Ketika hidup semakin mudah, mengapa manusia justru semakin lelah?

Menghindari Majelis Bingung dan Cemas

Suaramuslim.net – Tiga puluh tahun lalu, hidup manusia jauh lebih berat dibanding hari ini. Orang-orang harus bekerja lebih keras, menempuh perjalanan lebih jauh, dan menghadapi keterbatasan dalam banyak hal.

Makanan tidak bisa dipesan hanya lewat sentuhan jari, komunikasi tidak secepat sekarang, dan mencari informasi membutuhkan waktu serta usaha.

Namun anehnya, banyak orang pada masa itu justru terlihat lebih tenang, lebih stabil, dan lebih mampu menikmati hidup.

Hari ini, hampir semua hal menjadi lebih mudah. Makanan datang dengan satu klik, pesan terkirim dalam hitungan detik, dan segala informasi tersedia di layar kecil yang selalu ada di genggaman. Teknologi berhasil membuat hidup terasa lebih praktis.

Tetapi di balik semua kemudahan itu, muncul masalah baru yang tidak kalah berat: manusia modern semakin mudah cemas, stres, dan kelelahan secara mental.

Mengapa bisa begitu?

Masalahnya bukan lagi sekadar beratnya hidup, tetapi derasnya arus yang masuk ke dalam pikiran manusia setiap hari.

Dalam satu hari saja, seseorang bisa melihat berita perang, kisah sukses orang lain, perdebatan tanpa akhir, masalah rumah tangga orang asing, gaya hidup mewah, hingga berbagai opini yang saling bertabrakan.

Semua itu masuk terus-menerus bahkan sebelum secangkir kopi habis diminum.

Otak manusia sebenarnya tidak diciptakan untuk menerima banjir informasi tanpa jeda seperti sekarang.

Akibatnya, banyak orang merasa lelah meskipun sebenarnya tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat. Tubuh mungkin sedang duduk santai, tetapi pikiran terus berlari tanpa henti.

Yang lebih mengkhawatirkan, manusia modern perlahan kehilangan kemampuan untuk menikmati ketenangan. Diam terasa membosankan. Duduk tanpa ponsel terasa gelisah. Bahkan berpikir secara mendalam menjadi sesuatu yang sulit dilakukan.

Hubungan sosial pun ikut berubah. Seseorang mungkin mengetahui kehidupan ratusan orang di media sosial, tetapi tetap merasa kesepian karena tidak memiliki satu orang pun yang benar-benar memahami dirinya dengan tulus.

Ironisnya, media sosial yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan manusia justru sering membuat banyak orang merasa semakin sendiri.

Karena itu, ketenangan sejati hari ini bukan lagi tentang memiliki lebih banyak hal. Bukan tentang terus mengikuti semua tren, informasi, dan kehidupan orang lain. Ketenangan justru lahir ketika seseorang mampu mengurangi kebisingan dalam hidupnya.

Mengurangi perbandingan sosial.
Mengurangi distraksi.
Mengurangi konsumsi emosi yang berlebihan setiap hari.

Kadang, nikmat terbesar yang dibutuhkan manusia zaman sekarang bukanlah hidup yang sempurna, melainkan pikiran yang tenang, hati yang damai, dan jiwa yang tetap dekat kepada Allah SWT.

Di tengah dunia yang semakin bising, kemampuan untuk menjaga hati tetap tenang mungkin menjadi kemewahan paling berharga.

Dr. Abdul Karim Al-Bakkar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.