Psikologi Pengantin
Sampul buku Psikologi Pengantin (Foto: sintayudisia.wordpress.com)

Buku: Psikologi Pengantin

Penulis: Sinta Yudisia

Penerbit: Indiva

Halaman: 200

 Suaramuslim.net – “Lelaki menikah berharap pasangannya tak pernah berubah. Perempuan menikah berharap pasangannya tak pernah berubah. Sayangnya, kedua belah pihak pasti kecewa.” (Albert Einstein)

Pernikahan membuka seluruh jati diri pasangan, dan jati diri kita pribadi. Dalam kejujuran hari-hari tanpa topeng terlihatlah dia tak segagah raja di pelaminan, dalam keseharian dia tak seanggun ratu di pesta pernikahan. Kecewa, marah, jengkel, gusar, lelah, sedih, segala macam rasa negatif muncul bergantian. Tumpang tindih, silih berganti, hari demi hari. Sebagian melampiaskan ke permukaan dengan bersikap agresif, sebagian menyimpan bertumpuk-tumpuk pikiran untuk diledakkan suatu saat.

Ada beberapa poin post wedding yang dibagikan penulis dalam buku Psikologi Pengantin yang perlu diperhatikan para pasangan.

Rumah Tinggal

Kamar pengantin tak dapat lama-lama ditinggali. Sehari, dua hari, sepekan, dua pekan, sebulan, dua bulan, mungkin setahun, dua tahun bersama orang tua sesudah menikah. Selanjutnya harus memilih; suami istri akan tinggal di mana?

 Rumah sendiri

Inilah pilihan paling ideal. Punya rumah sendiri, hasil keringat sendiri. Bersyukur pula bila Allah SWT memberikan anugerah orang tua berkecukupan sehingga setiap anak diberikan rumah tinggal.

 Rumah kontrakan

Mengontrak rumah sekejap rasanya. Bulan cepat berganti tanpa terasa genap 12 bulan dan otak harus memutar mencari biaya kontrakan. Bukan hanya biaya kontrakan, tapi juga rumah kontrakan, bila yang lama tiba-tiba tidak dikontrakkan lagi.

 Kos-kosan

Kos termasuk sarana yang ekonomis dan fleksibel untuk pasangan suami istri yang belum mendapatkan tempat tinggal. Kos juga pantas untuk suami istri yang masih melanjutkan pendidikan tinggi dan tidak mau direpotkan dengan pernak-pernik membereskan rumah. Memang, kos tidak akan sesuai bila pasangan mulai memiliki anak.

 Apartemen

Pastikan apartemen memiliki lingkungan yang nyaman dan aman, dengan harga yang disesuaikan ukuran penghasilan suami istri.

 Di rumah orang tua

Tinggal di rumah orang tua berarti perlu menimbang rasa pasangan. Pasangan akan ewuh pakewuh serba tidak enak ketika berada di rumah orang tua kita. Sekalipun pasangan berkata, orang tua kita adalah orang tuanya juga.

 Money Management

Sebagian besar kasus perceraian berpangkal dari urusan keuangan, begitupun perseteruan dalam pernikahan dipicu oleh masalah keuangan. First comes love, then comes money.

1. Siapa yang harus pegang keuangan?

Tidak ada aturan mutlak siapa yang harus pegang kendali utama, namun mengingat kebutuhan terbesar dari penyelenggaraan rumah tangga adalah biaya sehari-hari, istri yang cermat cukup tepat untuk menjadi manajer keuangan.

2. Cashflow dan Catatan Keuangan

Jejak pengeluaran harus terjabarkan dengan jelas. Bila di kemudian hari dianggap sebagai kekeliruan atau sedikit melampaui batas dapat dikoreksi. Jangan sampai besar pasak daripada tiang.

3. Sumber Keuangan

Seiring pencatatan cashflow, rencana pengeluaran, pos-pos anggaran; perlu ditelusuri penghasilan yang diperoleh bulan perbulan. Di bulan kemudian kemungkinan sumber keuangan akan berubah.

4. Utang Piutang

Utang piutang adalah perkara sensitif. Hubungan dengan kerabat, dengan teman, saudara, bahkan orang tua dapat berselisih bila terkait utang piutang.

5. Grand Design Keuangan

Sebuah keluarga memiliki desain besar keuangan. Menghabiskan penghasilan setiap bulan adalah perkara mudah, mengalokasikan untuk hal-hal penting itu yang sulit dan butuh perjuangan. Tak ada rumus yang betul-betul baku untuk menentukan manakah desain terbaik, walau demikian perkara primer perlu mendapat perhatian utama.

6. Harta dan Investasi

Harta dan investasi dalam sebuah keluarga merupakan cadangan yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari untuk kebutuhan mendatang yang datang tanpa terduga.

Kapan Punya Anak?

Anak menjadi beban, bila dipandang demikian. Anak adalah hiburan, bila dianggap demikian.

  1. Mumpung Masih Muda. Bersyukurlah saat mendapatkan jodoh di usia produktif. Kesehatan adalah modal utama dalam menjalani beragam aktivitas dan kesehatan prima terutama berada di usia muda.
  2. Ikuti Sunnah Rasulullah SAW. Dari Anas RA bahwa sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan menikah dan melarang membujang dengan larangan yang keras.
  3. Beri jarak yang sehat. Jarak yang sehat antara kakak dan adik sekitar 2 tahun.
  4. Belajar parenting. Tak ada kata terlambat untuk belajar menjadi orang tua yang hebat, pun tak ada kata berhenti untuk menjadi orang tua yang luar biasa.

 Stabilisator

Suami dan istri adalah pelengkap. Saling menyempurnakan. Saling mendukung. Menggenapi. Menutupi kekurangan satu dengan yang lainnya. Setiap pernikahan sesungguhnya justru menemukan hal terdalam dari pasangan yang tidak tampak oleh orang-orang di luar.

Bila tak ingin pernikahan berujung pada perpisahan atau perang dingin berkepanjangan, cobalah lakukan hal-hal simpel di bawah ini:

  1. Dengar
  2. Tatap
  3. Nafas
  4. Peluk
  5. Sentuh
  6. Bisik

Me-time

Sesungguhnya suami atau istri butuh waktu istimewa bagi dirinya sendiri untuk merenung, menyembuhkan diri, berbincang dengan diri sendiri. Me-time diharapkan menjadikan seseorang memiliki saat untuk being alone bukan being lonely. Boleh jadi suami atau istri memerlukan me-time dengan cara memasak, berbelanja, menanam bunga, mengerjakan hobi, berolahraga, dan lain-lain.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.