Inilah Semesta dalam Gerak Orkestra

Suaramuslim.net – Tadi malam (Rabu, 2 Mei 2018) saya berkesempatan hadir dalam peringatan 100 hari wafatnya om Berty, seorang seniman serba bisa. Bagi saya, perjumpaan dengan om Berti merupakan sebuah anugerah, meski terjadi secara kebetulan.

Saya dipertemukan dengan almarhum om Berty sebagaimana saya juga dipertemukan dengan sahabat saya almarhum Budi Londo. Om Berty dan Budi Londo, kini keduanya sudah beristirahat dengan damai, semoga keduanya khusnul khotimah.

Hal yang menarik malam ini dalam peringatan 100 hari, disajikan pameran lukis karya beliau dan diiringi dengan kelompok orkestra. Harmonisasi suara biola bas dan gitar disajikan secara apik sehingga membentuk bunyi yang indah. Terasa sekali sautan bunyi terangkai dalam ritme irama. Membentuk rangkaian nada yang indah nan mempesona.

Perpaduan rasa membingkai nada-nada menjadi harmoni yang indah. Alam semesta pun mendoa dalam alur selaksa kuasa semesta. Tautan rasa membingkai raga dalam satu sukma mewarna. Harmoni pun tercipta.

Alam Semesta Dalam Gerak Orkestra

Pusaran tautan malam dan siang, bergantinya hari dan bulan pertanda Tuhan sedang merangkai kuasanya. Tuhan membingkai perjalanan ciptanya dalam kuasa rangkaian nada-nada orkestra. Berjalan indah tanpa ada suara fals dalam alunan putarnya. Terangkai indah tersirat bahwa dibalik itu semua pastilah ada Yang Maha Indah.

Kemahaindahan Tuhan menyiratkan sebuah pesan bahwa Tuhan itu amat cinta dengan keteraturan, ketertiban serta kepatuhan terhadap sistem rangkaian yang indah. Begitulah sejatinya Tuhan mengajarkan tentang hidup yang terangkai menjadi nada-nada yang indah.

Baca Juga :  Nandur Pari Tukul Suket Teki

Orkestra menyiratkan sebuah makna, bahwa perbedaan bila dikelola dengan rasa yang indah, rasa yang saling menghargai perbedaan dan penghormatan terhadap keberadaan akan menghasilkan sebuah warna kehidupan yang damai. Orkestra adalah nada kedamaian.

Hidup sejatinya merupakan rangkaian dari berbagai macam manusia, rangkaian dari berbagai macam kepentingan. Rangkaian-rangkaian itu akan menjadi kuat dan terekat, bila dibentuk oleh satu rasa dan satu makna.

Nah kawan… Adalah sebuah kesedihan bila melihat rangkaian kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Masyarakat seolah telah kehilangan rasa perekatnya, bangsa ini menjadi terbelah. Nada-nada berbangsa membentuk suara sumbang, tak berirama, menistakan nada, dan berjalan dalam bingkai diri yang mematri. Kehilangan rasa berbudayanya, saling mencari celah, menebar fitnah dan prasangka, sehingga bangsa dirangkai dalam buaian laku nir etika.

Menjadikan Budaya Sebagai Bunyi Orkestra

Kita pernah punya pengalaman politik sebagai panglima, apa yang terjadi? Segala sesuatunya dirangkai dalam bingkai berdasarkan kepentingan dan cara, sehingga mengaburkan nilai dan kebenaran yang sejatinya.

Begitu juga hukum sebagai panglima, pada prakteknya hukum menjadi alat kuasa untuk menista mereka yang berbeda dan memenjara yang tak sama. Hukum pun tak mampu memihak kepada yang berhak, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Hukum menjadi rangkaian bunyi yang terasa parau dalam susunan kata-kata.

Baca Juga :  Jangan Potong Kepompong Anak-Anak Kita

Kebudayaan sebagai sebuah proses membangun nilai-nilai cipta dan rasa. Kebudayaan sejatinya menjadi oase dipadang tandus etika. Kebudayaan tak akan bicara menang dan kalah. Kebudayaan hanya akan membingkai perilakunya pada makna kebersamaan, makna keteraturan dan makna ketertiban serta kepatuhan. Kebudayaan sebagai panglima, sejatinya membangun harapan baru bagi masyarakatnya.

Di tengah bangsa yang tersungkur dalam bersyukur, mengingkar terhadap apa yang disebut dengan perilaku sabar, tampilah gaya politik Ken Arok yang harus saling bunuh saling meniadakan satu sama lain. Pancasila tak lebih sebagai deretan sila-sila tanpa makna. Semua mengaku paling Pancasila tapi tak mampu menjadi Garuda. Terbang tinggi gagah, mengayomi dan mengepak sayap melindungi raga bersama.

Ketika bangsa diwarna saling menista, tampilah wajah Pancasila berbentuk serigala, saling memangsa, mencengkeram, menerkam, memuaskan hasrat yang akal budi yang sekarat. Tak akan ada lagi yang bisa diharap, hukum dan politik tak berdaya membendung angkara. Kebudayaan mesti harus dihadirkan.

Kebudayaan sebagai penghalus akal budi dan rasa kemanusiaan, menjadi oase di tengah keringnya nilai-nilai, sehingga hadirnya para “empu” penjaga rasa berbangsa mutlak diharap takdir. Kebudayaan adalah orkestra. Sehingga menjemput takdir akan hadirnya sang orkestra adalah sebuah takdir dalam melukis Indonesia yang beradab.

Baca Juga :  Melihat Islamisme Melintas Zaman - Bagian 2

Keindahan orkestra merenda keadaban dan peradaban manusia yang saling menghargai dan menghormati dalam keteraturan laku dilukiskan oleh Allah dalam rangkaian ayat-ayat suci yang indah dalam surat As Sajdah ayat 4 -7.

“Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia, Maka apakah kamu tidak memperhatikan”.

“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”.

“Yang demikian itu, ialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa, Maha Penyayang”.

“Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”.

Semoga kita hadir ditakdirkan Allah menjadi perangkai nada orkestra, memendarkan cahaya kebudayaan sebagai panglima bagi gugusan pulau nusantara yang adil dan beradab. Amin

Selamat berkarya, semoga kita dihadirkan menjadi perenda nada yang mencipta orkestra, sehingga hidup terasa indah.

*Ditulis di Surabaya, 3 Mei 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.