Mencari bug di antara ibadah dan akhlak

Suaramuslim.net – Beberapa hari terakhir saya menemukan sebuah kutipan yang cukup menarik dan banyak beredar di media sosial.

“Jangan tertipu oleh shalat dan puasanya seseorang, tetapi lihatlah kejujuran dan kebijaksanaannya.”

Kutipan tersebut sering dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali. Saya mencoba menelusuri sumber aslinya, tetapi sampai tulisan ini dibuat belum menemukan rujukan primer yang dapat memastikannya.

Dalam dunia akademik, sumber perlu diverifikasi. Dalam dunia kehidupan, hikmah perlu direfleksikan. Karena itu, meskipun saya belum menemukan sumber primer yang memastikan kutipan ini berasal dari Imam Al-Ghazali, pesan yang terkandung di dalamnya tetap menarik untuk didiskusikan.

Kalimat itu sering dipahami secara ekstrem.
Seolah-olah salat dan puasa tidak penting.
Padahal bukan itu maksudnya.

Dalam Islam, shalat dan puasa justru merupakan fondasi utama hubungan seorang hamba dengan Allah. Tanpa fondasi yang kuat, bangunan kehidupan akan rapuh.

Namun di sisi lain, Islam juga mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti pada gerakan, bacaan, atau ritual semata.

Ibadah sejatinya menghasilkan perubahan perilaku. Harus menghasilkan akhlak.

Sebagai orang teknik, saya teringat pada konsep sederhana dalam teori sistem. Sebuah sistem selalu memiliki tiga komponen utama: Input, Proses, Output.

Shalat dan puasa adalah input.
Akhlak, kejujuran, amanah, dan kepedulian kepada sesama adalah output.
Idealnya, output tersebut berjalan selaras dengan kualitas input-nya.

Namun realitas kehidupan sering menghadirkan pertanyaan.

Mengapa ada orang yang rajin salat, rajin puasa, bahkan aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi masih mudah menyakiti orang lain?

Mengapa ada yang fasih berbicara tentang agama, tetapi kurang mampu menjaga amanah?

Mengapa ada yang tampak saleh di hadapan Allah, tetapi kurang ramah kepada sesama manusia?

Sebagai orang teknik, saya tidak langsung menyalahkan output. Saya terbiasa mencari penyebabnya. Mencari bug-nya.

Dalam ilmu sistem, input yang benar adalah syarat mutlak, tetapi belum cukup. Harus ada proses yang benar. Di sinilah letak bug yang sering tidak kita sadari.

Ibadah tidak cukup hanya dilakukan.
Ibadah harus dipahami.
Ibadah harus dihayati.
Ibadah harus dilaksanakan dengan ikhlas.

Proses inilah yang menghubungkan input dengan output. Karena itu, salat yang hanya menjadi rutinitas belum tentu mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Puasa yang hanya menahan lapar dan dahaga belum tentu mampu melahirkan kesabaran dan empati.

Bukan karena salat dan puasanya salah. Tetapi karena proses penghayatannya belum optimal.

Dalam dunia pemrograman, bug sering kali bukan berasal dari data masukan.

Bug juga tidak selalu muncul pada hasil akhir.
Bug sering tersembunyi di dalam proses.

Di dalam logika.
Di dalam algoritma.
Di dalam cara sistem bekerja.

Demikian pula dalam kehidupan. Salat dan puasa adalah input sistem. Akhlak, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama adalah output-nya.

Input yang benar adalah syarat mutlak, tetapi belum cukup. Diperlukan proses yang benar berupa pemahaman, penghayatan, dan keikhlasan agar ibadah benar-benar melahirkan akhlak yang mulia.

Maka ketika melihat seseorang yang rajin beribadah tetapi masih mudah menyakiti orang lain, jangan buru-buru menyalahkan ibadahnya.

Sebab salat dan puasa adalah ajaran yang sempurna. Yang perlu diperbaiki mungkin adalah proses di antara keduanya.

Pemahaman.
Penghayatan.
Keikhlasan.

Pada akhirnya, kesalehan tidak cukup hanya diukur dari hubungan vertikal kepada Allah. Dan akhlak yang baik juga tidak boleh dipisahkan dari ibadah kepada ALLAH. Keduanya harus berjalan bersama.

Hablum minallah yang kuat akan melahirkan hablum minannas yang hangat.

Karena dalam kehidupan, sebagaimana dalam teori sistem, output yang baik lahir dari input yang baik dan proses yang benar.

Salat dan puasa adalah input. Akhlak adalah output. Jika output belum baik, jangan buru-buru menyalahkan ibadahnya. Bisa jadi proses penghayatan di antaranya yang perlu diperbaiki. Wallahu a’lam.

Dr. Ir. Firman Arifin, S.T., M.T.
Dosen dan Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Bug adalah suatu error, cacat, atau kesalahan pada perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware) yang menyebabkan sistem tidak berfungsi atau tidak merespons sesuai dengan harapan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.