Bersama Griya Al Qur’an, ROIS OJK Jawa Timur gelar kajian Hijrah: Pelajaran Muharram yang sering terlupakan

SURABAYA (Suaramuslim.net) – ROIS OJK Jawa Timur bekerja sama dengan Griya Al-Qur’an menghadirkan program KIBLAT (Kajian Islam Buat Talenta Hebat) pada Selasa, 23 Juni 2026. Kajian yang berlangsung selepas salat Zuhur di Lantai 3 Gedung OJK Jawa Timur ini menghadirkan Ustadz Marzuki Imron sebagai narasumber.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bapak Asep Hikayat selaku Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 2 OJK Jawa Timur, Bapak Hadi selaku pengurus ROIS OJK Jawa Timur, serta para pegawai dan keluarga besar OJK Jawa Timur yang antusias mengikuti kajian bertema Muharram dan spirit hijrah, yang juga diikuti via daring.

Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, jamaah diajak menelusuri kembali keutamaan bulan Muharram, sejarah hijrah Rasulullah SAW, hingga pentingnya menjaga identitas Islam melalui hal-hal yang sering dianggap sederhana namun sarat makna.

Kita sedang berada di salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ada empat bulan haram (bulan mulia), yaitu Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Bulan Muharram identik dengan Tahun Baru Hijriah. Namun sesungguhnya, Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali perjuangan, pengorbanan, dan kecintaan para pendahulu kita terhadap Islam.

Di awal kajian, Ustadz Marzuki Imron mengajukan pertanyaan sederhana kepada jamaah:

“Apakah Anda mencintai Islam?”

“Apakah Anda bangga menjadi seorang Muslim?”

Tentu seluruh jamaah menjawab, “Ya.”

Kemudian beliau melanjutkan,

“Salah satu bentuk cinta kepada Islam adalah mencintai segala hal yang melekat padanya, termasuk kalender Hijriah yang kita miliki.”

Beliau lalu bertanya lagi,

“Setelah Muharram, bulan apa?”

Sebagian jamaah serempak menjawab,

“Safar!”

Mungkin terdengar sederhana. Namun mengenal nama-nama bulan Hijriah merupakan bagian dari identitas dan kecintaan kita terhadap agama. Pengetahuan seperti ini semestinya diwariskan kepada anak-cucu kita agar tidak hilang ditelan zaman.

Ketika tradisi baik mulai dilupakan

Ustadz Marzuki menyinggung salah satu tradisi masyarakat yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan umat Islam, yaitu “Megengan”.

Dalam bahasa Jawa, istilah ini berasal dari kata “ngagengake” atau mengagungkan.

Sebagaimana:

Sarungan berarti memakai sarung.
Kopiahan berarti memakai kopiah.
Tahlilan berarti membaca tahlil.
Mengagengkan berarti memuliakan sesuatu yang agung.

Tradisi Megengan dahulu menjadi cara masyarakat menyambut datangnya bulan-bulan mulia dan mempersiapkan diri menuju Ramadan. Kini istilah tersebut perlahan mulai tergeser oleh berbagai istilah baru dan semakin asing bagi generasi muda.

Mengapa Madinah lebih cepat menerima Islam?

Menariknya, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, masyarakat Madinah justru telah lebih dahulu menunjukkan ketertarikan kepada Islam.

Mereka mendengar kabar tentang sosok Nabi akhir zaman yang sedang menghadapi berbagai tekanan di Makkah. Rasa penasaran itu tumbuh menjadi ketertarikan yang mendalam.

Pada musim haji, sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) datang menemui Rasulullah SAW secara sembunyi-sembunyi dan melakukan Bai’at Aqabah, sebuah janji setia untuk menerima dan membela Islam.

Peristiwa ini membuat kaum Quraisy semakin khawatir. Dakwah Islam yang mereka kira akan padam justru semakin berkembang.

Tekanan terhadap kaum Muslimin semakin keras. Hingga akhirnya para pemuka Quraisy mengadakan musyawarah darurat. Berbagai usulan muncul, mulai dari pengasingan hingga pemboikotan. Namun usulan yang paling ekstrem adalah membunuh Rasulullah SAW, dan rencana itulah yang kemudian disepakati.

Saat itulah Malaikat Jibril datang membawa perintah Allah agar Rasulullah segera berhijrah menuju Madinah.

Jangan putus asa dalam berdakwah

Ustadz Marzuki juga mengingatkan bahwa perjuangan dakwah tidak selalu membuahkan hasil yang cepat. Nabi Nuh AS berdakwah selama sembilan abad, namun hanya sedikit yang menerima ajakannya.

Rasulullah SAW pun mengalami fase yang sama. Pada masa-masa awal, orang yang beriman kepada beliau hanya segelintir orang, bahkan sebagian besar berasal dari keluarga dan sahabat terdekat.

Karena itu, para pengurus masjid, aktivis dakwah, guru ngaji, maupun pegiat majelis taklim tidak perlu berkecil hati apabila suatu kegiatan belum dihadiri banyak orang.

Yang dinilai Allah bukan hanya hasilnya, tetapi juga kesungguhan dan istiqamah dalam berjuang.

Mengapa Tahun Baru Islam dimulai dari Muharram?

Pada masa awal Islam, masyarakat Arab belum memiliki sistem penanggalan resmi. Mereka biasa menandai tahun berdasarkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi.

Ketika wilayah Islam semakin luas, kebutuhan akan sistem administrasi yang lebih tertata menjadi semakin mendesak.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, muncul usulan untuk menetapkan kalender resmi umat Islam. Salah satu pemicunya adalah surat dari Gubernur Basrah, Abu Musa Al-Asy’ari, yang mengeluhkan banyaknya surat resmi tanpa tanggal sehingga membingungkan administrasi pemerintahan.

Melalui musyawarah para sahabat, akhirnya disepakati bahwa peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dijadikan titik awal penanggalan Islam.

Adapun Muharram dipilih sebagai bulan pertama atas usulan Utsman bin Affan karena datang setelah kaum Muslimin menuntaskan ibadah haji pada bulan Zulhijjah, sehingga dianggap sebagai awal yang tepat untuk membuka lembaran baru.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan menuju keadaan yang lebih baik. Dan semangat itulah yang setiap tahun dihadirkan kembali melalui datangnya bulan Muharram.

Intisari Kajian Islam buat Talenta Hebat (KIBLAT) Griya Al Qur’an di Kantor OJK Jawa Timur bersama Ustadz Marzuki Imron, Selasa 23 Juni 2026 – Undang KIBLAT 085732160050 (Rosi).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.