Ilustrasi Hijrah. (Ilustrator: Ana Fantofani)
Ilustrasi Hijrah. (Ilustrator: Ana Fantofani)

“Setiap sebelum tidur, saya sering mendengarkan kajian-kajian yang tersaji di youtube, karena dari situ saya bisa istiqamah berhijrah, kalau tidak mendengarkan bisa balik lagi seperti dulu”

Suaramuslim.net – Anis, 21 tahun, mungkin sama dengan muda-mudi lainnya yang menikmati masa mudanya, ya pernah pacaran, ya pernah membuka hijab, ya pernah nongkrong unfaedah, dan segala hal yang dilakukan oleh anak muda kebanyakan, namun Anis memilih jalannya: hijrah.

-Advertisement-

Hijrah atau beralih dari perbuatan buruk untuk berbuat baik, atau seorang yang dulunya dikenal “korak” sekarang “qori’” bukan hal yang langka di era kekinian, banyak dijumpai di lingkungan sekitar. Mereka memilih untuk memperbaiki diri dengan cara dan ekspresinya masing-masing, meski masih banyak catatan tentang ekspresinya, mereka selalu semangat dalam mencari jati diri.

Hal itu yang terjadi kepada Anis, anak muda yang menginjak usia dewasa ini memilih jalannya untuk hijrah di saat sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.

Menjadi mahasiswa baru, Anis masih memakai baju hem, bercelana tidak menggunakan kaos kaki dan memakai jilbab pendek yang diselempangkan di pundaknya. Pun ketika Anis mengenal organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di kampusnya, masih sama, belum banyak berubah, meski Anis sudah mulai ikut kajian keislamanan yang diadakan oleh organisasi.

Baca Juga :  Indahnya Suasana Hijrah Fest

Seiring berjalannya waktu, pernah sekali, Anis mencoba menggunakan baju gamis saat kajian hari Kamis namun jilbabnya masih pendek. Besoknya di kajian yang sama, Anis menggunakan celana lagi, dari situ berbagai reaksi muncul dari kakak angkatannya, ada yang memuji juga banyak yang mencaci.

“Kalau kamu hijrah jangan main-main. Ya sudah bagus-bagus kemarin kok pakai celana lagi,” tegas kakak angkatannya.

Saat di rumah pun demikian, orang tuanya dengan nada meragukan, belum yakin bahwa Anis akan mantab untuk berpakaian secara syar’i.

“Beneran kamu pakai gamis, sudah yakin? Papa ragu sama kamu, besok-besok pasti dicopot lagi, tidak bisa istiqamah kamu itu,” ujar ayahnya.

Dengan nada memohon, Anis mencoba untuk meyakinkan ayahnya sembari berucap: “Semoga konsisten ya papa,” jawab Anis.

Kondisi Keluarga dan Lingkungan
Anis bukan lahir dari keluarga yang sangat Islami, meski ibunya dari Muhammadiyah dan ayahnya dari Nahdlatul Ulama (NU) baginya pendidikan Islam hanya didapat dari lingkungan sekolah saat kecil, seperti Taman Pendidikan Alquran (TPQ), kalau di rumah orang tua sebatas mengingatkan shalat.

Baca Juga :  Hakikat Hijrah dalam Islam

Saat SMP kemudian SMK Anis merupakan tipikal orang yang memiliki banyak pacar, hingga kuliah dihitung tidak kurang dari 20 laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya.

“Saya dulu memiliki banyak pacar, ya masih SMP, biasanya pacaran hanya untuk gaya-gayaan, namun saya jarang keluar rumah sama pacar, mungkin ada beberapa saja bisa dihitung, hingga sekarang tidak kurang dari 20 saya pernah pacaran,” ujar Anis.

Perjalanan Menuju Hijrah
Anis tipikal orang yang susah istiqamah, baginya perjalanan hijrah merupakan perjalanan yang sulit. Anis masih sering copot-ganti dalam berpakaian syar’i, begitu pun dengan kesehariannya.

Banyak yang mengatakan bahwa Anis hijrahnya hanya sebatas pakaian, belum hati maupun perbuatan. Dalam keseharian, gaya bicara Anis yang masih suka ceplas-ceplos, karena lingkungan keseharian dan kalau marah tidak pandang bulu, seperti lupa semua, membuatnya masih sering mendapat ejekan kakak tingkatnya.

“Kamu berhijrah hanya pakaian saja,” ujar kakak senior.

Menuju semester 5, Anis merasa bahwa hijrahnya masih setengah-setengah, belum sempurna, dia mencoba mengikuti beberapa kegiatan, salah satunya madrasah Islami yang diadakan kampus. Selain itu, saat kuliah ada salah satu dosen yang kalau mengajar sering memberikan pengalaman menuju hijrah.

Baca Juga :  Hijrah Kekinian di Zaman Milenial

“Dosen perempuan saya sering memberi pengalaman masa lalunya, dia SMA menjadi preman jalanan, suka bertengkar, kalau selepas sekolah, jilbabnya dibuka, kemudian dijadikan sarung tangan untuk meninju lawan, namun saat kuliah dia hijrah, dia memilih jalannya dan ingin berubah,” katanya.

Setelah mendengar cerita tersebut, dan diceritakan berulang-ulang, ditambah Anis sering mendengar kajian di Youtube, perlahan ia memperbaiki diri, namun jika lama tidak mendengarkan kajian, Anis merasa lemah iman.

Anak muda yang mengidolakan Ust Adi Hidayat, Ust Hanan Attaqi dan Ust Abdul Somad ini sangat terinspirasi dari ketiganya. Sering bila lemah iman, ia mendengarkan ceramah dari ketiganya, semangatnya kembali naik.

“Setiap sebelum tidur, saya sering mendengarkan kajian-kajian yang tersaji di Youtube, karena dari situ saya bisa istiqamah berhijrah, kalau tidak mendengarkan bisa balik lagi seperti dulu,” pungkasnya.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.