Kerusuhan di Wamena, Minang Menggugat Akan Geruduk Istana Presiden

Kerusuhan di Wamena, Minang Menggugat Akan Geruduk Istana Presiden

Kerusuhan di Wamena, Minang Menggugat Akan Geruduk Istana Presiden
Banyaknya masyarakat Sumatera Barat yang menjadi korban kerusuhan di Wamena, Papua, membuat Forum Awak Minang (FAM) melakukan konsolidasi akbar pada Ahad (29/9) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTPA) Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat. (Foto: Dok Pribadi)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Banyaknya masyarakat Sumatera Barat yang menjadi korban kerusuhan di Wamena, Papua, membuat Forum Awak Minang (FAM) melakukan konsolidasi akbar pada Ahad (29/9) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTPA) Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat.

Konsolidasi ini dilakukan dalam rangka melakukan unjuk rasa di depan gedung Istana Negara Jakarta pada 2 oktober 2019.

Aksi demonstrasi dan salat gaib dengan tema “MINANG MENGGUGAT” di depan istana negara Jakarta itu akan menuntut sejumlah hal.

Pertama, pencabutan gelar adat sako Gubernur Papua, Lucas Enembe. Kedua, Presiden, Kapolri, BIN, Menkopolhukam, Panglima TNI harus memastikan jaminan keamanan kepada orang Minangkabau di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketiga, meminta pemerintah untuk meminta maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Sumatera Barat. Keempat, menumpas teroris yang telah mengacaukan keamanan nasional di Papua dan Papua Barat. Kelima, meminta pemerintah menanggung seluruh kerugian materil dan imateril yang dialami masyarakat Minangkabau di Papua.

“Masyarakat Minangkabau saat pergi merantau, hadir menjadi bagian masyarakat egaliter dan tidak menciptakan kekacauan dan menyulut permusuhan baik di Indonesia maupun dunia. Tapi apa yang terjadi di Wamena, saat orang kampung kita dihilangkan nyawa, diusir, dan dihancurkan, sungguh perbuatan yang keji telah terjadi di Wamena,” tegas Koordinator FAM, Firdaus Nuzula dalam rilisnya kepada media.

“Selama ini orang Minang tidak pernah menganggu atau pun melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh di mana pun orang Minang berada, namun sekarang telah diusik dan kehilangan nyawa dan harta dan jika ini dibiarkan akan menjadi preseden buruk persatuan Indonesia yang tekenal dengan kasih sayang dan persaudaraan,” tambahnya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak mau orang Minangkabau menjadi korban kebiadaban kembali yang dilakukan oleh para perusuh.

“Kami orang Minangkabau ingin selalu hidup damai dan berkontribusi positif di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutupnya.

Reporter: Ali Hasibuan
Editor: Muhammad Nashir

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment