Pengorbanan Keluarga Ibrahim Untuk Allah, Patut Diteladani!

0
Pengorbanan Keluarga Ibrahim Untuk Allah, Patut Diteladani!
Ilustrasi penggembala kambing di perbukitan.

Suaramuslim.net – Terkuaklah sebagian tabir, kenapa di dalam salat umat Islam diminta berselawat juga kepada Nabi Ibrahim? Jawabannya adalah seolah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam meminta umat manusia juga meneladani Nabi Ibrahim alaihis salam.

Dan ini diperkuat dengan firman-Nya yang coba kita akan gali spirit motivasinya dalam kehidupan manusia. Allah berfirman dalam surat Al-Mumtahanah ayat 4 sebagai berikut.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.”

Bandingkan dengan firman-Nya yang lain terkait meneladani Nabi Muhammad:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).

Redaksi رسول الله (Nabi Muhammad) didahulukan di ayat 21 surat Al-Ahzab, sedangkan pada Mumtahanah ayat 4, yang didahulukan kalimat اسوة حسنة daripada kalimat ‘Ibrahim’ seolah Allah ingin menunjukkan kepada kita bahwa keteladanan utama adalah kepada Nabi Muhammad (sebagai nabi dan rasul terakhir), kemudian setelah itu adalah kepada Nabi Ibrahim (sebagai bapak para nabi) dan keteladanan itu juga sangat terkait kepada personality kedua manusia hebat itu.

Bagaimana kita meneladani Nabi Ibrahim?

Lihatlah kisah yang Allah ceritakan dalam Al-Qur’an (lihat di surat Al-Anbiya 62-71) bagaimana ketika Nabi Ibrahim selepas berseteru dengan Namruz berhijrah dari Kerajaan Namruz bin Kan’an di Babylonia (wilayah Ur, sebelah selatan Irak), dengan membawa agama beserta istrinya, Sarah, dan keponakannya, Luth menuju Kan’an (suatu daerah di barat daya Harran, sekarang Turki).

Selain Sarah dan Luth, Ibrahim juga membawa serta saudaranya, Haran, beserta istrinya yang bernama Milka. Ia juga mengajak serta Aazar, ayahnya. Kemudian setelah itu bergerak lagi menuju Suriah dan menetap di Palestina.

Dalam perjalanannya, Ibrahim singgah di Damsyik (Damaskus) dan melanjutkan perjalanannya ke arah timur Baitul Maqdis. Ibrahim terus mengikuti arah tersebut hingga ia tiba di al-Khalil (Hebron).

Ia masih bergerak lagi menuju Mesir, nah di sinilah bertemu Hajar dan sejak di Palestina Nabi Ibrahim sudah sering berdoa untuk memperoleh keturunan dari Sarah dan bertahun-tahun tidak dikabulkan Allah sampai kemudian bertemu dengan Hajar itu. Nabi Ibrahim bersama Sarah berdoa terus menerus untuk mendapatkan seorang putra.

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh.” (Ash-Shaffat: 100).

Doa ini dilakukan ketika Ibrahim hendak pergi ke Palestina; sebagaimana dijelaskan Syekh Nawawi Banten dalam Marahu Labid li Kasyfi Ma‘na Quranin Majid, juz II, halaman 221, Darul Fikr, 1980.

لما هاجر إلى الأرض المقدسة أراد الولد فقَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ أي ولدا من المرسلين فاستجبنا له

“Ketika hijrah menuju tanah suci, Nabi Ibrahim merindukan kehadiran seorang anak. Kala itu ia berdoa, ‘Tuhanku, berikanlah aku seorang anak yang saleh.’ (Surat As-Shaffat ayat 100). Maksudnya seorang anak dari kalangan rasul. Lalu Kami kabulkan permohonannya.”

Namun demikian harapan Nabi Ibrahim tidak kunjung terwujud, hingga Sarah mendapatkan seorang budak cantik jelita yang bernama Hajar. Nah, dari sinilah kemudian Sarah menawarkan Hajar untuk dinikahi sebagai istri kedua kepada Nabi Ibrahim. Meski dengan berat hati, akhirnya Hajar dinikahi Ibrahim.

Beberapa tahun kemudian, Hajar melahirkan bayi ganteng sebagai perwujudan doa Ibrahim yang diberi nama Ismail.

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (As Shaffat: 101).

Hal ini membuat Ibrahim begitu perhatian kepada Ismail dan Hajar, maka Bunda Sarah menjadi cemburu. Dan untuk meredam kecemburuan Sarah, akhirnya Hajar beserta bayi Ismail diajak pergi oleh Ibrahim dari Hebron ke sebuah lembah yang tidak bertuan.

Lembah ini disebut Mekkah, Ibrahim mengantarkan Hajar dan Ismail di lembah tersebut di sebuah pohon rindang, yang kelak menjadi munculnya zam zam.

