Surat untuk Gancar Premananto
Ilustrasi seseorang memegang topi toga. (Foto: Dream.co.id)

Suaramuslim.netAssalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kang Gancar, senang membaca pos panjenengan tentang prestasi-prestasi Perguruan Tinggi di negeri kita.

Kang Gancar yang saya sayangi.

Suatu waktu saya juga pernah bersemangat menunjukkan hal-hal semacam yang panjenengan poskan itu. Apalagi kalau bukan urusan ranking, tulisan, riset, jurnal dan hal-hal hebat lainnya tentang perguruan tinggi kita ke seorang veteran perang kemerdekaan.

Tentu seperti juga panjenengan, saya begitu bersemangat menceritakannya, saking semangatnya bahkan saya sampai lupa bahwa yang ada di hadapan saya adalah seorang sepuh.

Beliau begitu sabar mendengar orasi saya, sampai pada satu waktu, beliau dengan mata sepuhnya menatap saya,
“Sudah selesaikah ceritamu nak?” Tanya beliau dengan lembut.

Saya jawab, “Sudah!”

“Tak ada lagi kah, cerita perguruan tinggimu yang ingin engkau ceritakan?” Beliau kembali bertanya dengan syahdu dan bibir bergetar.

Sekali lagi saya jawab, “Tidak.”

“Kalau begitu aku yg ingin bercerita tentang negeri ini,” ucapnya.

“Dulu kami tak punya apa-apa, tak secerdas dirimu, tak seluas pergaulanmu, tapi kami bisa ikut memerdekakan negeri ini. Kami cuma punya kejujuran dan keikhlasan.” Veteran tua itu sejenak, menerawang dalam tatap yang bermendung air mata.

Baca Juga :  Tiga Bekal Menjadi Guru Pendidikan Agama Islam

“Bolehkah bapak bertanya padamu?” Veteran itu sekali lagi menatap tajam mata saya, menusuk dengan ruh kemerdekaan yang ia miliki.

“Silakan pak!” Jawab saya dirundung minder dan malu.

Veteran itu menarik nafas panjang, menepuk-nepuk pundak saya, agar saya tenang dan takzim menerima pertanyaannya.

“Apa arti rangkingmu, apa arti tulisanmu, apa arti risetmu, apakah hal-hal itu telah membuat rakyat kecil hidup lebih baik?”

Saya tertunduk, melandai dalam batas bumi yang paling rendah, saya tak bisa menjawabnya. Saya telah mati dan dimatikan oleh belenggu angan-angan keilmuan yang tak membumi.

Veteran tua itu menempatkan tangannya di pundak saya, menekan tulang bahu saya. Suara lirih berwibawa terdengar menyampaikan pesan.

“Anakku, ada pesan dari Ki Hajar Dewantara yang pernah bapak dengar, beliau mengatakan, tak peduli sekolahmu dari anyaman bambu, namun jika ia menghasilkan orang yang peduli pada nasib rakyat kecil, itulah sekolah mulia yang dibutuhkan negeri ini!”

“Pendidikan itu untuk membangunkan kembali ruh kemerdekaan!”

Kang Gancar yang saya sayangi, mudah-mudahan ini menjadi pemantik hati kita untuk kembali pada kesyahduan ilmu, bukan pada gempita lomba pendidikan yang malah jauh dari peradaban pengabdian yang sesungguhnya.

Baca Juga :  Informasi dan Pendidikan

Wallahu a’lam.

Sekaligus dalam kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan, selamat menyambut kemerdekaan negeri kita yang ke 74.

Dirgahayu tanah yang kita cintai ini, semoga Allah memberkahi negeri ini, rakyatnya, guru-gurunya dan generasi selanjutnya.

Merdeka!!!

Kampus SB IPB Bogor
12 Agustus 2019
Salam, sahabatmu.
Yudha Heryawan Asnawi

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.