Bayangkan Kalau Setan Mati

Bayangkan Kalau Setan Mati

Ilustrasi setan dan pohon. Foto: pixabay.com

Suaramuslim.net – Saya pernah merenung untuk melihat kekurangan dan aib diri, maksiat dan dosa, serta kelalaian saya dalam menunaikan kewajiban. Saya menghayal: Bayangkan kalau setan mati…!

– Apakah saya akan meninggalkan shalat jama’ah karena tidur atau sibuk?
– Apakah saya tidak khusu’ dalam shalatku?
– Apakah saya akan durhaka dan tidak berbakti kepada kedua orang tua?
– Apakah saya akan melalaikan tugas dalam pekerjaanku dan tidak mengerjakannya secara sempurna?
– Apakah saya akan menyia-nyiakan waktu dalam kelalaian dan mendengarkan musik?
– Akankah saya tidak membaca Al-Qur’an setiap hari?
– Apakah saya akan bertengkar dengan orang di sekitarku dan memarahi mereka hanya karena masalah sepele?
– Apakah wanita muslimah akan menanggalkan hijab penutup auratnya?
– Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya…!

Akan tetapi sebelum saya hanyut dalam pertanyaan-pertanyaan berikutnya, saya berhenti sejenak dan kembali ke logika sehat dengan merujuk kepada firman Allah dan hadits RasulNya. Saya bertanya-tanya, mengapa kita berdusta, menipu dan mengelabuhi diri sendiri? Yaitu dengan melemparkan semua kesalahan, kekurangan dan kelalaian kita kepada setan?

Bukankah Allah telah memberi kita pendengaran dan penglihatan untuk mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan melihat ayat-ayat alam semesta? Bukankah Allah telah memuliakan kita dengan akal untuk membedakan antara yang haq dengan yang batil, dan antara yang benar dengan yang salah?

Bukankah Allah telah membekali kita dengan kehendak untuk memilih perbuatan yang hendak kita lakukan, baik atau buruk? Setelah itu semua, tidakkah kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas baik buruknya setiap perkataan dan perbuatan yang kita lakukan?

Kita tidak boleh melupakan satu hakekat yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadits bahwa peran setan hanyalah memoles. Memoles kejahatan dan perbuatan dosa agar tampak menarik supaya orang melakukannya, dan memoles kewajiban dan ketaatan agar tampak buruk supaya orang meninggalkannya.

Setan tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk memaksa manusia melakukan kemaksiatan apapun, atau menghalanginya dari ketaatan apapun. Siapa yang berkeyakinan atau beranggapan selain itu, sejatinya ia telah berlaku zalim dan dusta terhadap dirinya sendiri.

Bacalah firman Allah swt:

(وَإِذۡ زَیَّنَ لَهُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ

“Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (dosa) mereka” (QS. Al-Anfal 48).

(قَالَ رَبِّ بِمَاۤ أَغۡوَیۡتَنِی لَأُزَیِّنَنَّ لَهُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِیَنَّهُمۡ أَجۡمَعِینَ)

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya”. (QS. Al-Hijr 39).

وَمَا كَانَ لِیَ عَلَیۡكُم مِّن سُلۡطَـٰنٍ إِلَّاۤ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۖ

“Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku…” (QS. Ibrahim 22).

Jadi, setan tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk memaksa kita melakukan atau meninggalkan sesuatu apapun. Ia hanya mampu memoles melalui satu pintu, yaitu pintu Nafsu Ammarah bis-sû’ (Jiwa yang banyak Menyuruh burbuat buruk) karena tidak di-tarbiyah (dibina) dan tidak di-tazkiyah (disucikan) dengan baik.

Oleh sebab itu, siapa saja yang menginginkan keselamatan dan kemenangan dunia akhirat, maka hendaklah ia men-tazkiyah, men-tarbiyah dan meng-ishlah (memberbaiki) jiwanya dengan gigih dan integral. Dengan begitu, ia telah menutup celah setan.

Alih bahasa: Fb Arwani Amin Supar

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment