Sinau Bareng Cak Nun dari perspektif deep learning

Suaramuslim.net – Deep Learning sudah cukup lama menjadi salah satu pembicaraan penting dalam pendidikan Indonesia. Gagasannya mengarah pada pembelajaran yang lebih bermakna, reflektif, dan tidak berhenti pada hafalan (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025).

Jauh dari ruang kelas formal, Sinau Bareng Cak Nun sejak lama memperlihatkan cara belajar yang bergerak lewat dialog, pengalaman, dan persoalan hidup sehari-hari.

Istilah Sinau Bareng cukup sederhana. Sinau berarti belajar, bareng berarti bersama.

Dalam sebuah catatan di CakNun.com, istilah itu dijelaskan sebagai “pola atau cara” yang lahir dari paradigma berbeda dengan “belajar dari ekspert” (Redaksi, 2019).

Cak Nun tidak ditempatkan sebagai orang yang harus mengetahui semuanya. Dalam forum di Klaten pada 2019, ia mengatakan bahwa ada hal yang diketahui jamaah tetapi tidak ia ketahui, dan sebaliknya. Semua tetap berada dalam posisi belajar (Fadil, 2019).

Belajar tidak selalu seperti kelas

Di lapangan, Sinau Bareng memang tidak terlihat seperti kelas. Orang datang membawa macam-macam persoalan. Ada keluarga, pekerjaan, agama, kampung, politik, hubungan antarmanusia, atau kegelisahan yang sulit dimasukkan ke satu mata pelajaran. Percakapan bisa diselingi musik dan humor.

Fahmi Agustian pernah mencatat ada Sinau Bareng yang berlangsung enam sampai delapan jam (Agustian, 2018).

Yang penting tentu bukan lamanya.

Sebuah forum bisa berlangsung berjam-jam tetapi tetap tidak membuat orang berpikir lebih jauh. Sebaliknya, percakapan yang sebentar kadang membuat seseorang pulang dengan pertanyaan baru.

Kedalaman belajar rupanya tidak ditentukan oleh durasi, juga tidak otomatis datang karena istilah yang dibicarakan terdengar berat.

Soal seperti ini pernah diteliti Ference Marton dan Roger Säljö (1976). Ketika meminta mahasiswa membaca teks, keduanya menemukan perbedaan pada cara orang memproses apa yang dipelajari.

Ada pembaca yang lebih terpaku pada bagian-bagian informasi, sementara yang lain berusaha menangkap makna teks secara lebih utuh. Marton dan Säljö menyebutnya surface-level dan deep-level processing (Marton & Säljö, 1976).

Misalnya seorang mahasiswa membaca materi tentang kemiskinan. Pada surface-level processing, ia mungkin hanya mengingat definisi, angka, dan beberapa penyebab yang tertulis dalam buku.

Pada deep-level processing, ia mulai bertanya mengapa kemiskinan bisa bertahan, menghubungkannya dengan pengalaman masyarakat di sekitarnya, lalu mencoba melihat hubungan antara ekonomi, pendidikan, kebijakan, dan budaya. Materinya sama, tetapi cara mengolahnya berbeda.

Teori itu tentu tidak lahir dari Sinau Bareng. Cak Nun juga tidak pernah mengatakan bahwa forum yang ia jalankan mengikuti Marton dan Säljö. Tetapi ada satu hal yang mudah dipahami dari penelitian mereka: mengetahui isi belum tentu sama dengan memahami.

Dalam Sinau Bareng, pertanyaan yang kelihatannya sederhana kadang bergerak ke wilayah yang lebih luas. Soal keluarga bisa bersentuhan dengan ekonomi atau budaya. Persoalan kampung bisa membawa orang membicarakan sejarah, agama, bahkan kebijakan publik.

Tidak semua hubungan yang muncul harus dianggap benar. Ada yang perlu diperiksa lagi.

Belajar tidak selalu selesai ketika jawaban sudah ditemukan.

Ketika guru tidak memiliki semua jawaban

Masalah berikutnya menyangkut posisi orang yang dianggap lebih tahu. Dalam banyak ruang pendidikan, guru mudah ditempatkan sebagai pusat jawaban. Ia berbicara, peserta mendengar.

Paulo Freire sejak 1970 mengkritik pola semacam ini melalui istilah banking education. Murid digambarkan seperti wadah tempat pengetahuan disetorkan.

Dalam hubungan yang terlalu satu arah, pendidikan semacam ini berisiko merampas daya kritis peserta didik dan melanggengkan dominasi.

Freire kemudian menawarkan pendidikan dialogis dan problem-posing education. Realitas dihadirkan sebagai persoalan yang ikut dipikirkan peserta didik, bukan sekadar sesuatu yang dijelaskan kepada mereka (Freire, 1970).

