Rekonsiliasi; untuk Kepentingan Demokrasi Atau Hanya Bagi-Bagi Kursi
Pertemuan Prabowo Subianto (kiri) dengan Joko Widodo (kanan) di Stasiun MRT Lebak Bulus, Sabtu (13/07). (Foto: Instagram/@jokowi)

Suaramuslim.net – Sejak awal memang ada pandangan yang mengatakan bahwa Jokowi akan menang bila berhadap-hadapan dengan Prabowo. Hal ini berdasar pada asumsi bila umat Islam memiliki calon sendiri maka kekuatan itu sulit ditandingi oleh Jokowi sebagai Petahana. Artinya, menempatkan Prabowo sebagai musuh merupakan satu-satunya cara untuk bisa memenangkan Jokowi. Dengan kata lain, Prabowo hanyalah sebuah kekuatan semu yang diciptakan sebagai kanal agar kekuatan umat Islam bisa ditundukkan.

Pandangan ini didasarkan bahwa adanya ketakutan pada umat Islam yang sudah tumbuh kesadaran politiknya. Kesadaran politik itu menumbuhkan kesadaran kolektif atas hak-haknya sebagai kelompok mayoritas. Meningkatnya kesadaran umat Islam ini tidak lepas dari tumbuh berkembangnya spirit keagamaan di berbagai level sosial. Terlebih lagi, media sosial merupakan kekuatan dahsyat yang berfungsi sebagai transmisi menyatukan kekuatan itu. Kekuatan yang dahsyat itu diasumsikan bisa mengubah kondisi sosial, politik, dan ekonomi umat Islam.

Dalam pandangan lawan politiknya, kekuatan yang demikian besar ini harus diruntuhkan agar umat Islam tidak meraih kekuasaan guna bisa menentukan nasib mereka sendiri. Bilamana kekuatan umat Islam ini dibiarkan, jelas sangat mengganggu eksistensi kelompok minoritas. Kelompok minoritas selama ini menikmati secara leluasa sebagian besar kekayaan dan sumberdaya alam Indonesia. Mereka akan bisa melanjutkan keadaan ini bilamana kekuatan umat Islam bisa dilumpuhkan.

Tumbuhnya Spirit Islam

Disadari atau tidak bahwa spirit Islam terlihat tumbuh di berbagai tempat. Kesadaran umat Islam untuk mendalami agamanya merupakan fenomena umum. Pendalaman atas nilai-nilai agama ini menumbuhkan kesadaran kolektif sehingga menyadarkan adanya kesewenang-wenangan kelompok minoritas yang menguasai sebagian besar ekonomi Indonesia. Dalam konteks politik, tumbuhnya kesadaran kolektif ini jelas mengganggu eksistensi kelompok kecil yang selama ini menikmati kekayaan alam Indonesia secara leluasa.

Baca Juga :  Tuan Guru Bajang: Politik Adalah Ranah Dakwah

The ruling elite (elite penguasa) melihat bahwa kesadaran kolektif umat Islam ini dianggap sebagai ancaman yang harus dibendung. Oleh karena itu, muncul gerakan perlawanan, atas tumbuhnya kesadaran kolektif umat Islam, dengan mereproduksi berbagai stigma. Stigma radikal dan bahaya kelompok intoleran, atau ancaman terhadap ideologi negara mulai menyeruak. Blow up atas temuan adanya masjid-masjid yang terpapar faham radikal, atau masyarakat atau mahasiswa yang terpengaruh gerakan radikal, juga diekspose besar-besaran. Framing seperti itu tidak lepas atas adanya kekhawatiran berkembangnya kesadaran politik umat Islam.

Ketika mendekati Pemilu atau Pilpres stigma negatif itu terus dikembangkan seiring dengan sorotan terhadap kelompok minoritas yang banyak menguasai berbagai sektor ekonomi dan kekuasaan. Munculnya Prabowo-Sandi sebagai calon presiden (Capres), yang diusung oleh gabungan dari beberapa partai politik, dimanfaatkan sebagai kanal untuk menyalurkan suara atau aspirasi umat Islam. Hal ini tidak lepas karena Islam sendiri belum menemukan figur yang bisa dijadikan kendaraan untuk menumpangkan aspirasi politiknya. Oleh karena belum ada figur yang tepat, maka aspirasi itu disalurkan kepada Prabowo. Maka resmilah suara umat Islam tersalurkan kepada putra Soemitro Djojohadikoesoema ini.

