Peran Bangsa Arab dan Tumbuhnya Islam di Indonesia
Foto: google.com

Suaramuslim.net – Hubungan perdagangan atau perniagaan antara Indonesia dan sekitarnya dengan negeri Arab atau bangsa Arab, merupakan sebuah jalinan hubungan sejarah yang telah terbentuk berabad-abad. Jauh sebelum lahirnya Nabi Muhammad. Bangsa Arab merupakan wirausahawan perantara antara Eropa dengan negara-negara Afrika, India, Asia Tenggara dan Timur Jauh, yakni Cina dan Jepang. Mereka bukan hanya memperdagangkan hasil tanah Arab saja, akan tetapi mendatangkan barang-barang dari Afrika, India dan sebagainya. Barang-barang tersebut seperti gading gajah, wangi-wangian, rempah-rempah, emas dan sebagainya (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Jilid I, hal. 2)

Arab, Islam-Indonesia, dan Distorsi Sejarah

Setidaknya ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, bangsa Arab memiliki ruh sebagai bangsa pedagang sekaligus sebagai pelancong. Hal ini ditandai dengan perjalanan mereka melintasi berbagai bangsa di dunia untuk melakukan perdagangan. Kedua, bangsa Arab memiliki kontribusi dalam meletakkan dasar-dasar bagi bersemainya Islam di Indonesia.  Dengan dua fakta itu maka hubungan bangsa Arab dengan Indonesia bukan hanya baik, tetapi berhasil menciptakan pranata dan struktur sosial yang saling menopang.

Oleh karena itu, hubungan antara Arab dan Indonesia bisa dikatakan hubungan simbiosis mutualisme. Maka sudah selayaknya Indonesia berterima kasih terhadap bangsa Arab yang telah menjadikan Indonesia bisa menerima Islam. Demikian pula, Arab selayaknya berhutang budi dengan Indonesia karena disamping perdagangan orang-orang Arab bisa berlangsung secara mulus, dan masyarakat Islam bisa menerima nilai-nilai Islam.

Baca Juga :  Islam Nusantara dan Ruh Islam Liberal

Di samping itu, bangsa Arab bukan hanya sebagai bangsa yang memiliki usia yang lebih tua umurnya daripada Indonesia, tetapi juga berhasil menanamkan nilai-nilai yang nantinya akan melahirkan ulama. Dengan adanya ulama itu, maka muncul spirit yang kokoh dan gigih dalam mengusir penjajah Belanda. Dengan kata lain, Islam datang dengan damai dan berkembang di Indonesia melalui orang Arab, tanpa ada unsur kekerasan sebagaimana dituduhkan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Disadari atau tidak, perkembangan Islam begitu besar dan meluas ke berbagai wilayah Hingga munculnya penjajah barat yang memiliki kepentingan yang berbeda. Mereka datang bukan sekedar berdagang, tetapi juga ingin melakukan kolonisasi ke Indonesia. Mereka melihat perkembangan Islam yang telah meluas, sehingga mereka berusaha menancapkan pengaruhnya kepada masyarakat Indonesia.

Langkah yang diambil penjajah Belanda adalah berusaha mematikan kesadaran pemasaran umat Islam dengan mematahkan kemampuannya dalam hal penguasaan pasar. Langkah penjajah Belanda dalam mematikan kesadaran berniaga umat Islam adalah dengan membalik dan membelokkan sejarah umat Islam. Wali Songo yang dikenal sebagai penyebar Islam, didistorsikan sejarahnya sebagai sosok yang tidak mengenal syariat Islam. Maka tidak heran bila muncul personifikasi (gambaran)  bahwa Wali Songo lebih dekat tradisi Kejawen. Seperti sering bertapa atau berpuasa “patigeni” tanpa sahur dan buka puasa. Dengan bertapa di gunung atau di pinggir kali hingga berbulan-bulan atau berahun-tahun sehingga tidak sempat shalat lima waktu.

Baca Juga :  Syiar Islam di Larantuka, Flores

Sebagai tokoh agama, Wali Songo digambarkan sosok makrifat yang tidak lagi perlu syariat serta tidak lagi memiliki jiwa wiraniaga dan wirausaha sebagaimana sosok Brahmana Hindu atau Bhiksu Budha. Sosok demikian ini, menjadi sandaran bagi kelompok Kejawen yang menolak ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah. Namun justru lebih percaya kepada ajaran leluhur atau nenek moyang.

Dengan gambaran itu, sosok Wali Songo lebih kental kepada unsur agama Jawa serta meninggalkan aktivitas pasarnya. Penggambaran yang penuh distorsi ini benar-benar mengubah sejarah dan pemikiran generasi penerus bahwa sosok penyebar Islam itu tidak butuh terhadap syariat Islam serta menjauhkan diri dari kehidupan dunia.

Dengan terdistorsinya kehidupan Wali Songo yang dianggap lebih mendekati Islam Kejawen dan menjauhi dunia, maka tidak heran jika kita temukan generasi saat ini lebih banyak menyukai tradisi Jawa yang menyimpang dari Islam serta kurang berminat dalam dunia bisnis. Ketika gejala kemiskinan ditemukan di masyarakat, maka kelompok penguasa pasar (kapitalis dan non muslim) mudah untuk mempengaruhi umat Islam yang sudah tergoncang agamanya dengan godaan ekonomi. Bahkan mereka tidak menjalankan Islam yang merujuk pada sumber aslinya, tetapi lebih condong kepada ajaran yang bersumber pada budaya lokal.

Konflik Agama-Budaya : Warisan Penjajah

Baca Juga :  Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia Mulai Dibangun Hari Ini

Munculnya konflik yang mempertentangkan antara Islam dan budaya lokal bukan saja karena tidak memahami sejarah masuknya Islam di Indonesia, tetapi juga tidak memahami peran bangsa Arab yang demikian gigih dalam berdagang seraya menyebarkan agama Islam secara damai. Kalaupun terjadi pertentangan antara Islam dan budaya lokal, itu  dikarenakan oleh politik adu domba penjajah Belanda yang ingin menjauhkan masyarakat Indonesia dari nilai-nilai Islam.

Munculnya perlawanan terhadap budaya Islam, yang dikatakan dari budaya Arab, dan mempertentangkannya dengan budaya Jawa tidak lain karena politik penjajah. Penjajah Belanda menginginkan kekuasaan ekonomi di bumi Indonesia, dan pada saat yang sama, menumpangkan misi agama (Kristen) untuk disebarkan kepada masyarakat Indonesia. Mempertentangkan Islam dan budaya Jawa merupakan pintu masuk untuk menguasai Indonesia.

Ketika Islam berkembang di berbagai pelosok Indonesia, maka tumbuh kesadaran akan bahaya politik adu domba yang dilakukan Belanda. Itulah yang menjadi spirit para ulama dan santri untuk bergerak mengusir penjajah Belanda. Tanpa spirit agama Islam yang disebarkan oleh bangsa Arab, Indonesia bukan hanya langgeng menjadi negara jajahan, tetapi menjadi pusat tumbuhnya konflik agama yang dipertentangkan dengan budaya lokal. Kalaupun terjadi pertentangan Islam dan budaya lokal saat ini, tidak lain karena mewarisi mental penjajah yang tidak ingin Islam tegak secara damai di bumi Nusantara.

Kontributor: Dr Slamet Muliono
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.