Home Leisure Resensi Sisi Lain Pangeran Diponegoro Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa

Sisi Lain Pangeran Diponegoro Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa

0
Sisi Lain Pangeran Diponegoro Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa

Judul : Sisi Lain Pangeran Diponegoro Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : 2017
Tebal : 217 halaman

Suaramuslim.net – “Sisi Lain Pangeran Diponegoro” adalah buku penulisan sejarah yang memenuhi otoritas saintifik serta memiliki pendekatan populer sehingga bisa dinikmati kalangan sejarawan maupun awam (non sejarawan). Peter Carey sendiri adalah seorang peneliti sejarah yang sudah diakui dalam kepakarannya dan dikenal karena kekhasan pengetahuannya tentang Pangeran Diponegoro.

Latar belakang penulis, Peter Carey, adalah seorang YAD Adjunct professor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Peter pernah mengenyam pendidikan di Universitas Oxford (1961-1965) dan meraih penghargaan utama (First Class Honours) dibidang sejarah modern. Pada program masternya di Cornell University, dia memilih kajian dalam bidang Asia Tenggara. Khususnya pada perang jawa dan Pangeran Diponegoro.

Lewat wawancaranya dengan salah satu media, Peter menjelaskan adanya keterikatan batin dengan Pangeran Diponegoro, mulai dari kekagumannya melihat sketsa Mayor F.V.H.A Ridder de Stuers tentang Pangeran Diponegoro hingga perjalanan penelitiannya yang penuh makna dan magis selama berkeliling mencari sumber data.

Studinya tentang pangeran Diponegoro, Peter mengajukan alternatif rujukan yang berbeda dari penulisan norma sejarah saintifik yang seharusnya digunakan ilmuwan Barat.  Peter menggunakan babad sebagai sumber utama literasi sejarah. Babad sendiri adalah narasi pujangga untuk menuliskan istana dari zaman ke zaman. Ia adalah lambang otorisasi kekuasaan dan mempunyai kedudukan pusaka bagi keluarga dan keraton.

Baca Juga :  Ternyata Para Pejuang Kemerdekaan Ini Seorang Santri

Peter berpendapat bahwa Babad adalah sumber asli sastra sejarah Jawa dan sumber utama dalam penulisan sejarah meskipun penulis babad diperdebatkan penulis aslinya. Babad Diponegoro yang ditulis oleh sang Pangeran sendiri kini telah diakui sebagai naskah Ingatan Dunia (Memory of the World) dan terdaftar di MoW International Register dari UNESCO.

Peter Carey dalam buku ini tidak menggunakan Babad Diponegoro sebagai sumber rujukan melainkan Babad Kedung Kebo yang ditulis oleh dua orang yaitu Raden Adipati Cokronegoro I dan panglima Diponegoro, Basah Abdullatip Pengalasan. Babad Kedung Kebo memang mempelihatkan sisi lain Pangeran Diponegoro. Lewat kacamata Cokronegoro, Pangeran Diponegoro dianggap memiliki ambisi pribadi dalam melakukan perang jawa yaitu menjadi sang Ratu Adil, Sultan Eurocokro, Raja Jawa yang diramalkan oleh peramal Joyoboyo akan membawa kemakmuran dan keadilan.

Pangeran Diponegoro juga sangat terinsipirasi dengan kisah Bharatayudha dan arjunawiwaha. Ia menganggap dialah orang dalam ramalan Joyoboyo dan menyamakan dirinya dengan Arjuna sang Ksatria seperti dalam cerita Arjunawiwaha. Sedangkan Cokronegoro menganggap Pangeran didorong oleh nafsu belaka dan angkuh sehingga melaksanakan perang tidak tepat pada waktunya dan menghasilkan keluluh-lantakan bumi Jawa. Menurutnya cara terbaik memajukan bumiputera saat itu adalah lewat Belanda.

