Agenda Ijtima' Ulama dan Tokoh Nasional (foto: istimewa)

Oleh: Yusuf Maulana (Penulis Buku “Mufakat Firasat)

Orang sesaleh Abu Dzar pun dicegah Rasulullah untuk memegang jabatan. Apa pasal? Cara berpikir sosok Abu Dzar tak cocok untuk mengelola kekuasaan yang diemban. Abu Dzar punya sudut pandang dalam menilai politik, namun bila mengemban amanah ia mesti dicegah.

Kebajikan para ulama yang berhimpun pekan lalu untuk membincang calon penguasa bagi negeri ini, tak perlu diragui. Mereka punya cara pandang menilai siapa yang pantas memegang amanah rakyat negeri ini, yang ini mesti kita hargai. Hanya saja, dengan segala hormat, itu tak berarti mereka jadi sumber mutlak yang tak boleh digugat dalam proses pengambilan putusan.

UIama perlu didengar hujjahnya dalam memberi wejangan kepemimpinan. Pun bila mereka urun saran nama sesiapa yang pantas memegangnya. Akan tetapi, ini belum jadi hukum kepastian diraihnya kemenangan yang berpihak pada orang-orang saleh tersebut. Di sinilah mawas diri dengan berkaca pada integritas Abu Dzar diperlukan.

Politik sebagai cara mengelola amanah rakyat atau umat, dan politik sebagai medan kontestasi yang melibatkan juga orang-orang fasik dan kafir, mestinya dibedakan. Ini konsekuensi kehidupan bernegara yang plural dan bukan berdasarkan agama. Agama bukan berarti ditanggalkan. Apalagi dimusuhi hanya karena melawan ambisi para aktor politik. Agama memandu dan mengingatkan makna amanah yang ada di balik kekuasaan. Ia poros sebuah kekuasaan dalam bekerja. Pemuka agama dalam hal ini memainkan peranan ini.

Baca Juga :  Hadiri Ijtima' Ulama, PKS Yakin Partai Islam Tempati Posisi Atas di 2019

Tidak semata-mata menjadi juru nasihat, ulama perlu pula membaca situasi dan zaman. Agar kekuasaan tidak jatuh pada tangan yang salah. Agar kekuasaan tidak berujung pada nepotisme, korupsi, dan perbudakan agama belaka. Yang ujung semua itu rakyat dizalimi, agama pun dituding penuh benci. Di sinilah kepekaan para ulama untuk menoleh diri mesti ada; apakah ia memadai untuk mengukur calon yang maju dalam kontestasi ataukah sekadar penjaga fatsun siyasi yang dilakukan kalangan terdukungnya?

Barangkali ada banyak ulama yang juga paham strategi politik praktis. Ia diberikan oleh Allah kapasitas membaca zaman dan menunjuk sosok yang tepat membawa amanah banyak orang. Ia tak mesti diukur dari kesepuhan usia atau pengalaman di Medan politik belaka. Ia juga belum memadai dinilai dari banyaknya massa di majelis yang dibina. Ataukah semata-mata dari tampilan kiprah yang disorot jutaan mata.

Lakon menempatkan orang baik yang tepat menjalankan umat dapat hadir dari doa-doa orang saleh. Ia juga muncul dari kecerdasan orang ikhlas yang menekuni dunia strategi. Segala perantit Kiwari dikuasai; survei, media sosial, pengemasan opini dan kontra-intelijen. Seturut itu ia mampu memadukannya dengan asas-asas dalam agama ini. Ia tidak oportunis dan menyimpan hasrat memperkaya diri. Nah, sosok semacam inilah yang tak boleh diabaikan buat disimak. Ia bisa saja melekat dalam keulamaan seseorang. Bisa juga hanya pada segelintir orang yang belum dianggap ulama junjungan.

Baca Juga :  Sambangi Prabowo dan Salim Segaf, GNPF Ulama Serahkan Rekomendasi

Politik yang dihadapi muslimin Indonesia hari ini sesungguhnya membutuhkan kepekaan hati yang diselaraskan dengan ketajaman bersiasat. Tidak bisa hanya “lurus-lurus” saja untuk menyalurkan satu aspirasi meruntuhkan kekuasaan pendusta sekarang. Akan mudah terbaca taktik yang disusun rapi dan penuh rahasia apabila emosi dan dengki belaka yang diumbar. Shaf sesama eksponen barisan oposisi kekuasaan mestilah ditata lebih dulu. Berikutnya, membuka mata akal buat membincang penuh data dan kalkulasi matang. Bukan bincang emosional atas nama dan demi umat. Tidak salah memang hendak meruntuhkan kekuasaan sekarang. Tapi emosi sebagai pantulan ghirahe membela Islam itu ada baiknya dikonversi menjadi kepintaran bersiasat dalam mematahkan keangkuhan matematika yang mengunggulkan lawan.

Dalam posisi kuda hitam yang dianggap bakal kalah, ini kesempatan untuk menyusun barisan mengejutkan. Dan ini harus dari kesediaan saling mendengarkan. Memilih siasat dan strategi yang relevan untuk disukai rakyat kebanyakan. Toh aib dan cela penguasa lambat laun disingkap oleh kebenaran dari atas langit sana. Di titik inilah kerja-kerja ulama saleh berguna. Adapun soal strategi, ada kalanya perlu saling membuka dada agar tidak merasa kesalehan dirinya patut jadi ukuran.

Baca Juga :  Ijtima’ Ulama; Upaya Menapaki Jalan Wali Songo di Nusantara

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.