Dalam perkembangannya Prabowo dianggap sebagai representasi umat Islam sehingga memiliki kekuatan besar. Hal ini tidak lain karena suara umat Islam yang tersalurkan ke kubu Prabowo. Maka tidak heran, Prabowo kemudian dituduh telah ditumpangi penumpang gelap yang bernama kelompok radikal-intoleran. Seiring dengan berjalannya waktu, dan berakhirnya Pilpres, ternyata Prabowo dikalahkan oleh kecurangan massif, sistematis, dan terstruktur. Jalan yang ditempuh untuk membongkar kecuranganpun sangat Panjang, namun mengalami kegagalan.

Baca Juga :  Pengertian Politik Islam dan Bidang Kajiaannya

Namun, harapan untuk menang dan berharap Prabowo bisa dilantik masih sedemikian besar pasca ditolaknya permohonan lewat Mahkamah Konstitusi. Namun harapan besar itu, tidak sesuai dengan kenyataan, di mana Prabowo ternyata mau bertemu dengan Jokowi di MRT, sebuah arena di luar istana. Para pendukungnya lebih kecewa lagi, ketika Prabowo mau bertemu Megawati atas undangan makan siang. Kalau saat kampanye, Prabowo dianggap pahlawan yang siap berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara dan rela mati syahid. Tetapi, dengan dua pertemuan itu, publik Islam melihat Prabowo tidak lagi sebagai pejuang yang siap beroposisi atau rela berjuang untuk mati, tetapi sebaliknya. Prabowo telah dianggap sebagai macan ompong yang kehilangan taring, dalam melawan rezim curang, karena kepentingan politiknya.

Politik Pobia Islam

Melihat fenomena pertemuan Prabowo dengan Jokowi di MRT dan makan siang bersama Megawati menunjukkan demikian mudahnya umat Islam dibodohi dan dikhianati perjuangan tulusnya dalam membangun negara. Hal ini membenarkan bahwa dalam politik memang tidak ada kawan atau lawan yang abadi, namun kepentinganlah yang abadi. Kepentingan kelompok nasionalis selalu bisa mengalahkan politik umat Islam.

Baca Juga :  MUI Jatim: Ulama Berpolitik Sah Saja

Fenomena Prabowo yang dianggap sebagai representasi umat Islam benar-benar tertelanjangi. Untuk kesekian kalinya umat Islam harus menelan pil pahit yang hanya dianggap sebagai pendorong kendaraan politik ketika masa perjuangan dan berdarah-darah. Namun ketika menjelang pesta kemenangan, para pendukung politik Islam harus gigit jadi karena terlempar di luar ring kekuasaan.

Kalau sebelumnya umat Islam berharap Prabowo berdiri di depan melawan kecurangan, dan  berjuang membongkar misteri nyawa yang hilang mulai dari anggota KPPS hingga aksi 21-22 Mei, namun dengan rekonsiliasi itu, maka agenda besar itu terkubur. Dengan adanya pengkhianatan ini, maka umat Islam sekali lagi dianggap sebagai buih dan bangkai. Dikatakan buih karena jumlah mayoritas tetapi menjadi korban permainan politik. Dikatakan bangkai karena tidak memiliki nyawa, yang bebas diperlakukan apa saja sesuai dengan kehendak dan kemauan lawan politiknya.

Kalau asumsi di atas benar, di mana Prabowo hanya sebagai alat politik dari kelompok nasionalis sekuler untuk mengubur aspirasi umat Islam, maka menjadi sebuah kebenaran bahwa elite negara ini tidak menghendaki Islam tegak di bumi Indonesia. Berbagai cara untuk mengubur aspirasi politik umat Islam, mulai dari politik adu domba hingga pengkhianatan dan pembusukan dari dalam, benar-benar telah dilakukan. Hal ini tidak lain, karena elite-elite negara ini sangat alergi dan pobia dengan Islam.*

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.