3 Lupa Yang Dilarang dalam Al Quran

35
3 Lupa Yang Dilarang dalam Al Quran

Suaramuslim.net – Lupa merupakan fenomena yang biasa dialami manusia. Orang yang lupa berarti ia tidak sengaja, tidak ingat, atau tidak sadar akan sesuatu. Misalnya seseorang lupa menaruh barang, lupa password, atau lupa sedang puasa.

Seringkalinya manusia mengalami lupa sehingga memunculkan istilah “al-Insan Mahallu al-Khatha wa an-Nisyan” yang artinya manusia itu tempatnya salah dan lupa. Fenomena lupa ini pun juga tidak luput dari perhatian Islam.

-Advertisement-

Lupa yang sering dialami manusia ini, dalam cakupan hukum Islam, mendapatkan ampunan atau dimaklumi apabila seseorang lupa yang berakibat salah atau melanggar ketentuan-ketentuan. Misalnya puasa seseorang tidak batal meskipun ia makan apabila lupa.

Namun, di dalam Al Quran, ada beberapa lupa yang tidak dimaklumi alias dilarang. Artinya, seseorang tidak boleh lupa dalam beberapa hal seperti yang dijelaskan dalam Al Quran berikut ini.

Kata lupa dalam bahasa Arab adalah nasiya-yansa-nisyan-nasyan. Menurut Ibn Mandzur dalam kitabnya Lisan al-Arab menjelaskan makan nisyan berarti meninggalkan atau lupa. Kata lupa (nasyan) dengan segala bentuknya, seperti dikutip dari kitab Mu’jam Mufahros Li Alfadz al-Quran, disebut sebanyak 45 dalam Al Quran.

Di dalam Al Quran, makna nisyan bukan hanya berarti lupa, tetapi juga bisa melupakan, meninggalkan, atau lalai. Dari sekian banyak bentuk kata nisyan (lupa) terdapat tiga macam nisyan yang dilarang atau harus dihindari.

Lupa kebaikan orang lain

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Baca Juga :  Partai Setan Lupa Ayat, Partai Allah Ingat Ayat

Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, Padahal Sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, Maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Baqarah [2]:237)

Ayat di atas merupakan rangkaian dari ayat-ayat sebelumnya yang membahas mengenai perceraian. Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa suami tidak berkewajiban membayar mahar apabila ia menceraikan istrinya dan belum menggaulinya serta belum ditetapkan maharnya. Sedangkan di ayat ini, menguraikan bagaimana jika si suami sudah berhubungan badan atau sudah menetapkan maharnya.

Di akhir-akhir ayat, setelah pembahasan hukum tersebut, disebutkan “Janganlah kamu melupakan keutamaan diantara kamu”. Artinya perceraian merupakan perkara halal yang dibenci Allah atau peristiwa yang seharusnya tidak terjadi. Namun jika sudah terjadi, maka tetap menjaga hubungan baik dan tidak melupakan kebaikan-kebaikan yang ditimbulkan oleh keduanya selama masa nikah.

Wahbah Zuhayli dalam tafsirnya mengatakan bahwa dewasa ini, banyak pasangan yang bercerai lantas saling membuka kebobrokan dan aib masing-masing hingga melakukan fitnah. Di sini lah Allah mengingatkan bahwa pihak yang paling takwa ialah mereka yang memaafkan kesalahan dan tidak melupakan kebaikan-kebaikan mantan pasangannya sembari menjaga hubungan baik pasca cerai.

Di sisi lain, tidak melupakan keutamaan atau kebaikan orang lain merupakan hal positif yang mengantarkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada yang bersangkutan.

Baca Juga :  Inilah Sebab Makanan Berbahan Dasar Darah Haram Hukumnya

Lupa bagian dunia

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashsash [28]: 77)

Ayat ini, menurut Wahbah Zuhayli, merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yakni 5 nasihat yang diberikan kepada Qarun. Qarun merupakan kaum Nabi Musa yang dianugerahi harta berlimpah oleh Allah.

Kekayaan Qarun yang luar biasa, menurut Ibn Abbas dikisahkan kunci gudang Qarun sampai dipikul 40 orang-orang kekar, membuatnya menjadi takabbur sehingga ia diberi nasihat-nasihat sebagaimana yang tertera dalam ayat ini dan sebelumnya.

Salah satu nasihatnya adalah janganlah melupakan bagian dunia. Artinya jangan meninggalkan hak-hak yang diberikan Allah di dunia seperti makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, dan lain sebagainya. Dalam arti lain, seseorang boleh menikmati bagiannya di dunia selama itu tidak menghilangkan kenikmatan akhirat.

Al-Maraghi menambahkan bahwa segala sesuatu harus ditunaikan haknya sebagaimana manusia punya hak, keluarganya punya hak, pasangannya punya hak, dan lain-lain. Ini merupakan wasathiyyah (keseimbangan) dalam Islam sebagaimana perkataan Ibn Umar : “Bekerjalah untuk dunia mu seakan-akan kamu hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhirat mu seakan-akan kamu mati besok.”

Baca Juga :  Riba dalam Persepektif Al Quran

Lupa Allah (Agama)

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah [9]: 67)

Lupa ketiga adalah lupa kepada Allah. Lupa disini bisa berarti lalai atau sengaja meningglkan untuk mengingat Allah. Ini merupakan lupa yang jelas sekali dilarang, bahkan mereka yang lupa Allah maka Allah akan melupakan mereka.

Lupa jenis ini merupakan di antara tanda dari orang-orang munafik. Begitu banyak ayat yang serupa dan menggambarkan akibat dari lupa terhadap agama termasuk lupa Allah, lupa akhirat, dan lain sebagainya,

Balasan bagi mereka yang lupa Allah dan meninggalkan kewajiban-kewajiban syariat adalah Allah membalas lupa mereka. Salah satunya di hari kiamat nanti sebagaimana yang tertera dalam surah al-A`raf ayat 51 yang artinya “Maka pada hari kiamat, kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari (hisab) ini.

Demikian tiga lupa yang dilarang dalam Al Quran. Semoga kita dijauhkan dari lupa-lupa tersebut dan selalu berusaha untuk mengingat-ingat kembali terkhusus mengingat Allah atau dzikrullah. Amin.

Waallahu a’lam bi showab

Kontributor: Ahmad Yahya
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here