Yayasan Griya Al Qur’an Surabaya dan Yayasan Masjid Al Falah Surabaya perkuat sinergi menyiapkan estafet dakwah

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Dalam Islam, tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan. Bahkan senyum kepada sesama pun bernilai sedekah. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah amalan yang dilakukan secara istiqamah, meskipun tampak sederhana.

Di antara wujud istiqamah tersebut adalah menjaga silaturahim, memperkuat ukhuwah, dan membangun kolaborasi dalam kebaikan.

Berangkat dari semangat itulah, keluarga besar Yayasan Griya Al Qur’an Surabaya (YGAS) bersilaturahim ke Yayasan Masjid Al Falah Surabaya pada Selasa (1/7/2026).

Pertemuan yang berlangsung di ruang pengurus lantai dua Masjid Al Falah, Jalan Raya Darmo Surabaya, menjadi momentum berharga untuk saling belajar, berbagi pengalaman, serta membangun sinergi demi keberlanjutan dakwah di masa mendatang.

Rombongan YGAS dipimpin langsung oleh Irwitono selaku Ketua YGAS dan disambut hangat oleh jajaran pengurus Yayasan Masjid Al Falah Surabaya yang dipimpin oleh Ir. Dwi Andi Handaya Rusman, M.Sc. selaku Ketua Pengurus, didampingi Ir. Subchan Bashori, M.M selaku Sekertaris Umum, Suprijanto selaku Sekretaris,  Kankan Iskandar, SE., MM.selaku bendahara dan Saukat selaku perwakilan ketakmiran masjid.

Dalam kesempatan tersebut, Irwitono hadir bersama para kepala unit dan pimpinan direktorat di lingkungan YGAS sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat jejaring, membuka ruang kolaborasi, serta memperkenalkan berbagai lini dakwah yang selama ini dijalankan YGAS.

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Andi Handayana Rusman berbagi kisah perjalanan hingga dipercaya mengemban amanah sebagai pengurus masjid.

Sebelum terjun ke dunia pengelolaan lembaga dakwah, beliau merupakan seorang konsultan profesional. Saat pertama kali menerima tawaran tersebut, beliau mengaku sempat diliputi keraguan. Namun dukungan keluarga, khususnya sang istri, menjadi penguat langkahnya.

Beliau menceritakan bagaimana sang istri kerap menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengingatkan tentang keutamaan memakmurkan masjid dan janji Allah bagi mereka yang mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat. Dari sanalah keyakinan tumbuh hingga akhirnya menerima amanah tersebut.

Pertemuan itu juga menjadi ajang nostalgia antara Pak Andi dan Irwitono yang telah lama saling mengenal melalui lingkar pertemanan dan aktivitas dakwah yang sama, termasuk melalui perantara Pak Saukat pada masa-masa awal perjalanan keduanya.

Dalam sesi diskusi, Pak Andi membagikan pengalaman transformasi Al Falah sebagai lembaga dakwah yang terus bertumbuh dan memberi manfaat luas kepada masyarakat.

“Kami berusaha mengembalikan Al Falah betul-betul sebagai lembaga dakwah. Ketika masjid dimakmurkan, insyaAllah lembaganya ikut makmur, termasuk orang-orang yang mengabdi di dalamnya. Jika ada surplus, kami kembalikan untuk pengembangan dan pelayanan umat. Prinsipnya, sesuai syari’ah apa yang dikelola harus kembali memberi manfaat kepada masyarakat,” ungkapnya.

Beliau juga menegaskan pentingnya tata kelola yang amanah, transparan, dan sesuai syariat, khususnya dalam pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, serta berbagai program kemaslahatan lainnya.

Sementara itu, Irwitono menyoroti pentingnya keberlanjutan dakwah melalui sistem kaderisasi yang kuat.

Menurutnya, tantangan terbesar sebuah lembaga bukan hanya membangun program yang baik, tetapi memastikan estafet perjuangan tetap berjalan ketika para perintisnya telah tiada.

Beliau mengisahkan bagaimana banyak tokoh perintis Al Falah yang kini telah wafat. Dari pengalaman tersebut, muncul kesadaran bahwa setiap lembaga perlu mempersiapkan generasi penerus yang memahami visi, nilai, dan ruh perjuangan para pendahulu.

“Bagaimana menjamin dakwah ini tetap berlanjut ketika kita sudah tidak ada? Yang kita bangun hari ini harus memiliki penerus yang memahami nilai-nilai perjuangannya. Hal pertama yang harus dipikirkan seorang pemimpin adalah hal terakhir yang harus ia wariskan. Itulah kaderisasi,” pesan Irwitono.

Dalam diskusi yang berlangsung konstruktif tersebut, kedua lembaga juga sepakat bahwa perkembangan teknologi dan modernisasi harus dipandang sebagai sarana untuk memperluas manfaat dakwah, bukan menggeser esensi dakwah itu sendiri.

Pak Andi menegaskan, tools boleh modern, tetapi tujuannya tetap dakwah. Jika kemudian ada manfaat bagi pengembangan fasilitas maupun operasional, maka semuanya harus kembali mendukung keberlangsungan dakwah dan pelayanan kepada umat.

Kesamaan visi tersebut menjadi titik temu yang memperkuat optimisme kedua lembaga. Kolaborasi tidak semata berbicara tentang visibilitas, program, atau pengembangan organisasi, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan pendekatan dakwah yang relevan, berkelanjutan, dan tetap berakar pada nilai-nilai Islam.

Silaturahim ini menjadi bukti bahwa dakwah akan semakin kuat ketika dijalankan dalam semangat kolaborasi. YGAS dan Yayasan Masjid Al Falah Surabaya memiliki latar perjalanan yang berbeda, namun dipersatukan oleh tujuan yang sama: menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat serta memastikan estafet dakwah terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Semoga pertemuan ini menjadi langkah awal lahirnya sinergi yang semakin erat, produktif, dan penuh keberkahan bagi kemajuan dakwah Islam di Surabaya dan Indonesia.

Pewarta: Fachrurrosi
Penyunting: Muhammad Nashir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.