Ilustrasi Pelajar Sekolah. Ilustrator: Novitasari
Ilustrasi Pelajar Sekolah. Ilustrator: Novitasari

Suaramuslim.net – Mutu adalah mantra masyarakat industri yang ditandai -setelah ditemukannya mesin uap- oleh mass production seperti pabrik sepatu. Sesuatu disebut bermutu apabila sesuai dengan standar. Jadi mutu tidak berarti sama sekali tanpa standar. Standar adalah capaian kinerja yang dianggap memuaskan oleh sebuah komunitas yang secara sukarela menyepakati standar tesebut.

Persekolahan atau the school system sebagai kreasi kelembagaan dirancang pada awalnya untuk secara massal melahirkan tenaga kerja (dengan kompetensi standar) yang akan dipekerjakan dalam pabrik-pabrik skala besar.

Semula hanya anak laki-laki Inggris yang dikirim ke sebuah tempat untuk memperoleh “pendidikan.” Tempat ini kemudian disebut sekolah.

Sebelum sekolah paksa massal ini diadakan, warga muda belajar di rumah lalu magang ke tempat para tukang ahli untuk memperoleh keterampilan dalam suatu keahlian tertentu seperti pertukangan kayu atau pandai besi.

Setelah mencapai akil balig, dengan kecakapan produktif itu, para pemuda sudah cukup percaya diri untuk menikah dan hidup sebagai orang dewasa. Yang memiliki bakat akademik dapat melanjutkan ke universitas seperti Oxford atau Cambridge.

Tradisi universitas sudah ada jauh sebelum adanya sekolah. Praktik sekarang, yang mensyaratkan lulus SMA untuk bisa kuliah adalah syarat yang mengada-ada.

Begitulah sekolah dirancang sebagai sebuah pabrik seperti pabrik sepatu. Melalui persekolahan ini, pendidikan dikerdilkan menjadi sebuah proses indoktrinasi massal (dumbing down of peoples), bukan untuk membentuk kemampuan berpikir kritis, apalagi untuk membangun jiwa merdeka seperti yang diwasiatkan oleh Ki Hadjar Dewantoro.

Yang diiharapkan oleh birokrat pendidikan adalah lulusan yang patuh dan berdisiplin, cukup cerdas untuk bekerja tapi cukup dungu untuk menjadi pegawai.

Persekolahan tidak pernah dirancang untuk menyediakan syarat budaya untuk menjadi bangsa merdeka setelah kemerdekaan kita diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta.

Di dalam setiap sekolah yang keranjingan mutu, belajar diselenggarakan secara outside-in, supply-driven, seragam sesuai standar. Sebuah mekanisme inspeksi mutu ditetapkan. Namanya adalah Ujian Nasional. Semua anak mungkin belajar banyak sesuai standar, namun bukan untuk menjadi dirinya sendiri yang unik. Relevansi personal, spasial dan temporal bukan menjadi perhatian guru dan birokrat pendidikan. Belajar menjadi tidak bermakna bagi banyak anak.

Begitulah sihir mutu dimasukkan secara terstruktur, sistemik dan masif. Standar nasional ditetapkan. Makin menginternasional dikatakan makin baik. Jargon paling top adalah world-class. Begitulah standar ditetapkan sebagai instrumen penjajahan baru untuk melestarikan jiwa terjajah kita.

World ranking adalah mekanisme untuk membenarkan bahwa kita memang masih terbelakang. Kita boleh bertanya pada Menristekdikti, dengan mengimpor Rektor asing, kapan ranking ITB bisa menyamai MIT, atau UI bisa menyamai Harvard?*

Gunung Anyar, 3/8/2019
Daniel M Rosyid
Direktur Rosyid College of Arts & Maritime

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here