Hubungan Cokronegoro dan Pangeran Diponegoro

Bagian kedua buku ini terdapat penggambaran menarik mengenai hubungan Cokronegoro dan Pangeran Diponegoro. Kedua orang tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat sebelum perang Jawa. Mereka berdua pernah menjadi murid tasawuf Islam dari guru yang sama yaitu guru Taptojani asal Sumatera.

Baca Juga :  Ternyata Para Pejuang Kemerdekaan Ini Seorang Santri

Dalam budaya Jawa, orang dapat memiliki hubungan yang cukup kuat bila belajar pada guru yang sama. Penulisan Babad Kedung Kebo juga menggunakan kata yang akrab dalam memanggil Pangeran yaitu dengan sebutan “yayi mas” yang menunjukkan hubungan spiritual yang dalam diantara keduanya.

Mereka berdua berbeda sikap terhadap Belanda meskipun dalam perang tidak pernah berkonfrontasi langsung. Pangeran Diponegoro menghinakan bangsa belanda dan menganggap bangsanya dan agama Islam yang dianutnya memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding Belanda. Sedangkan cokronegoro cenderung menunjukkan kekaguman dengan gaya hidup bangsa Belanda. Selama perang ia membantu Belanda memandu jalan di daerah Bagelen untuk Belanda dan sekutu-sekutu Jawanya. Ia berhasil membuat senang Belanda dan  bangga digambarkan sebagai ‘seorang Belanda’ saat penyerahan tanda jasa.

Cokronegoro pada akhirnya ditunjuk Belanda menjadi bupati Purworejo, kota pelopor administratif modern. Lewat kepemimpinannya ia berhasil mengurangi dampak tanam paksa dengan sistem pengairan dan pembangunan infrastruktur yang maju. Lewat Cokronegoro dan keturunannya, Purworejo menjadi pelopor pusat kota modern di Jawa masa itu.

Bagian akhir buku ini, Peter Carey mengajak untuk membangkitkan kembali kota Purworejo lewat kekayaan historisnya agar bisa berjaya kembali. Peter mengatakan untuk memanfaatkan bandara kulonprogo sebagai peluang untuk memajukan kota tersebut.

Baca Juga :  Ternyata Para Pejuang Kemerdekaan Ini Seorang Santri

Saat membaca buku ini terasa ada kekosongan dalam mengulas pangeran Diponegoro dan kaitannya dengan agama Islam yang juga menjadi salah satu sumber motivasinya dalam peperangan. Hal ini juga diakui penulis bahwa peran Islam tidak dibahas secara rinci dalam buku ini.

Pangeran Diponegoro dalam buku ini digambarkan sebagai sesosok pangeran yang lekat dengan kebudayaan Jawa dan sangat terinspirasi pada kitab Bharatayudha, Arjunawiwaha. Sangat disayangkan, perspektif Islam yang tercitrakan dari tokoh-tokoh tersebut (Diponegoro dan Cokronegoro) tidak terbahas dalam buku.

Historiografi perang Jawa yang digunakan juga hanya berfokus pada latar belakang (awal mula) pangeran Diponegoro mengadakan perlawanan dan pembenaran Cokronegoro untuk memihak Belanda. Saya rasa tidak memenuhi ekspektasi pembaca bila ditambahkan historiografi perang Jawa karena tidak menggambarkan perang jawa itu sendiri, namun hanya berkisar pada sudut pandang Pangeran Diponegoro dan Cokronegoro dalam babad mereka masing-masing tentang sikap mereka terhadap perang Jawa. Lebih khususnya pada Babad Kedung Kebo dan tokoh Cokronegoro itu sendiri.

Untuk mengetahui lebih jauh perspektif Peter Carey dalam mengulas Pangeran Diponegoro, ada baiknya kita menyimak karyanya yang lain yaitu “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro” yang diterbitkan oleh gramedia pustaka. Mungkin bisa menjawab rasa penasaran yang belum terjawab terhadap sang Pangeran Diponegoro.

Kontributor: Yuthika Jusfayana
Editor: Oki Aryono

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.