Suaramuslim.net – Kita terlalu lama percaya bahwa sekolah yang baik akan cukup menyelamatkan masa depan. Belajar rajin, lulus tepat waktu, pegang ijazah, lalu masa depan terasa seperti akan terbuka pelan-pelan.
Dulu keyakinan itu terasa wajar. Hari ini sudah berbeda. Dunia kerja sudah berubah lebih cepat daripada yang sempat disadari banyak orang.
Reuters pada 13 April 2026 melaporkan peringatan Presiden Bank Dunia Ajay Banga. Dalam 10 sampai 15 tahun ke depan, sekitar 1,2 miliar anak muda di negara-negara berkembang akan masuk usia kerja. Sementara pekerjaan baru yang diperkirakan akan hadir hanya sekitar 400 juta. Ada jurang sekitar 800 juta pekerjaan. Angka seperti itu rasanya tidak pantas lagi disebut data biasa. Itu alarm tanda bahaya.
Bagi banyak lulusan lembaga pendidikan, masalahnya hari ini bukan sekadar ijazah. Ijazah tetap penting. Tetap berharga. Tapi dunia kerja hari ini tidak lagi berhenti pada pertanyaan, “Lulus dari mana?” Yang ditanya sekarang lebih dalam: bisa apa, siap belajar apa, dan seberapa siap menghadapi perubahan.
Dalam kajian ilmu ekonomi, keadaan ini dekat dengan teori Job Market Signaling dari Michael Spence (1973). Gagasan beliau: pendidikan dan gelar sering dipahami sebagai sinyal kualitas. Tapi ketika dunia telah berubah dan persaingan menjadi makin ketat, sinyal itu tidak lagi memadai. Orang lalu dilihat juga dari kemampuan nyata, pengalaman, cara berkomunikasi (soft skills), portofolio, dan daya adaptasi.
OECD dalam laporan Empowering the Workforce in the Context of a Skills-First Approach, terbit 24 Juni 2025, menjelaskan bahwa pasar kerja makin bergerak ke arah skills-first. Keterampilan yang benar-benar bisa dibuktikan kini makin dihargai, entah datang dari kampus, kursus, proyek, magang, atau pengalaman kerja.
Jadi dunia kerja hari ini tidak anti-ijazah. Ijazah tetap penting. Hanya saja, dunia kerja meminta bukti yang lebih utuh, lebih bermakna, daripada sekadar embel-embel gelar.
Ijazah sebagai bekal awal
Kita tidak memungkiri pentingnya ijazah. Ijazah tetap penting. Hanya saja, kita jangan lagi membebani ijazah dengan janji yang terlalu besar. Ijazah bukan jaminan. Ia hanya bekal awal.
Dalam siaran pers resmi Kementerian Ketenagakerjaan yang terbit pada 7 April 2026, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa kesempatan kerja tetap terbuka di tengah tantangan global, tetapi ada kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri.
Kalimat ini menarik. Sebab di situlah inti persoalannya. Peluang kerja tetap ada, tetapi bekal yang dibawa sering belum klop dengan kebutuhan dunia kerja.
Majalah TIME, dalam artikel “The Real Economics of AI and Jobs” (Februari 2026), justru mengingatkan bahwa perubahan pasar kerja hari ini tidak cukup dibaca sebagai persoalan teknologi semata.
Banyak hal ikut berubah: struktur skill, cara perusahaan menilai pekerja, kebutuhan belajar ulang, bahkan cara orang membangun karier. Jadi sekarang memang ada dunia baru yang sedang terbentuk. Dan dunia ini menuntut lebih dari sekadar gelar.
Mungkin di situlah banyak orang mulai limbung. Kita tumbuh dalam keyakinan lama bahwa gelar formal adalah tiket masa depan. Orang tua percaya itu. Sekolah juga percaya. Masyarakat pun terlalu lama percaya hal itu.
Maka ketika seseorang datang membawa ijazah, lalu dunia tidak segera memberi tempat, yang lahir bukan cuma kecewa. Tapi juga bingung.
Bayangkan seorang sarjana dari kampus bergengsi. Nilainya cum laude. Keluarga bangga. Foto wisuda diunggah. Ucapan selamat datang dari mana-mana. Tapi beberapa bulan kemudian, yang hadir bukan pekerjaan tetap, melainkan lamaran yang tak dibalas.
Dalam situasi seperti itu, yang goyah bukan cuma rencana hidup, tetapi juga harga diri.
Lalu ia mulai bertanya: apakah semua yang saya tempuh selama ini belum cukup?
Jawaban yang paling realistis: ijazah yang dimiliki cukup untuk memulai, tetapi belum tentu cukup untuk bertahan. Dan itu dua hal yang berbeda.
Dunia kerja sekarang lebih cair, lebih cepat, dan lebih banyak menuntut. Orang bisa saja punya ijazah, tetapi tetap perlu menambah skill baru, belajar berkomunikasi lebih baik, mengasah disiplin kerja, membangun portofolio, atau bahkan memulai dari jalur yang dulu tidak pernah dibayangkan.
Ijazah tetap penting. Tetapi ia tidak lagi bisa berjalan sendirian. Ia perlu ditemani kemampuan belajar ulang (reskilling), kesediaan menghadapi realitas baru, dan kerendahan hati untuk terus bertumbuh (upskilling).
Di sini kita tidak sedang mengajak orang pesimis kepada sekolah atau kampus. Juga bukan mau menyalahkan generasi muda. Ini cuma ajakan untuk bermuhasabah.
Dunia kerja hari ini memang sedang meminta sesuatu yang lebih dalam, lebih lengkap: bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kelenturan. Bukan hanya gelar, tetapi juga daya hidup.
Pada akhirnya, yang menjaga seseorang bukan hanya gelar yang pernah diraih, tetapi hati yang mau belajar, akal yang mau terbuka, dan jiwa yang tidak lelah untuk bertumbuh.
Orang yang paling siap menghadapi perubahan biasanya adalah mereka yang tidak merasa selesai dengan ilmunya.
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jatim