Sinau Bareng tentu lahir dari jalan dan konteksnya sendiri. Tetapi cara peserta ditempatkan sebagai partner dalam menuntut ilmu membuat gagasan Freire terasa relevan untuk membacanya (Fadil, 2019).

Pada beberapa forum bahkan digunakan bentuk workshop. Peserta diminta berdiskusi, merumuskan pendapat, kemudian menyampaikannya kembali kepada forum (Mustofa, 2018).

Karisma seorang tokoh memang punya dua sisi. Ia bisa membuat orang datang, mendengar, dan tertarik belajar. Tetapi karisma juga bisa membuat proses belajar berhenti terlalu cepat apabila semua ucapan diterima hanya karena siapa yang mengatakannya.

Orang yang belajar lebih dalam tetap perlu mengolah apa yang didengar. Boleh setuju. Bisa juga bertanya lagi.

Ketika Sinau Bareng bertemu deep learning

Beberapa tahun terakhir, pendidikan Indonesia juga bergerak ke arah yang serupa dalam satu hal: belajar tidak cukup berhenti pada hafalan dan penguasaan materi.

Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam tahun 2025 menempatkan tiga prinsip sebagai dasar: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pengalaman belajarnya bergerak melalui memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Kerangka tersebut juga melihat manusia secara lebih utuh melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025).

Sinau Bareng tentu bukan Pembelajaran Mendalam versi Kemendikdasmen. Keduanya lahir dari konteks dan bentuk yang berbeda. Namun ada beberapa kesamaan yang sulit diabaikan.

Dalam Sinau Bareng, masalah yang dibahas biasanya dekat dengan kehidupan orang yang hadir. Dialog membuat peserta tidak sekadar duduk menerima penjelasan. Ada pula musik, kelakar, dan suasana yang lebih cair. Semua itu belum tentu menghasilkan pembelajaran mendalam, tetapi setidaknya membuka ruang agar orang mau terlibat.

Kedalaman baru mulai terasa ketika seseorang mencoba memahami apa yang sedang dibicarakan, melihat gunanya dalam kehidupan, lalu memikirkan kembali apa arti semua itu bagi dirinya.

Kadang satu pertanyaan yang baik bekerja lebih lama daripada penjelasan yang panjang. Ia tidak selalu langsung memberi jawaban, tetapi bisa membuat orang terus berpikir setelah forum selesai.

Dari situ, belajar tidak berhenti pada apa yang didengar saat itu, melainkan berlanjut ketika seseorang mencoba memahami sendiri apa maknanya bagi hidupnya.

Apa yang bisa dipelajari pendidik

Tidak semua kelas harus berlangsung berjam-jam. Tidak semua guru perlu memakai musik atau humor. Dan tentu saja guru tidak harus meniru gaya Cak Nun.

Yang lebih penting adalah memberi ruang agar murid tidak hanya menjadi penerima materi.

Apakah sebuah konsep selesai ketika definisinya berhasil dihafal? Apakah murid boleh bertanya lebih jauh, menghubungkan pelajaran dengan kehidupan, bahkan mengakui bahwa mereka belum paham?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini makin penting ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Mesin pencari dan kecerdasan buatan bisa memberi jawaban dengan cepat.

Tantangan pendidikan sekarang bukan sekadar membantu orang menemukan informasi, tetapi membantu mereka memahami, menimbang, dan menggunakan informasi itu dengan tepat.

Dalam tradisi Islam, belajar juga tidak berhenti pada membaca. Ada tadabbur: memberi waktu agar yang dibaca tidak hanya lewat di kepala. Sesuatu direnungkan, dicari hubungannya, kemudian dilihat kembali maknanya dalam kehidupan.

Cak Nun sendiri cukup dekat dengan bahasa cahaya. Kumpulan puisinya Cahaya Maha Cahaya terbit pada 1991 (Nadjib, 1991).

Di ujung pembicaraan tentang belajar, ungkapan Al-Qur’an “nurun ‘ala nur” — cahaya di atas cahaya, dalam QS An-Nur ayat 35, terasa punya tempat.

Cak Nun pernah menulis dalam puisi Cahaya Maha Cahaya:

“Hari pertama cahaya maha cahaya
Cahaya maha cahaya tak bisa dikisahkan
Bisa, mungkin. Tapi kita ini dungu
Ilmu kita tingkat serdadu”
(Nadjib, 1988/1991).

Ilmu membantu manusia melihat. Tetapi pengetahuan yang banyak juga bisa membuat orang takabur, merasa sudah memahami semuanya.

Manusia masih membutuhkan petunjuk agar ilmu membuat pandangannya lebih jernih, dan tidak membuat dirinya merasa paling tinggi.

Sinau Bareng seperti mengingatkan hal yang sebenarnya sederhana. Kita datang dengan apa yang sudah kita ketahui, mendengar pengalaman orang lain, lalu membawa pulang sesuatu untuk dipikirkan lagi.

Setelah itu kita belum selesai.
Kita tetap sinau.

Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.