7 karakteristik orang beriman
Ilustrasi Lelaki Muslim. (Ils: msaifulhak/dribbble)

Suaramuslim.net – Banyak hadits sahih Rasulallah yang membahas tentang karakteristik orang beriman. Seseorang mungkin bertanya: Mengapa Rasulallah SAW menggambarkan karakteristik orang beriman? Jawabannya adalah: Karena manusia selalu menyanjung dirinya; manusia terus-menerus mengeluh tentang hidupnya, meskipun mereka mengagungkan kecerdasannya.

Pujian adalah bagian dari sifat manusia; orang mengaku bahwa ia adalah orang beriman, tetapi jika Anda membaca hadits sahih yang menyebutkan ciri-ciri orang-orang beriman, Anda harus membandingkan antara karakteristik tersebut dan diri Anda, dan mengetahui apa saja karakteristik ini ada pada Anda.

Sebagai contoh, jika seseorang mengaku bahwa ia memegang gelar s1 dari jurusan bahasa Inggris – ini adalah dugaan – lalu kita memintanya untuk membaca beberapa baris dalam bahasa Inggris, tetapi dia tidak bisa membacanya, lalu kita mengungkapkan sebuah ekspresi, tapi dia tidak paham, lalu kita memintanya untuk menulis dalam bahasa Inggris, tapi ia tidak bisa … ini menandakan bahwa ia berbohong telah lulus s1 dari jurusan bahasa Inggris, karena ia tidak bisa membuktikan pengakuannya.

Baca Juga :  Puasa dan Ampunan Allah

Ketika seseorang bangga mengaku ia orang beriman, maka ia hanya berkhayal. Karena orang yang benar-benar beriman seharusnya memiliki karakteristik tertentu.

Inti dari pelajaran kita saat ini adalah karakteristik dari orang-orang beriman, sebagaimana dinyatakan dalam Riyadhus-Shalihin, yang dianggap sebagai salah satu buku terbaik yang menggabungkan hadist sahih Rasulallah. Berikut ini adalah beberapa karakteristik orang beriman:

  • 1) Apapun kondisinya, orang beriman itu imannya tidak akan berubah

    Nabi Muhammad SAW berkata: “Urusan orang yang beriman itu sangat menakjubkan. Seluruh perkaranya baik. dan itu hanya milik orang yang beriman. Jika ia meraih kesenangan, ia bersyukur, dan itu kebaikan baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)


    Dalam keadaan lapang, kebanyakan orang memuji dan bersyukur kepada Allah, tetapi ketika mereka menghadapi masalah, banyak yang tidak mempercayai Allah dan mulai mengabaikan ibadah.

    Orang yang beribadah berubah sesuai perubahan kondisinya adalah bukan orang mukmin sejati, seperti yang dikatakan Nabi Muhammad (saw), dan peringatan Allah terhadap orang semacam ini:

    “Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai  orang-orang yang sabar” (3: 146; 33: 10-2; 33:23)

    Ini berarti: Jika tingkat keimanan Anda kepada Allah berubah, ibadah Anda, atau kelurusan Anda sesuai dengan perubahan kondisi dan status Anda, maka Anda akan menghilangkan kepercayaan Anda pada Allah, Padahal seorang mukmin sejati ditandai dengan penjelasan Nabi :

    “Jika kebajikan terjadi padanya, ia mengucap syukur untuk itu dan itu adalah baik baginya, Jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, ia bersabar dengannya, dan itu adalah baik baginya. ini tidak berlaku untuk siapa pun kecuali orang beriman.”


    Jika keadaan sudah berubah, Anda harus menyingsingkan lengan baju Anda dan memperbaharui iman Anda kepada Allah, karena seorang mukmin sejati tidak pernah berubah dengan perubahan keadaan.

    “Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi, maka jika dia memperoleh kebajikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia bebrbalik kebelakang. Dia rugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (22:11)


    Allah menguji orang-orang yang beriman dengan ujian dan cobaan yang sesuai.

    “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (29:2)


    Jika pasar dalam kondisi yang baik, Anda akan menemukan pedagang ceria dan senang, ia berbicara tentang Rasulullah (saw), dan ia berbicara tentang perbuatan baik. Tetapi jika kondisi pasar tidak baik, ia kehilangan semangat untuk melakukan hal yang sama dengan kondisi pasar yang baik. Seorang mukmin sejati seharusnya tidak terpengaruh oleh keadaan apapun, karena ia berhubungan dengan Pencipta alam semesta, ia berhubungan dengan Allah; ini adalah tawar-menawar pertama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.