Kuliah saja tidak cukup, saatnya mahasiswa membangun jejak nyata

Pesta Kelulusan (Surat buat Asep Tarjana)

Suaramuslim.net – Ada mahasiswa yang sibuk sekali selama kuliah. Ikut organisasi, menjadi panitia, mengerjakan tugas kelompok, sesekali ikut lomba, lalu menjelang lulus mulai menyusun CV. Tetapi ketika harus menjelaskan dirinya sendiri, ia mendadak bingung.

Banyak kegiatan pernah diikuti, tetapi jejaknya tidak rapi. Banyak pengalaman pernah dijalani, tetapi belum menjadi cerita yang utuh. Di situlah masalahnya: kuliah sudah berjalan, tetapi reputasi belum benar-benar dibangun.

Padahal masa kuliah bukan hanya ruang menunggu wisuda. Ia adalah masa yang sangat berharga untuk mengenali diri, mencoba banyak hal, belajar dari pengalaman, dan pelan-pelan membangun kepercayaan.

Kuliah tetap penting. Nilai tetap perlu dijaga. Lulus tepat waktu juga tetap menjadi capaian yang layak dihargai. Tetapi di dunia yang berubah cepat, semua itu tidak cukup bila berdiri sendirian.

Dulu, nasihat yang sering kita dengar cukup sederhana: kuliah yang rajin, IPK bagus, lulus, lalu cari kerja. Nasihat itu tidak keliru. Hanya saja, zaman sudah bergerak.

Hari ini, dunia kerja tidak hanya melihat ijazah. Dunia juga ingin melihat bukti. Pernah mengerjakan apa? Pernah belajar dari masalah apa? Bisa bekerja sama dengan siapa? Bisa dipercaya dalam tanggung jawab seperti apa?

Pertanyaan seperti itu kadang tidak diucapkan langsung. Tetapi diam-diam hadir saat seseorang membaca CV, melihat portofolio, membuka profil LinkedIn, atau mendengar rekomendasi dari dosen dan alumni.

Di titik ini, mahasiswa mulai membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar daftar mata kuliah. Ia membutuhkan jejak.

Jejak nyata, tanda anda bertumbuh

Jejak bukan berarti harus terkenal. Bukan pula harus rajin membuat konten setiap hari. Jejak adalah tanda bahwa seseorang pernah bertumbuh. Ia bisa berupa karya kecil, pengalaman magang, tulisan, riset sederhana, proyek organisasi, kegiatan sosial, dokumentasi portofolio, atau sikap baik yang membuat orang lain percaya.

Tidak selalu besar. Tidak selalu ramai. Tetapi nyata.

Tom Peters pada 1997 memperkenalkan gagasan personal branding melalui tulisan “The Brand Called You”. Gagasan itu sering disalahpahami seolah-olah setiap orang harus menjual dirinya seperti produk.

Padahal dalam konteks mahasiswa, personal branding tidak perlu dibaca sesempit itu. Ia lebih dekat dengan soal reputasi: dikenal karena kemampuan apa, dipercaya karena sikap apa, dan diingat karena kontribusi apa.

Harvard Business Review dan Harvard Business School Online juga banyak membahas personal branding sebagai cara seseorang menjelaskan nilai dirinya secara jujur dan konsisten.

Jadi, personal branding bukan sekadar urusan tampilan. Ia bukan seni membuat diri terlihat lebih hebat daripada kenyataannya. Kalau hanya itu, namanya pencitraan. Dan pencitraan biasanya cepat lelah, karena harus terus-menerus dipoles.

Reputasi berbeda. Ia tumbuh lebih pelan. Kadang dari hal-hal yang tidak terlalu dramatis: datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, tidak menghilang saat kerja kelompok, mau belajar, bisa menerima kritik, dan menjaga cara bicara. Hal-hal kecil seperti itu sering tidak masuk poster prestasi, tetapi justru membentuk kepercayaan.

Di sinilah mahasiswa perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada dirinya sendiri: selama kuliah ini saya ingin dikenal sebagai apa? Bukan dalam arti harus segera punya jabatan atau gelar hebat. Tetapi paling tidak, ada arah. Ada nilai yang sedang dibangun. Ada kemampuan yang pelan-pelan diasah.

Erik Erikson dalam teori identity development tahun 1968 menjelaskan bahwa masa muda adalah fase penting dalam pencarian identitas. Seseorang mulai bertanya: siapa saya, saya ingin menjadi apa, nilai apa yang saya pegang, dan hidup seperti apa yang ingin saya bangun.

Mahasiswa berada tepat di fase itu. Maka wajar bila banyak mahasiswa belum punya jawaban final tentang masa depan.

Yang tidak sehat bukanlah kebingungan. Yang kurang baik adalah ketika kebingungan membuat seseorang berhenti mencoba.

Mahasiswa tidak perlu memalsukan kepastian. Tidak perlu pura-pura sudah tahu semuanya. Tetapi ia perlu memberi dirinya kesempatan untuk mengalami, menguji, dan membaca dirinya sendiri.

