bapak yang biasa disapa Pak Bewok ini untuk bersihkan sampah dan angkut tanah sisa di depan rumah saya. Pemulung jujur ini pernah mengembalikan uang, dompet dan bahkan surat sertifikat tanah.

Pak Bewok cerita dulunya dia bekerja jadi pesuruh (office boy) di kawasan Sudirman selama 8 tahun. Dulu dia digaji sebesar Rp 1,3 juta pada 2004. Penghasilan segitu tentu tidak cukup buat pria berkeluarga di Jakarta.

“Setiap gajian saya cuma bisa bayar utang dan bayar kontrakan rumah. Namanya orang kan tidak setiap saat sehat, Mas!” kata Pak Bewok saat duduk di depan teras menunggu hujan mereda.

Akhirnya Pak Bewok datang ke bagian tata usaha perusahaan tempatnya bekerja. Dia minta gajinya dinaikkan karena sudah 8 tahun setia. Tapi permintaannya ditolak. Akhirnya Pak Bewok mundur saat itu juga.

Baca Juga :  Jangan Pisahkan Ibadah dan Akhlak

Di rumah, dia bilang ke istrinya. “Mulai saat ini kita usaha sendiri saja. Kita usaha mulung. Kamu jangan malu. Jangan dengar apa kata orang. Yang penting saya kerja halal.” Istri Pak Bewok cuma bisa manggut-manggut mengiyakan.

Dari situ petualangan di ‘dunia usaha’ dimulai. Pak Bewok merajut karung bekas untuk modal pulung. Pelan tapi pasti dia merintis usahanya. Kini Pak Bewok mengaku hasil dari usaha pulungnya rata-rata Rp 3.7 juta tiap bulannya. Itu penghasilan tetap. Belum lagi kalau ada kerja tambahan buat bersih-bersih atau diminta warga mengubur binatang piaraan yang mati.

Dari bermodalkan karung goni, kini dia sudah punya dua gerobak. “Tapi yang satu sudah saya jual, Mas.” Dia sering ditawari pekerjaan oleh warga untuk jadi tukang bersih-bersih atau menyapu halaman sekolah. Tapi kerap dia tolak. “Mohon maaf ya Mas. Dari mulung ini saja saya sudah bisa dapat lumayan.”

Pak Bewok juga berbagi banyak pengalaman menarik saat memulung. Dia pernah menemukan sertifikat tanah di antara tumpukan kertas yang dijual kepadanya. Saat disortir di rumah, dia sadar itu kertas berharga. Besoknya dia kembalikan ke yang punya. Akhirnya Pak Bewok diamplopi Rp 4 juta atas kejujurannya. Dia juga pernah mengembalikan dompet yang terjatuh saat seorang bapak naik angkot. “Karung saya tinggal Mas. Saya kejar dia pakai angkot lain. Itu dari pangkalan sampai ke Terminal Bekasi baru dapat.”

Baca Juga :  Syarat Jual Beli Online Halal

Kalau pemiliknya jelas, Pak Bewok pasti akan mengembalikan barang-barang yang berharga di mata pemiliknya. Tapi pernah juga pria yang menderita rabun ayam ini menemukan uang segepok bernilai jutaan rupiah di tempat sampah (sengaja tidak saya sebut nominalnya biar tidak ada yg mengaku-aku hehe…).

“Saya deg-degan itu Mas. Saya simpan sampai sebulan. Saya keliling terus lewat kawasan situ, menunggu ada yang menanyakan saya,” tuturnya sambil terengah-engah. Tapi setelah sebulan lewat tak ada yang mengaku, Pak Bewok akhirnya kasih uang itu ke istrinya. “Mungkin ini rezeki dari Allah buat kita,” ucapnya.

Uniknya, saat saya gali lebih dalam, Pak Bewok sering juga menemukan logam mulia di tempat sampah. Emas, perak dan semacamnya. Pak tua ini sampai hafal kode-kode logam mulia yang ada di cincin, gelang dan sendok berbahan emas atau perak. “Kalau 900 biasanya 21 karat. Kalo 700 biasanya 14 karat,” jelasnya. Dia juga berbagi cerita soal kisaran barang rongsokan yang paling laku di pasaran dan kesulitan yang dia hadapi setiap harinya.

Baca Juga :  Belajar Berakhlak Spesial dari Rasul

Penulis: Fajar Sadik (wartawan kiblat.net & FajarShadiq.com)
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here