Sarjana Uighur yang Dipenjara Tiongkok Menangkan Penghargaan HAM Vaclav Havel
Ilham Tohti, seorang mantan profesor di Universitas Pusat untuk Kebangsaan di Beijing, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah hukumannya atas tuduhan "separatisme" oleh Pengadilan Rakyat Menengah Urumqi di Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur di Tiongkok barat laut (XUAR) pada 23 September 2014. (Foto: Radio Free Asia)

XINJIANG (Suaramuslim.net) – Seorang sarjana Uighur yang dipenjara sejak 2014 dianugerahi hadiah hak asasi manusia Eropa, sebuah penghargaan yang kemungkinan akan memicu kemarahan Beijing pada hari Senin (30/9).

Ilham Tohti, 49, menjalani hukuman seumur hidup atas tuduhan separatisme karena mengadvokasi hak-hak warga Uighur, minoritas Muslim di wilayah Xinjiang barat laut Tiongkok.

Penghargaan Hak Asasi Manusia yang diambil dari nama mantan presiden Ceko Vaclav Havel diberikan oleh Majelis Parlemen Dewan Eropa (PACE) untuk Tohti dan Inisiatif Pemuda untuk Hak Asasi Manusia (YIHR), sebuah kelompok yang dibentuk pada 2003 untuk membantu mendorong rekonsiliasi pasca perang di Balkan.

Kelompok-kelompok HAM mengatakan orang-orang Uighur telah mengalami penumpasan parah yang menyebabkan jutaan orang dimasukkan di kamp-kamp pendidikan ulang yang keberadaannya ditolak Tiongkok hingga saat ini.

Awal bulan ini, kantor kejaksaan di Xinjiang mengatakan satu dari lima penangkapan yang dilakukan di Tiongkok pada 2017 terjadi di wilayah tersebut, meskipun itu hanya mewakili dua persen dari populasi negara itu.

Baca Juga :  Pompeo Kecam Tiongkok Terkait Muslim Uighur Selama Kunjungan Ke Vatikan

Beijing sudah mengecam PACE bulan lalu karena menominasikan Tohti untuk hadiah Vaclav Havel, dengan mengatakan itu secara efektif “mendukung terorisme.”

“Hadiah hari ini menghormati satu orang, tetapi juga mengakui seluruh populasi dalam memberikan suara seluruh rakyat Uighur,” kata Enver Can dari Ilham Tohti Initiative, yang menerima penghargaan atas nama Tohti dalam sebuah posting Twitter sebagaimana yang dilansir VOA News.

Hadiah YIHR diterima oleh Ivan Djuric dari YIHR Serbia, yang memperingatkan tentang bahaya yang meningkat dari kebangkitan partai-partai nasionalis dan kebijakan di wilayah di mana perpecahan etnis sering berkobar menjadi kekerasan.

Liliane Maury Pasquier, presiden Majelis Parlemen Dewan Eropa, mengatakan di Twitter, “Untuk menghormati mereka (kedua pemenang hadiah), kami juga mengirim pesan harapan kepada jutaan orang yang mereka wakili dan untuk siapa mereka bekerja: hak manusia tidak memiliki batas.”

Reporter: Ali Hasibuan
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.