Repositioning: Membaca ulang posisi ICMI di masyarakat

Suaramuslim.net – Ada masa ketika nama besar sebuah organisasi cukup membuat orang menoleh. Hari ini, keadaan semua berbeda. Masyarakat mulai bertanya: siapa kita, dan manfaat apa yang benar-benar terasa dari kehadiran kita.

ICMI memiliki sejarah, jejaring, dan warisan kecendekiawanan yang kuat. Warisan itu perlu terus diterjemahkan agar tidak berhenti sebagai ingatan. Ia perlu hadir sebagai kejernihan, kepedulian, dan manfaat di tengah perubahan zaman.

Perubahan itu terasa semakin cepat sejak AI masuk di banyak sendi kehidupan. Cara orang bekerja berubah. Cara orang belajar ikut berubah. Cara orang menulis, mencari data, membuat keputusan, bahkan berdakwah juga mulai berubah. Informasi berlimpah, datang seperti air bah. Banyak, cepat, dan tidak selalu jernih.

Dalam situasi seperti ini, ICMI perlu membaca ulang posisinya. Arahnya tidak hilang. Sejarahnya juga tetap kuat. Justru karena ICMI punya sejarah besar, cara hadirnya perlu terus dibahasakan ulang, diadaptasi agar dekat dengan kebutuhan umat hari ini.

Posisi yang perlu dibaca kembali

ICMI lahir dari semangat besar para cendekiawan muslim. Ada iman, ilmu, kepakaran, dan pengabdian yang sejak awal menjadi napasnya.

Dalam Anggaran Dasar, ICMI diarahkan untuk mewujudkan masyarakat madani melalui peningkatan keimanan, ketakwaan, kecendekiawanan, dan peran cendekiawan muslim. Arah ini sebenarnya sangat kuat dan strategis.

Namun, arah yang kuat tetap memerlukan cara hadir yang tepat. Sebuah organisasi bisa punya sejarah panjang, struktur lengkap, dan nama-nama tokoh yang dihormati. Tetapi kalau masyarakat tidak lagi menangkap dengan jelas manfaatnya, secara berangsur jaraknya bisa terasa melebar.

Gagasan repositioning menjadi penting dan relevan dalam suasana seperti itu. Istilah ini memang lebih sering terdengar dalam dunia bisnis khususnya pemasaran.

Al Ries dan Jack Trout memperkenalkan positioning sebagai usaha menempatkan sesuatu secara jelas dalam pikiran atau benak orang lain. Dalam bahasa yang lebih sederhana, sebuah organisasi perlu bisa menjawab: ingin dikenal sebagai apa, oleh siapa, dan karena manfaat apa.

Untuk ICMI, pertanyaan itu juga penting. Hari ini ICMI ingin dikenal sebagai apa? Cukupkah sebagai organisasi cendekiawan yang bersejarah? Cukupkah sebagai forum silaturahim para tokoh? Atau ICMI ingin tampil dengan baju baru? Sebagai rumah besar yang memberi kejernihan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan manfaat di era AI?

Pertanyaan itu bukan untuk mengecilkan karya dan prestasi yang sudah ada. Ia membantu ICMI menata kembali bahasa pengabdiannya. Sejarah tetap menjadi pijakan. Tetapi masyarakat hari ini membutuhkan bentuk kehadiran yang lebih relevan: tulisan yang mencerahkan, program yang menyentuh, masjid yang makmur, anak muda yang didampingi, dan teknologi yang diarahkan untuk kebaikan.

Ketika informasi melimpah, kejernihan menjadi langka

Salah satu masalah zaman saat ini bukan karena informasi yang terbatas. Yang sering terjadi justru sebaliknya. Informasi terlalu banyak, tetapi perhatian manusia makin terbatas. Orang bisa saja menerima ratusan pesan dalam sehari, tetapi belum tentu memperoleh satu pemahaman yang jernih dan menenangkan.

