Suaramuslim.net – Industri fesyen secara global mengalami pertumbuhan positif. Kehadiran fashion designer milenial turut andil pada perkembangan tren industri mode di berbagai belahan dunia. Scarf, syal, dan pashmina, ketiganya termasuk fashion item yang belakangan menjadi perbincangan jagat maya. Tiga bahan itu biasanya dipakai sebagai selendang, penghangat leher, dan penutup kepala atau hijab. Meski sama-sama masuk kategori hijab fashion, namun ternyata baik scarf, syal, dan pashmina, ternyata punya perbedaan lho!

Pashmina

Burgundy pashmina. (Foto: ukpashmina.co.uk)
Burgundy pashmina. (Foto: ukpashmina.co.uk)

Fashion item satu ini sudah sangat populer khususnya bagi perempuan Muslim. Ya, pashmina yang biasa kita jumpai saat ini banyak digunakan sebagai hijab untuk berbagai keperluan seperti kerja, aktivitas sehari-hari, atau menghadiri acara formal. Istilah pashmina sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Persia ‘Pasmineh’, artinya bahan wol.

Wol yang dipakai untuk pembuatan pashmina terbuat dari bahan khusus, yaitu bulu kambing atau domba yang hidup di kawasan Persia, seperti India, Nepal, Pakistan, Afghanistan, dan Iran. Pembuatannya dilakukan melalui proses pemintalan tangan dan tenun.

Di era Masehi, pasmina dipakai sebagai lambang kemewahan. Bahan ini identik dengan busana kalangan elite. Mereka menggunakan bahan pasmina atau kasmir khusus untuk membuat syal atau scarf. Teksturnya begitu lembut karena dicampur bahan sutera dan menghangatkan.

Seiring popularitasnya ke berbagai belahan dunia, pasmina ternyata juga dipakai sebagai hijab fashion. Orang Indonesia menyebutnya dengan istilah jilbab pasmina. Masyarakat Indonesia mayoritas lebih suka jilbab pahmina berbahan satin. Ini karena tampilannya yang mengilat, sehingga mengesankan mewah dan elegan. Pasmina berbahan tyrex juga jadi andalan perempuan berhijab di Indonesia. Alasannya karena bahannya tidak licin dan mudah diatur, sehingga bisa dijadikan model hijab kekinian.

Scarf

Scarf (Foto: bungiestore.com)
Scarf (Foto: bungiestore.com)

Pada zaman Romawi kuno, scarf difungsikan sebagai kain penyeka keringat yang dikenal dengan sebutan sadarium (bahasa latin untuk kain penyeka keringat). Bangsa Romawi kemudian mengembangkan scarf menjadi mode busana aksesoris kaum pria. Mereka biasa memakainya dengan melilitkannya ke leher atau diikatkan ke ikat pinggang.

Menurut catatan sejarah, scarf awalnya terbuat dari kain biasa dari bahan kapas atau sutera, bukan wol. Fungsinya sebagai tanda pangkat tentara Kaisar Cina Cheng (Shih Huang Ti). Popularitas scarf secara masif terjadi sekitar abad ke-17 oleh tentara bayaran Kroasia. Di Prancis, warna scarf bahkan jadi penanda aliran politik si pemakai.

Scarf yang biasa kita jumpai saat ini umumnya berukuran kecil. Panjang dan lebarnya sama, membentuk persegi empat sama sisi, dimulai dengan ukuran sekitar 30 sentimeter, atau lebih. Bahan pembuatannya pun bisa dari shiffon, sutera maupun bahan kaus.

Scarf berukuran kecil dengan aneka motif biasa dipakai dengan cara diikatkan di leher atau dijadikan bando di kepala. Gaya ini dikenal di era 50-an, dengan sebutan ala perempuan pin-up. Sementara scarf berukuran lebih besar biasa digunakan sebagai penutup kepala yang kita sebut hijab segi empat. Salah satu kelebihan scarf terletak pada fleksibilitasnya. Kita bebas berkreasi dan menggunakan scarf di leher, pinggang, diikat di pergelangan tangan dan paha, dililitkan di tas, atau cukup diselipkan di saku belakang celana.

Syal

Louise Vuitton Shawl (Foto: theluxurycloset.com)
Louise Vuitton woll shawl (Foto: theluxurycloset.com)

Syal diambil dari bahasa Persia, berarti pakaian yang sederhana. Bentuknya biasanya persegi panjang atau kotak. Cara menggunakannya dibuat longgar mengelilingi pundak, leher dan kepala. Bahan syal terbuat dari wol. Di negara-negara 4 musim, syal umumnya terbuat dari bahan wol yang tebal. Proses membuatnya dengan cara dirajut membentuk persegi panjang. Saat musim dingin tiba, orang-orang mengenakan syal untuk menghangatkan badan. Kita juga bisa memakai fashion item satu ini ketika jalan-jalan ke puncak yang udaranya begitu dingin.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.