Uighur, dan Kita

37
Uighur, dan Kita
Muslim Uighur (Foto: iyaa.com)

Suaramuslim.net – Apakah seorang Muslim di negeri ini yang menyuarakan dukungan perjuangan, atau sekadar mengajak simpati atas nestapa warga Uighur, otomatis patut dicurigai kebangsaannya? Atau, dalam sebagian kasus, mereka itu mesti diragukan komitmen kemanusiaannya yang tulus?

Rasanya kita tak perlu berdebat tentang kebenaran adanya fakta kezaliman penguasa China pada masyarakat Uighur yang memeluk Islam itu? Dan kita anggap sepi semua pemberitaan, juga temuan hasil investigasi pelbagai lembaga internasional (di antaranya juga berlatar Muslim), lalu memandang semua laporan itu semacam konspirasi global?

-Advertisement-

Bahkan, ghirah untuk mencintai saudara seagama justru dipersoalkan, digugat, dan dianggap mencampuri urusan negara lain. Yang memintanya juga sesama anak negeri ini, hanya lebih mantap berada di putusan yang sejalan dengan rezim Beijing dan kroninya. Semua kepedulian pada mereka yang bersuara lantang pada nasib Uighur dianggap perpanjangan tangan konflik negeri di Timur Tengah.

Kasus adanya beberapa kombatan asal Uighur (kononya), akhirnya dijadikan argumen dan dalil kuat untuk mencibir sokongan sebagian saudara sebangsa kita yang tampil ingin membela soal nurani. Tapi, sesama anak bangsa lainnya, juga di sini, segera menyentak, “Yang kalian bela itu separatis!” Isu separatis menjadi demarkasi untuk menolehi ada tidaknya kepintaran kita jeli membaca kasus politik negara lain. Seakan perlu memeriksa apakah kepedulian kita melanggar batasan situasi di tempat yang bergejolak tersebut.

Baca Juga :  Mediasi GUIB Jatim Terkait Uighur dengan Konjen RRT Berakhir Deadlock

Uighur sejatinya soal yang tak perlu ribet dikait-kaitkan dengan soal politik dan geopolitik global. Juga soal persaingan dagang Washington dan Beijing. Lantas begitu kita peduli pada Uighur, sebagian saudara sebangsa kita menarik dan menuduh kita ada di kubu “sebelah”, kontra Beijing. Bahwa soal-soal besar itu ada, ya jelas dan pasti ada. Hanya, umat ini terlalu “pintar” untuk dihakimi dengan sematan yang lebih baik diganti dengan pencerahan bijak. Tidaklah aib membela Uighur kendati di sebalik itu ada soal perang dagang negara adidaya. Umat terlalu jauh memikirkan soal orang lain, sementara di pikirannya hanya terpaut dengan nasib saudara seimannya yang tengah dibantai.

Pun sebagian kita yang sudah “tercerahkan” dan kadang sesekali menasihati para ikhwan yang begitu gempita meneriakkan isu Uighur. Bilalah ada silap dan keliru dari emosi dan ghirah membela marwah umat ini, janganlah langsung disinisi. Cukup orang-orang yang getol teriak nasionalisme semua saja yang seperti itu polahnya. Memang kadang pembacaan sebagian umat kurang tajam dalam melihat kasus geopolitik di negara lain yang menempatkan Muslimin selaku minoritas. Sembari mengajak untuk lebih dingin dan luas berpandangan, kepedulian yang tinggi perlahan-lahan dialokasikan kepada gerakan yang lebih efektif melibatkan peran pemerintah kita. Betapapun bebal dan pura-pura tidak tahunya pemerintah.

Baca Juga :  Uighur, Napas Panjang Perjuangan

Argumentasi kita untuk membela umat Islam yang tertindas minoritas, sering kali dianalogikan perlakuan sebagian Muslim pada kalangan minoritas dari agama lain. Dan akhirnya pihak yang mengangkat soal ini dengan sudut pandang sentimen tersebut, tidak begitu respek pada setiap keaktifan perjuangan umat Islam. Kalangan semacam ini ada saja. Menjadi tugas dakwah membuat mereka paham bahwa kemanusiaan Muslimin tidak tersekat; tidak memilah dan memilih. Bahwa bila ada di lapangan kasus “seleksi” kepedulian, itu bagian dari keterbatasan umat dalam menghayati ajaran Islam. Bukan salah Islam apalagi umat secara kualitas di seluruh dunia.

Uighur sudah kasatmata tentang negeri yang pernah dihilangkan. Tak perlu dikaitkan dengan nasib Muslimin di Beijing atau anak asli suku sebangsa China. Ini tentang sejarah dan peradaban yang berbeda dan coba disembunyikan. Ada kekerasan HAM yang terjadi tapi tak mesti ditarik untuk dikomparasikan dengan Muslimin di tempat lain di negeri Tirai Bambu. Sangat tak adil menilai kebaikan suatu negeri dari cara pandang demikian. Pun kita percaya, China masih punya nurani pada Muslimin. Termasuk pada bangsa Uighur, meski bukti sejarah sukar didapati. Mereka pandir mencari kebijakan dari sejarah bangsanya yang panjang untuk sekadar berbagi tinggal dengan Muslimin Uighur yang juga korban kelaliman leluhur mereka dulu.

Baca Juga :  Jejak Muslim Uighur di China

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Yusuf Maulana
Pendaras pustaka lawas yang mencermati celah sejarah dan rembesan hikmahnya bagi umat manusia hari ini; pemilik Samben Library di Yogyakarta; menulis 10 buku, antara lain: Mufakat Firasat , Panggilan Bersatu, dan Seteru Berjamaah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.