AI mempercepat keadaan itu. Tulisan bisa dibuat dalam hitungan menit. Gambar, suara, video, dan opini bisa disebarkan dengan mudah. Banyak hal tampak pintar, tetapi belum tentu bijak. Belum tentu menenangkan. Banyak kalimat dan pesan yang sangat meyakinkan, tetapi belum tentu benar.

Dalam situasi ini, tugas cendekiawan menjadi sangat penting. Cendekiawan tidak cukup hanya mengetahui banyak hal. Ia perlu membantu orang lain untuk memilah. Mana yang penting, mana yang bising. Mana yang hak dan batil. Mana yang membawa manfaat, mana yang hanya menambah kegaduhan.

ICMI memiliki ruang yang luas untuk hadir di wilayah itu. Bukan sebagai hakim yang merasa paling tahu, tetapi sebagai sahabat umat yang membantu menjelaskan. Ada urusan pengangguran. Ada kegelisahan anak muda. Ada keluarga yang bingung mendampingi anaknya di era ketidakpastian. Ada masjid yang ingin hidup, tetapi belum menemukan model kegiatan yang pas. Ada masyarakat yang butuh literasi digital, tetapi takut untuk memulai.

Kalau ICMI mampu hadir dengan bahasa yang sederhana dan dekat, repositioning itu akan terasa. Orang tidak hanya “pernah” mendengar nama ICMI. Orang mulai merasakan kehadirannya.

Dari forum gagasan ke gerakan manfaat

ICMI memang dekat dengan gagasan. Itu kekuatannya. Banyak orang ICMI terbiasa berpikir, berdiskusi, membaca keadaan, dan menyusun pandangan. Namun gagasan itu perlu penyaluran, perlu jalan keluar. Ia perlu turun menjadi kerja yang bisa disentuh masyarakat.

Sering kali kita terlalu cepat menyusun program besar. Judulnya hebat, rencananya panjang, tetapi aksi dan pelaksanaannya berat.

Ke depan, mungkin kita perlu mulai dari hal-hal sederhana. Satu bidang, satu program kecil, satu manfaat nyata. Pekerjaan yang riil. Tidak perlu terlalu ramai, asal berjalan. Tidak perlu selalu megah, asal menyentuh.

Misalnya, ICMI daerah membuat kelas kecil AI untuk guru madrasah. Atau pendampingan menulis bagi remaja masjid. Atau klinik proposal untuk komunitas sosial. Atau forum bulanan yang membantu UMKM memahami teknologi. Atau tulisan pendek rutin yang menjelaskan isu publik dengan bahasa yang tenang, mudah dipahami.

Program seperti itu mungkin tidak terdengar besar. Tetapi kalau dilakukan konsisten terus-menerus, ia membentuk kepercayaan. Masyarakat akan melihat ICMI sebagai tempat bertanya, tempat belajar, dan tempat menemukan arah.

Pada pendekatan ini, ukuran sukses perlu dibaca ulang. Sukses tidak selalu berarti ruangan penuh, spanduk besar, atau publikasi gencar. Sukses bukan berarti foto kegiatan tersebar ke mana-mana. Sukses berarti ada orang yang terbantu. Ada yang puas. Ada pengetahuan yang berpindah. Ada anak muda yang lebih percaya diri. Ada masjid yang lebih hidup. Ada anggota yang mulai menulis. Ada program kecil yang membawa barokah.

Masjid, AI, dan kepedulian sosial

Masjid dapat menjadi salah satu pintu paling dekat bagi repositioning ICMI. Masjid sudah berada di tengah masyarakat. Ia dipercaya, dikunjungi, dan memiliki kedekatan emosional dengan umat. Kalau kunci masjid hanya dibuka untuk shalat 5 waktu, tentu sayang sekali. Di sana ada ruang belajar, ruang peduli, ruang pendampingan, dan ruang penguatan keluarga.

ICMI bisa membantu masjid membaca dan menemukan kebutuhan umat. Di satu wilayah, mungkin yang dominan dibutuhkan adalah pelatihan kerja. Di tempat lain, literasi digital. Di tempat lain lagi, pendampingan orang tua, kesehatan, ekonomi keluarga, atau pembinaan remaja.

