Suaramuslim.net – Momen liburan selalu dinanti-nantikan. Terlebih bagi anak-anak. Meskipun demikian, alih-alih hanya diisi dengan bersantai saja, sebaiknya diisi dengan beragam aktivitas positif yang mengasah keterampilan.
Karenanya, lembaga Amil zakat dan wakaf nasional Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF) mengadakan program Nanda Cerdas Peduli (NCP). Selama tiga hari dua malam, pada 1-3 Juli 2026, YDSF mengajak puluhan anak mengikuti Qur’anic Camp di hutan pinus Alas Veenuz, Trawas, Mojokerto.
Para peserta diajak menikmati nuansa alam dengan berkemah di alam terbuka. Tak sekadar itu saja, pada kesempatan tersebut, anak-anak dengan rentang usia 6 hingga 15 tahun ini mengikuti program pembinaan karakter yang sarat akan nilai-nilai Islami.
Aktivitas-aktivitas yang dilakukan, diharapkan dapat menjadi pembelajaran dan menambah pengalaman mereka.
Tak sedikit dari peserta yang awalnya merasa canggung. Seperti Kaira, misalnya. Saat berkumpul di area kantor YDSF, ia sempat terlihat malu-malu. Dipandanginya truk TNI AL yang berjajar, yang beberapa saat kemudian diketahuinya ternyata menjadi kendaraan yang mengantarkannya ke lokasi berkemah.
Sebagai seorang anak yatim, ia tak terbiasa bepergian jauh tanpa keluarga, raut keraguan jelas tergambar di wajahnya. Namun, kecanggungan itu perlahan luruh ketika seorang anak sebaya menghampiri, tersenyum, dan mengulurkan tangan untuk berkenalan.
Sapaan sederhana itu menjadi pemecah es yang membawanya masuk ke dalam hangatnya kebersamaan selama tiga hari selanjutnya. Rasa asing berubah menjadi tawa lepas.
“Awalnya belum mengenal teman-teman yang mengikuti kegiatan ini. Setelah dua hari berada di sini, sudah semakin akrab, bisa mengenal lebih banyak teman, mengetahui nama-nama mereka, dan menjalin pertemanan dengan siapa saja,” cerita Kaira dengan raut bahagia.
Senyum Kaira menjadi satu dari puluhan senyum anak yatim dan dhuafa yang mengikuti kegiatan tersebut.

Agenda ini secara khusus dihelat untuk memperingati libur sekolah sekaligus Tahun Baru Islam 1 Muharram, atau yang dikenal di masyarakat luas sebagai istilah Lebaran Yatim. Momentum ini diambil untuk merefleksikan kembali teladan Rasulullah saw.
Menariknya, YDSF tidak hanya memberangkatkan anak yatim dan dhuafa. 80 Peserta NCP tahun ini juga mengajak para donatur cilik untuk berbaur dalam satu lokasi kemah. Keterlibatan ini didesain sebagai edukasi interaktif bagi para donatur cilik, agar mereka melihat dan memahami wujud nyata dari uang yang selama ini mereka donasikan.
Mereka belajar secara langsung bahwa sedekah tersebut digunakan untuk membahagiakan teman-teman sebaya yang memiliki nasib kurang beruntung.
“Senang sekali bisa mengikutkan anak saya, selain karena untuk mengisi liburan, ada kegiatan bermanfaat dari YDSF untuk mengenal alam, bersosialisasi dengan teman, hingga mempelajari Al-Qur’an,” ungkap Kartika, orang tua dari donatur cilik Khansa dan Kiara.
Selain menanamkan nilai empati, percampuran peserta dari berbagai latar belakang ini juga bertujuan melatih daya kembang sosial anak. Mereka dituntut untuk berinteraksi lebih luwes.
“Kegiatan ini untuk membangun kedekatan antar sesama peserta. Kami juga ingin menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui cara yang menyenangkan dan dekat dengan alam,” ujar Muhammad Nasrulloh, Manajer Kemitraan YDSF Cabang Surabaya.
Ia pun menambahkan bahwa NCP merupakan agenda tahunan yang dikhususkan YDSF untuk anak-anak dan remaja.
Selama di Alas Veenuz, rutinitas anak-anak diisi dengan berbagai metode pembelajaran yang menyenangkan. Mereka mengikuti sesi berkisah, berlatih peran melalui drama, beragam permainan berkelompok, sharing session, hingga menguji ketangkasan lewat jelajah alam dan outbound.
Selain itu, para peserta juga dibimbing untuk menghafalkan Al-Qur’an serta mendirikan shalat qiyamul lail berjamaah di tengah sejuknya udara Trawas.
Keseruan lain mereka rasakan saat malam keakraban tiba. Anak-anak diajak menikmati keindahan alam sambil duduk melingkar dan menyalakan api unggun. Sebagai pelengkap di akhir acara, YDSF juga membagikan berbagai doorprize menarik bagi para peserta.
Penyunting: Muhammad Nashir

