41 negara belajar ekonomi hijau di kaki Bromo dalam Summer School 2026 Sekolah Pascasarjana UNAIR Surabaya

PASURUAN (Suaramuslim.net) – Udara sejuk kaki Gunung Bromo menyambut kedatangan rombongan istimewa di Kabupaten Pasuruan. Rabu (22/7/2026), 162 mahasiswa dari 41 negara di berbagai belahan dunia tampak bersemangat menjejakkan kaki di sentra peternakan sapi perah lokal.

Kehadiran mereka bukan sekadar pelesir wisata, melainkan bagian dari perhelatan akademik internasional: The 6th Summer School 2026 Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

Mengusung tema besar “Strategies for Climate Adaptation and Disaster Risk Reduction from a Multidisciplinary Perspective”, program tahun ini membawa para akademisi global terjun langsung membedah praktik pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.

Salah satu titik labuh utama outing class tersebut adalah Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Di koperasi ini, para mahasiswa asing, perangkat daerah (OPD), dan peternak lokal melebur dalam ruang dialog bertajuk “Green Economy and Sustainable Industry”.

Mereka mengkaji langsung bagaimana peternakan rakyat mampu bertransformasi menjadi pilar ekonomi hijau yang tangguh menghadapi tantangan iklim.

Ketua Penjaminan Mutu Sekolah Pascasarjana UNAIR, Dr. Hariyono, menjelaskan bahwa program Summer School dirancang sebagai ruang intensif bagi mahasiswa pascasarjana untuk memperdalam bidang studi, berbagi riset, sekaligus merajut jejaring lintas bangsa.

“Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Sekolah Pascasarjana UNAIR dalam memperkuat peran sebagai School of Collaborative Leadership yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan kebijakan berkelanjutan di tingkat global,” ujar Hariyono di sela-sela kegiatan.

Suasana keakraban tampak kental di sela-sela kunjungan lapangan. Para mahasiswa diajak meninjau langsung pengelolaan peternakan sapi perah, sebelum akhirnya menikmati momen santai minum susu segar bersama. Sentuhan lokal ini rupanya meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta internasional.

Cavya, mahasiswi asal India, mengaku sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan ini. Ia tak menyembunyikan kekagumannya pada produk susu lokal produksi KUTT Suka Makmur yang dikemas modern.

“I really like matcha and original milk. It’s very delicious and tasty,” ungkapnya sembari tersenyum sumringah.

Swasembada susu dan kedaulatan gizi

Di tempat yang sama, Ketua KUTT Suka Makmur, Evi Zainal Abidin, menyambut hangat kehadiran delegasi global tersebut.

Ia menegaskan kesiapan koperasinya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penguatan swasembada susu segar dalam negeri.

“Kita siap mewujudkan ketahanan pangan nasional. Khususnya swasembada susu segar dalam negeri yang tentunya akan berkontribusi pada kedaulatan gizi nasional,” tegas Evi.

Evi juga menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Kabupaten Pasuruan sebagai destinasi utama studi lapangan internasional ini.

Menurutnya, kepercayaan tersebut membuktikan bahwa daerahnya menyimpan potensi kemajuan yang layak mendunia serta mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain di Jawa Timur.

“Ini pengalaman menarik, Kabupaten Pasuruan dipilih menjadi salah satu destinasi. Ini membuktikan Pasuruan punya banyak sekali kemajuan yang patut dikenalkan dan jadi inspirasi bagi daerah lain,” tambahnya.

Menutup hari di atas awan

Rangkaian kunjungan hari pertama tidak berhenti di kandang peternakan. Usai berdiskusi dan mencicipi susu segar Grati, para mahasiswa digiring menuju dataran tinggi Tosari. Di Pendopo Agung Wonokitri, mereka menikmati jamuan Gala Dinner berlatar kearifan lokal Tengger.

Dr. Hariyono meyakini, kombinasi antara edukasi lapangan hari ini dan keindahan alam keesokan paginya akan menorehkan memori kolektif yang tak terlupakan tentang potensi Indonesia di mata dunia.

“Hari ini kita minum susu bersama dan melihat peternakan sapi, esok pagi ke Bromo. Diharapkan semuanya akan mendapatkan pemahaman dan pengetahuan akan potensi yang dimiliki Kabupaten Pasuruan, dan punya pengalaman yang tak terlupakan saat datang ke Kabupaten Pasuruan,” pungkasnya.

Menjelang fajar menyingsing di puncak Bromo, pemuda-pemudi lintas bangsa ini bersiap menyaksikan langsung panorama the real sunrise of Bromo Mountain, sebuah penutup perjalanan intelektual yang menyatukan sains, alam, dan kehangatan lokal dalam bingkai persahabatan global.

Penyunting: Muhammad Nashir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.