Karena itu, masa kuliah seharusnya tidak hanya diisi dengan datang ke kelas dan pulang membawa tugas. Ada ruang organisasi. Ada ruang diskusi. Ada kegiatan pengabdian. Ada proyek dosen. Ada lomba. Ada magang. Ada komunitas. Ada kerja paruh waktu. Ada juga kegagalan kecil yang kadang justru lebih jujur mengajarkan sesuatu daripada keberhasilan yang terlalu mulus.

David Kolb melalui teori experiential learning tahun 1984 menjelaskan bahwa belajar terjadi melalui pengalaman, refleksi, pemahaman, lalu percobaan berikutnya. Artinya, pengalaman saja belum tentu membuat orang bertumbuh. Pengalaman perlu dipikirkan ulang. Perlu ditanya maknanya. Perlu dirapikan menjadi pelajaran.

Banyak mahasiswa sebenarnya punya pengalaman, tetapi tidak pernah mencatatnya. Pernah menjadi koordinator acara, tetapi tidak menulis apa yang dipelajari dari mengurus orang. Pernah magang, tetapi tidak menyimpan contoh pekerjaan. Pernah ikut riset, tetapi tidak tahu bagian mana yang bisa diceritakan sebagai kemampuan. Pernah gagal dalam lomba, lalu hanya dianggap selesai begitu saja.

Sayang sekali, karena semua itu bisa menjadi bahan untuk mengenal diri.

Mahasiswa manajemen, misalnya, bisa belajar dari cara ia mengatur acara kecil di kampus. Di situ ada koordinasi, negosiasi, pembagian tugas, dan penyelesaian masalah.

Mahasiswa komunikasi bisa menyimpan tulisan, desain, video, atau pengalaman berbicara di depan publik. Mahasiswa kesehatan bisa membangun jejak melalui edukasi masyarakat. Mahasiswa teknik bisa mendokumentasikan proyek kecil yang pernah dikerjakan. Mahasiswa pendidikan bisa menulis pengalaman mengajar, mendampingi, atau memahami murid.

Sekali lagi, tidak harus mewah. Tidak harus viral. Tidak harus seperti portofolio profesional yang sempurna. Yang penting ada catatan, ada bukti, ada pelajaran. Sebab nanti, ketika peluang datang, mahasiswa tidak mulai dari nol. Ia sudah punya bahan untuk bercerita tentang dirinya dengan lebih jujur.

Tentu, tantangannya tidak kecil. Banyak mahasiswa takut dianggap pamer ketika membagikan karya. Ada yang merasa belum layak tampil. Ada yang bingung harus mulai dari mana. Ada juga yang terlalu sibuk ikut berbagai kegiatan sampai lupa merapikan arah. Akhirnya, jadwal penuh, tenaga habis, tetapi jejak tetap kabur.

Memilih kegiatan yang membuat bertumbuh

Di sinilah perlu keseimbangan. Mahasiswa tidak harus mengambil semua peluang. Tidak semua ajakan harus dijawab “iya”. Tidak semua tren harus diikuti. Kadang, kemampuan memilih justru menjadi bagian penting dari kedewasaan.

Pilih kegiatan yang membuat diri bertumbuh. Pilih ruang yang membuat kemampuan lebih terasah. Pilih pengalaman yang sesuai dengan nilai yang ingin diperjuangkan.

Reuters dalam beberapa laporannya menyoroti perubahan dunia kerja pemula, termasuk karena kecerdasan buatan dan tuntutan keterampilan baru.

Ini menjadi pengingat bahwa mahasiswa tidak bisa lagi hanya mengandalkan status sebagai lulusan baru. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu belajar, beradaptasi, bekerja sama, dan menunjukkan bukti bahwa dirinya bisa dipercaya.

Tetapi membangun jejak juga tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kewajaran hidup. Tidak semua hal perlu diumumkan. Tidak semua kegiatan harus dijadikan konten. Ada yang cukup dicatat. Ada yang cukup disimpan sebagai portofolio. Ada yang cukup menjadi pelajaran batin.

Reputasi yang baik tidak selalu berisik. Kadang ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Pada akhirnya, kuliah bukan hanya perjalanan menuju gelar. Kuliah adalah masa belajar menjadi manusia yang lebih siap: siap berpikir, siap bekerja, siap bergaul, siap gagal, siap memperbaiki diri, dan siap dipercaya.

Ijazah adalah tanda bahwa seseorang pernah menempuh pendidikan. Tetapi jejak menunjukkan bagaimana ia bertumbuh selama menempuh pendidikan itu.

Mahasiswa Indonesia tidak cukup hanya kuliah dan menunggu lulus. Mereka perlu mulai membangun jejak: apa yang dipelajari, apa yang dikerjakan, apa yang diperjuangkan, dan mengapa mereka layak dipercaya. Sebab dunia tidak hanya bertanya seseorang lulus dari mana. Dunia juga ingin tahu, selama belajar, jejak apa yang ia tinggalkan.

Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.