Pengajian Jumat Kliwon; Menjenguk Hamba Sekaligus Tuannya
Ilustrasi rumah dengan beberapa pohon kelapa. (Ils: Dribbble/Book of Lai)

Suaramuslim.net – Di sebuah langgar sederhana di kaki bukit dan terpayungi pohon-pohon kelapa, penduduk sekitar berkumpul dengan antusias. Malam Jumat Kliwon menjadi waktu untuk pengajian rutin di kampung itu. Mungkin pengajiannya tidak serutin dan setematik masjid-masjid di kota besar, tetapi para penduduk tetap antusias. Pemikirannya sederhana, biarlah hanya setiap Jumat Kliwon yang penting istiqamah. Demikian perkataan bijak seseorang yang kemudian diiyakan oleh yang lain.

Acara 35 harian ini digunakan baik-baik oleh para penduduk sekitar untuk silaturahmi dan saling berbagi. Pak Darmo yang hobi menanam singkong dan doyan memakannya, selalu menginfakkan sekeranjang singkong untuk pengajian Jumat Kliwon.

Pak Anto yang jatuh cinta dengan wedang ronde kala jalan-jalan ke Jogja, Jumat ini menginfakkan 2 kg jahe panenan kemarin sore. Mas Bahrudin yang sudah ikut melaut bapaknya dari sejak kecil, membawa 10 ekor ikan cakalang untuk dinikmati bersama-sama.

Pengajian Jumat Kliwon diisi Mas Manan, dai muda lulusan LIPIA Jakarta. Muda, ganteng, pintar, ramah, rajin menabung, dan jangan ditanya salihnya. Sebenarnya dapat beasiswa sampai S3 di Arab Saudi tapi ditolak, alasannya sederhana, bapak ibu sudah tua tidak ada yang mengurus. Malam itu Mas Manan menyampaikan tentang menjenguk orang sakit.

Baca Juga :  Dakwah di Era Milenial

“Bapak, ibu, dan adik-adik yang insyaallah dirahmati oleh Allah,” demikian Mas Manan mulai menyampaikan.

“Rasulullah bersabda, berilah makan terhadap orang yang kelaparan, jenguklah orang sakit dan bebaskanlah tawanan. Hadis ini tercatat oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya. Ia berupa seruan Rasulullah agar kita menjenguk orang yang sakit,” lanjutnya Manan.

“Betapa kasihannya seseorang yang sakit itu pak, biasanya meladang atau melaut, biasanya bisa bersih-bersih dan memasak makanan, tapi begitu jatuh sakit cuma bisa tidur saja. Belum lagi jika makanan kesukaan tetiba sama saja dengan yang diberi bumbu seadanya,” Mas Manan mulai puitis, sesuatu yang menjadi kekhasannya.

“Maka pantaslah jika kemudian yang sakit itu kita jenguk untuk dihibur hatinya,” Mas Manan kemudian tersenyum, “tapi kalau jenguk sambil menagih utang, ya jangan,” imbuhnya.

Tawa jemaah pun meledak, “Menika aji mumpung mas”, sahut Pak Darmo.

“Jadikan pula momen sakit itu sebagai ajang untuk silaturahim, untuk saling menanyakan kabar dan mempererat hubungan di antara kita. Siapa pula yang akan membantu dan menolong kecuali tetangga sendiri. Saudara bisa jadi hanya beberapa tetapi tetangga insyaallah selalu ada,” ucapnya.

Baca Juga :  Tuan Guru Bajang: Politik Adalah Ranah Dakwah

Mas Manan kemudian menyampaikan kaitan eratnya silaturahmi dan menjenguk orang sakit, kaitan-kaitan lainnya dengan rezeki dan makbulnya doa.

“Siapa tahu, kehangatan kita ketika menjenguk orang sakit menjadi pintu tergeraknya orang tersebut untuk mendoakan kita. Bukankah doa orang sakit itu mustajab?” Katanya.

Pak Narto yang dari tadi sibuk mencatat kemudian mengangguk takzim sembari meneruskan catatan beliau. Kalau menginginkan catatan ringkas mengenai pengajian Jumat Kliwon harus pergi ke Pak Narto. Beliau punya catatan pengajian sejak 9 tahun yang lalu. Maklum beliau Sekretaris Desa, 3 kali pergantian kepala desa, tetap beliau yang dipercaya menjadi sekretaris.

Tak lama kemudian Mas Tanto dan Mas Luki, mulai berkeliling untuk menghaturkan minuman kepada jemaah. Teh manis hangat dengan irisan jahe. Cocok dengan suasana udara dingin dan hari yang semakin gelap. Jika di awal, hati disiram pemahaman ruhani, di akhir jasmani disiram hangatnya jahe asli. Lengkap.

Oleh karena itu, Mas Manan menutup tausiahnya, marilah kita selalu menjaga silaturahmi dengan tetangga dan berlomba-lomba menjenguk Allah selagi kita masih diberi kesempatan.

Baca Juga :  Budaya Islam Indonesia, Hasil Cerdas Para Wali

“Menjenguk orang sakit Mas Manan, masa menjenguk Allah,” sahut Bu Tari sambil tertawa kecil dengan ibu-ibu yang lain.

“Oh ndak Bu’, tidak keliru. Menjenguk Allah,” ujar Mas Manan menimpali.

Jemaah kompak mengernyitkan dahi. Siapa yang tidak akan bingung? Dan kaget?

“Kalau kita terkaget lalu bingung, mungkin demikianlah seseorang yang kelak ditanya oleh Allah.” Mas Manan masih tersenyum.

“Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla di hari kiamat berfirman: “Hai anak Adam! Aku sakit, mengapa kamu tidak menjenguk-Ku?” Jawab anak Adam; “Wahai Rabbku, bagaimana mengunjungi Engkau, padahal Engkau Tuhan semesta alam?”

“Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, mengapa kamu tidak mengunjunginya? Apakah kamu tidak tahu, seandainya kamu mengunjungi dia kamu akan mendapati-Ku di sisinya?” Mas Manan menyampaikan panjang lebar.

“Ini kiasan yang agung para jemaah sekalian, demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” salam Mas Manan yang dibalas oleh jemaah dengan salam berbalut air muka pemahaman.

Penulis: Dimas Agung Pramudikto
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.