SURABAYA (Suaramuslim.net) – Di tengah dinginnya pagi Kota Surabaya dan padatnya lalu lintas yang harus ditempuh para peserta, semangat mencintai Al-Qur’an justru terasa begitu hangat di lingkungan SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.
Sebanyak 73 lembaga TK dan Kelompok Bermain (KB) ‘Aisyiyah se-Kota Surabaya berkumpul dalam Lomba Tahfidz Guru yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kota Surabaya, sebagai bagian dari rangkaian Milad ‘Aisyiyah ke-109.
Namun kegiatan ini bukan sekadar perlombaan mencari juara. Lebih dari itu, ia menjadi ruang pembinaan, evaluasi, dan penguatan kecintaan terhadap Al-Qur’an bagi para pendidik yang setiap hari membentuk karakter generasi masa depan.
Dalam kegiatan ini, Griya Al Qur’an dipercaya menjadi mitra pelaksana sekaligus menghadirkan enam asatidz sebagai dewan juri. Kehadiran para pengajar tersebut tidak hanya bertugas memberikan penilaian, tetapi juga memberikan catatan, masukan, dan evaluasi yang dapat menjadi bekal bagi para guru untuk terus meningkatkan kualitas bacaan dan hafalannya.
Menariknya, usai perlombaan banyak peserta yang secara khusus meminta catatan penilaian dari dewan juri. Fenomena ini menunjukkan bahwa semangat belajar para guru jauh lebih besar daripada sekadar mengejar gelar juara.
“Kemenangan sejati bukanlah piala yang dibawa pulang, melainkan bertambahnya kedekatan kita dengan Al-Qur’an,” demikian semangat yang disampaikan oleh panitia dan peserta sepanjang kegiatan berlangsung.
Guru Qur’ani, fondasi generasi Qur’ani
Selama ini banyak program Al-Qur’an berfokus pada peserta didik. Padahal, kualitas pendidikan Al-Qur’an di sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas guru yang mendampinginya.
Karena itulah, pembinaan Al-Qur’an bagi guru memiliki dampak berlipat. Ketika seorang guru memperbaiki bacaannya, memperkuat hafalannya, dan semakin dekat dengan Al-Qur’an, maka nilai-nilai tersebut akan mengalir kepada ratusan anak yang dibimbingnya selama bertahun-tahun.
Ketua PD IGABA Surabaya, Ibu Rini, menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini bukanlah kompetisi semata.
“Juara bukan tujuan utama. Yang paling penting adalah bertambahnya kecintaan kita kepada Al-Qur’an, menjadi berkah dalam keseharian, dan menjadi ikhtiar bersama dalam mewujudkan generasi Qur’ani,” ungkapnya.
Griya Al Qur’an: Membumikan Al-Qur’an untuk semua kalangan
Keikutsertaan Griya Al Qur’an dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen yang lebih besar untuk menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Selama ini Griya Al Qur’an dikenal sebagai pelopor program belajar Al-Qur’an untuk orang dewasa. Namun kiprahnya tidak berhenti di ruang kelas.
Berbagai program pembelajaran, tahsin, tahfidz, kajian keislaman, pendampingan komunitas, kelas privat, hingga pengiriman pengajar ke sekolah, kantor, perusahaan, dan majelis taklim terus dikembangkan sebagai bagian dari ikhtiar membumikan Al-Qur’an.
Dengan semangat berdiri di atas semua golongan, Griya Al Qur’an membuka ruang kolaborasi bagi lembaga pendidikan formal maupun nonformal, komunitas, perusahaan, hingga keluarga yang ingin memperkuat budaya Qur’ani di lingkungannya.
Sebab membangun generasi Qur’ani tidak cukup hanya dilakukan oleh siswa. Guru, pengurus sekolah, komite, orang tua, bahkan lingkungan kerja perlu bertumbuh bersama dalam naungan nilai-nilai Al-Qur’an.
Dari lomba menjadi gerakan
Kegiatan tahunan yang telah berlangsung sejak 2018 ini menjadi bukti bahwa pembinaan Al-Qur’an membutuhkan konsistensi. Bahkan ketika pandemi melanda, semangat tersebut tetap dijaga melalui pelaksanaan secara virtual.
Hari ini, ketika para guru kembali berkumpul dalam satu majelis, yang tumbuh bukan hanya hafalan dan kualitas bacaan. Yang tumbuh adalah harapan.
Harapan bahwa semakin banyak sekolah yang tidak hanya melahirkan siswa cerdas, tetapi juga menghadirkan guru-guru yang dekat dengan Al-Qur’an. Sebab dari tangan para guru Qur’ani itulah akan lahir generasi yang mencintai Al-Qur’an, menjadikannya pedoman hidup, dan meneruskan cahaya kebaikan kepada masyarakat yang lebih luas.
Karena sesungguhnya, setiap ayat yang diajarkan seorang guru kepada muridnya adalah investasi peradaban yang pahalanya akan terus mengalir sepanjang masa.
Pewarta: Fachrurrosi
Penyunting: Muhammad Nashir

