Pertolongan Pertama Pada Kesusahan (P3K)

Suaramuslim.net – Sejatinya dalam potongan episode kehidupan yang kita jalani, adakalanya berjalan sesuai dengan keinginan dan adakalanya pula berbanding terbalik dengan kita harapkan.

Jangan dulu buru-buru membenci takdir yang diberikan Allah, apabila yang kita alami tidak sesuai dengan keinginan. Karena dalam Al Quran surat al-Baqarah ayat 216, Allah kembali mengingatkan bahwa pasti ada kebaikan yang diletakkan Allah pada sesuatu yang kita benci. Allah maha mengetahui sedangkan pengetahuan kita sebagai manusia biasa sangatlah terbatas.

”…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah:216)

Alam dunia berbeda dengan alam lainnya. Ia bukan surga sehingga tak mungkin manusia bisa senang dan bahagia terus-menerus di dalamnya. Ia juga bukan neraka, sehingga tak mungkin ia menderita terus menerus tanpa ada sedikit pun kesenangan.

Dunia adalah tempat dimana kesusahan dan kesenangan menjadi satu. Tempat suka dan duka berkumpul, tempat kehinaan dan kemuliaan membaur, keadilan dan kedzaliman saling mengalahkan.

Baca Juga :  Inilah Jejak Islam di Sumatera Barat

Orang-orang beriman bukannya tak mengalami sedih. Secara manusiawi, mereka juga akan ditimpa kesedihan. Tapi kesedihan itu tidak sampai membuatnya larut dalam keputusasaan. Cakrawala berfikirnya telah menyampaikan pada kesadaran, ”Ya beginilah hidup, kadang susah, kadang senang. Kadang di atas kadang di bawah.”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Ali Imran : 140)

Kenikmatan Iman dan Islam

Realitanya, musibah benar-benar datang di saat kita belum benar-benar mensyukuri nikmat islam. Maka kita pun merasa susah dengan musibah tersebut. waktu dan energi kita habis merisaukan dan mengeluh kesahi musibah yang kita hadapi.

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala masih melekatkan iman dan islam di dalam dada kita. Tapi kepalang tanggung. Islam dan iman itu selama ini terlanjur menjadi nikmat yang tidak kita anggap. Sehingga keberadaannya tak sanggup mencairkan beban musibah yang kita hadapi. Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan lagi, barangkali ada sisa kesadaran dalam hati.

Baca Juga :  Waspada Bahaya Orang Munafik

 Bukankah kami Telah melapangkan untukmu dadamu? Dan kami Telah menghilangkan daripadamu bebanmu. Yang memberatkan punggungmu? Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 1-5)

Hikmah adalah semacam P3K (Pertolongan Pertama Pada Kesusahan). Memang ia tidak menuntaskan masalah yang dihadapi seutuhnya, tapi setidaknya ia telah berhasil menyelamatkan kita dari keterpurukan, dari kesedihan yang tak berkesudahan, dari kesalahan mengambil pilihan, dari sifat putus asa yang menyebabkan kita jatuh pada cabang-cabang kekufuran.

Hikmahlah yang akan menuntun kita pada jalan keluar. Hikmahlah yang membuat kita fokus pada balasan yang dijanjikan Allah dari pada musibah yang kita alami. Kesediaan hati kita menerima hikmah itulah yang menyebabkan Allah subhanahu wa ta’ala berkenan memandang kita dengan rahmat dan kasih sayang.

Mengutip perkataan Ustadz Salim A Fillah ”Musibah itu mengecil bila dirahasikan, membesar bila dikeluh kesahkan, terurai bila diadukan kepada Allah dan akan merumit bila diadukan kepada manusia”. Wallahu A’lam Bishawab.

 Kontributor: Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.