Ibrahim hanya memberikan kantong kulit berisi air dan kantong perbekalan lainnya. Dan meninggalkan keduanya.

Ketika itu Hajar mengikutinya dari belakang dan berkata berulang ulang; “Wahai Ibrahim, engkau mau pergi ke mana dan meninggalkan kami di lembah sepi dan kosong ini?”

Hajar mengucapkannya hingga beberapa kali, namun Ibrahim tidak jua menoleh. Akhirnya Hajar bertanya;

“Allah-kah yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini?’ ‘Ya,’ jawab Ibrahim. Hajar akhirnya mengatakan, ‘Kalau begitu, Ia tidak akan menelantarkan kami.’ Hajar kemudian kembali.” (Al-Bukhari dari Ibnu Abbas, dalam Kitab Al Munir karya Dr. Wahbah ketika menafsirkan surat Ibrahim ayat 38).

Nabi Ibrahim setega itu meninggalkan anak istrinya? Ternyata tidak!

Sebab setelah berjalan agak jauh sehingga tidak terlihat oleh Hajar, beliau menghadap kepada Ka’bah (pada waktu itu masih belum terbangun sempurna) berdoa kepada Allah untuk kebaikan mereka;

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37).

Sepeninggal Ibrahim, Hajar berusaha menghidupi dirinya dan anaknya dengan perbekalan yang ada, namun itu hanya cukup beberpa hari saja. Untuk selanjutnya kehabisan air, dan berakibat kepada asi. Namun demikian Hajar tidak tinggal diam, ia berlari, berjalan dan berlari, di antara dua bukit Shafa dan Marwa. Hajar melakukan hal itu sebanyak tujuh kali.

Ibnu Abbas mengatakan, “Nabi menyampaikan, ‘Itulah sa’i orang-orang di antara Shafa dan Marwa.”

Saat berada di atas bukit Marwa, Hajar melihat Ismail di dekat pondasi Ka’bah, tumit Ismail menghentakkan tanah dan memancarkan air yang deras.

Pelajaran berharga bagaimana love to Allah dari sepenggalan kisah keluarga Ibrahim di atas adalah:

A. Pengorbanan demi tercapainya cinta Allah

1. Lihatlah kepada Ibrahim, demi cintanya kepada Allah, ia meninggalkan keluarganya di lembah tidak bertuan. Bahkan bersedia mengorbakan Ismail.

2. Hajar pun bersedia ditinggalkan di lembah tidak bertuan, karena percaya kepada Allah.

3. Ismail pun bersedia disembelih karena itu perintah Allah.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (As Shaffat: 102).

Buah pengorbanan mereka adalah kenikmatan yang luar biasa dari Allah;

1. Kota Mekkah menjadi ramai, dan menghasilkan berbagai tanaman terutama kurma.

2. Pengorbanan Ismail diganti dengan domba. Hal ini diabadikan di ayat berikut:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (As-Shaffat: 103-107).

B. Perhatian dan tanggung jawab orang tua kepada anaknya

1. Tangung jawab seorang ayah kepada keluarganya dengan selalu mencurahkan kasih sayangnya dan kekuatan doanya. Inilah yang dilakukan Nabi Ibrahim alaihis salam.

2. Tanggung jawab ibu yang single fighter untuk dapat menghidupi anaknya. Inilah yang dilakukan Hajar sehingga berlari-lari antara Bukit Shafa dan Marwa.

C. Pendidikan positif yang luar biasa seorang ibu kepada anaknya

Inilah yang dilakukan Hajar kepada Ismail, bagaimana mengggambarkan sosok ayahnya (Ibrahim) sedemikian detailnya sisi positifnya. Sehingga meski bertahun-tahun tidak pernah bertemu namun sudah begitu dekat dengan ayahnya. Bahkan menghormati ayahnya dengan kasih sayang berupa ucapan panggilan mesra “Abati”, sebuah panggilan yang menggambarkan kepada yang dipanggil sebagai sosok ayah yang keibuan.

D. Kerja keras Hajar tergambar dari lari-lari di antara bukit Shafa dan Marwa

Kerja keras tanpa ada kata putus asa. Kerja keras yang dilandasi kasih sayang kepada keluarganya, tanpa melupakan kepasrahan diri kepada Allah (tawakal).

So, inilah kelurga yang ideal yang bisa menjadi contoh bagi kita semua. Keluarga yang keteladannya diabadikan Allah sebagaimana ayat di atas yang menjadi motivasi kita.

Dan juga diperkuat lagi pada ayat berikutnya;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (Al-Mumtahanah: 6).

So… Meraih cinta Allah, yang paling mudah adalah dengan meneladani orang-orang yang telah berhasil mendapatkan cinta-Nya, karena itu pelajarilah dan teladanilah jalan hidup mereka agar kita mendapatkan cinta-Nya juga.

Wallahu A’lam

M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
30 Juli 2020/9 Zulhijah 1441 H

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here