AI bisa membantu menyiapkan modul, membuat bahan ajar, menyusun laporan, merapikan data peserta, dan menulis materi dakwah sosial.

Namun, sekali lagi, AI tetap alat. Ia tidak punya niat, tidak punya rasa, dan tidak bisa menggantikan keikhlasan. Yang mengendalikan dan memberi arah tetap manusia. Yang menjaga adab tetap manusia. Yang menimbang manfaat dan mudarat tetap manusia. Maka ICMI perlu memanfaatkan AI tanpa kehilangan kendali.

Kepedulian ini penting. Bahkan sangat penting. Saat ini banyak orang terlihat super sibuk, sehingga tidak bisa hadir untuk saling memperhatikan. Banyak grup percakapan ramai, seperti WA misalnya, namun grup ini tidak selalu menghadirkan kedekatan. Pesan bisa bertumpuk, tetapi kabar manusia di balik pesan itu kadang terlewat.

Yang hilang kadang bukan pengetahuan, melainkan perhatian. ICMI dapat mengambil posisi baru di sana: mengembalikan ilmu kepada wajahnya yang ramah, berguna, dan menenangkan.

Belajar, menulis, dan menyimpan pengetahuan

Peter Senge pernah menulis tentang organisasi pembelajar. Intinya: organisasi yang hidup adalah organisasi yang terus belajar. Bagi ICMI, repositioning tidak cukup dirumuskan dalam kalimat indah. Ia perlu menjadi kebiasaan belajar: membaca keinginan dan kebutuhan umat, mengevaluasi kegiatan, memperbaiki komunikasi, dan tidak ragu meninggalkan cara-cara kerja yang kurang efektif.

Nonaka dan Takeuchi mengingatkan bahwa pengetahuan organisasi perlu diciptakan, dibagikan, dan diolah menjadi manfaat.

Dalam bahasa ICMI, ilmu anggota tidak boleh berhenti di kepala orang per orang. Pengalaman kegiatan perlu dicatat. Pelajaran lapangan perlu ditulis. Praktik baik daerah perlu dibagikan. Kalau tidak, banyak hikmah menguap begitu acara selesai.

Budaya menulis menjadi penting. Cendekiawan yang tidak menulis akan mudah kehilangan jejak gagasannya. ICMI tidak harus menunggu tulisan panjang. Catatan pendek pun cukup. Satu halaman pengalaman kegiatan, satu opini ringan, satu panduan praktis, satu ringkasan hasil diskusi. Bila dilakukan rutin, tulisan-tulisan kecil itu akan menjadi rangkaian ingatan organisasi.

Mulai dari hal yang mungkin dikerjakan

Repositioning sering terdengar sebagai pekerjaan yang besar. Padahal ia bisa dimulai dari kebiasaan kecil. ICMI bisa mulai dengan satu pesan yang jelas. Satu program yang realistis. Satu tulisan yang terbit. Satu kegiatan yang dicatat. Satu masjid pilot project atau komunitas yang didampingi.

Tentu tidak semua hal harus selesai sekaligus. Yang penting ada gerak. Ada aksi. Bila pusat memberi arah, wilayah membaca konteks, daerah menjalankan program, satuan menyentuh masyarakat, dan Batom bekerja sesuai bidangnya, repositioning pelan-pelan akan menjadi pengalaman yang dirasakan.

Warisan memberi ICMI pijakan. Perubahan zaman memberi panggilan baru. Selama ilmu terus dibagikan, kepedulian dijaga, dan program sederhana dijalankan dengan sungguh-sungguh, ICMI akan tetap menemukan jalan untuk hadir.

Tidak perlu megah. Tidak harus selalu besar. Yang penting orang merasakan ada manfaat, ada arah, dan ada kebaikan yang tumbuh dari ikhtiar kecil yang dikerjakan dengan hati.

Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.