Terapi toxic dalam Al-Qur’an

Suaramuslim.net – Ada istilah baru dalam pergaulan anak muda sekalipun istilah itu sudah ada namun menjadi viral dalam istilah pergaulan, yaitu toxic.

Yang memiliki arti untuk menggambarkan seseorang, perilaku, situasi atau lingkungan yang berdampak negatif atau berpengaruh buruk.

Dalam pergaulan sudah tentu ada interaksi di antara manusia. Dan dalam interaksi tersebut pasti ada dampak baik positif maupun negatif.

Jika kita bergaul dengan banyak orang dan orang-orang itu adalah saleh dan lingkungan yang saleh juga maka bisa memunculkan dampak yang positif.

Baik komunitas sosial umum seperti organisasi pendidikan, olahraga, ekonomi yang berjalan dalam kebajikan di tengah masyarakat. Atau komunitas sosial kegamaan yang religi seperti pengajian dan sebagainya.

Jika memang mengarah kepada kebaikan maka akan menimbulkan dampak yang positif.

Dan dalam Islam memperhatikan pergaualan positif dalam berkomunitas sangat diajurkan.

Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran ayat 104.

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤

Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Di ayat itu disebutkan bahwa semestinya ada kelompok atau komunitas yang selalu mengajak kepada kebaikan, suka menuntun kepada yang makruf dan menghindarkan dari setiap keburukan.

Dan untuk mendukung komunitas kebaikan di atas sudah tentu harus bergabung dengan orang yang saleh yang bertujuan sama agar ada dampak positifnya.

Allah berfirman dalam Q.S. At Taubah ayat 119;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).”

Dan hal itu diperkuat oleh Hadis Nabi Muhammad:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat. (Riwayat  Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Seorang ulama yang bernama Ibrahim Al Khawwas yang dinukil oleh Imam An Nawawi dalam Al Adzkar menyebutkan:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ

Penawar hati itu ada lima: membaca al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan), kosongnya perut (dengan puasa), qiyâmul lail (salat malam), berdoa di waktu sahar (waktu akhir malam sebelum Subuh), dan duduk bersama orang-orang saleh.

Namun tidak selamanya dalam sebuah komunitas yang bergerak kepada kebaikan semuanya orang baik. Namanya manusia yang berkelompok kemungkinan ada sosok atau beberapa sosok yang menjadi toxic dalam pergaulan itu.

Apa yang harus dilakukan kalau ada toxic dalam pergaulan kita?

Kembali kepada Al-Qur’an bagaimana terapinya dalam menghadapi sosok yang toxic.

Bahkan toxic itu tidak hanya muncul dari sosok orang lain, bisa juga muncul sosok diri sendiri, atau bisa jadi komunitas itu menjadi toxic tersendiri.

Terapi Qurani menghadapi kondisi yang toxic

Al-Qur’an telah memberikan terapi mencegah toxic agar jiwa kita tidak terpuruk dalam pergaulan yang negatif, di antaranya adalah sebagai berikut;

1. Nasihati dan ajak untuk meninggalkan perilaku negatif dengan membangun pribadi positif.

Allah berfirman dalam surat Al Insyirah ayat 3, yaitu saling berwasiat dalam hal kebaikan.

Ajaklah temen yang menjadi toxic dalam pergaulan kepada ilmu dengan mengajak ke majelis ilmu agar sadar dengan sendirinya.

Atau jika memang susah untuk diajak ke pengajian, maka coba nasihati tentang dampak buruknya dari perilaku toxic-nya terhadap komunitas.

2. Jangan memasukan di hati (baperan), perhatikan nasihat Allah dalam Q.S. Ali Imran 134.

a. Menahan diri untuk tidak emosian dan jangan cepat terpancing emosi sehingga tidak semakin runyam. Hadapi dengan tenang untuk dapat bersikap terbaik kepada seseorang yang toxic.

b. Mengedepankan husnuzon dengan memaafkannya.

Ini memang berat, tapi jika dikerjakan akan berdampak positif yang luar biasa dalam pergaulan.

Rusaknya hubungan personal dalam sebuah pergaulan lebih disebabkan oleh susahnya meminta maaf dan mengakui kesalahan.

c. Mendoakannya supaya diberi hidayah dari Allah.

Efek doa antar teman dalam komunitas itu sungguh sangat luar biasa secara ruhani. Karena perhatian yang ditunjukkan dengan sebuah sikap saja sudah luar biasa efeknya, apalagi perhatian dengan doa yang dipanjatkan secara diam-diam.

3. Membalas perbuatan buruknya dengan cara yang lebih baik.

Allah berfirman dalam Q.S. Al Mukminun ayat 96;

اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ السَّيِّئَةَۗ نَحْنُ اَعْلَمُ بِمَا يَصِفُوْنَ

Tolaklah kejahatan (mereka) itu dengan cara yang lebih baik. Kami amat mengetahui bagaimana mereka sifatkan (Kami).

Apa yang dimaksud membalas keburukannya dengan cara yang lebih baik?

Di kalangan para ahli tafsir membahas membalas keburukan dengan yang hal lebih baik dari keburukannya itu sendiri adalah berbuat baik kepadanya misal memaafkannya dan lebih dari itu adalah berbuat kebaikan kepadanya.

Seorang penyair arab berkata (dinukil oleh Al Wahbah ketikan menafsirkan ayat di atas);

احسِنْ الي الناس تستَعبِدْ قلوبَهم #

فطالما اسْتَعْبَد الانسانَ احسانٌ

Berbuat baiklah kepada seseorang maka kamu bisa menaklukan hatinya
Karena sering kali kebaikan itu menundukkan hati manusia

4. Al ibti’ad, menjauhinya dengan sikap yang baik.

Artinya kalau poin-poin di atas sulit untuk diterapkan kepada seseorang yang toxic, maka terakhir tinggalkan ia baik secara rasa (dicuekin) atau sementara tidak menemuinya atau masuk dalam komunitas toxic (dengan catatan komunitas yang dianggap toxic adalah dalam pandangan umum dan hukum seperti komunitas judol, narkoba dan lain sebagainya. Bukan komunitas yang berbeda mazhab lalu dianggap toxic).

Allah berfirman dalam QS Al A’raf 199;

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ۝١٩٩

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.

Dan dalam men ‘cueki’ nya atau menjauhinya harus tetap mendahulukan sikap adab yang baik.

Dalam surat yang lain Allah berfirman di Q.S. Al Furqon 72;

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

Kalimat marruu kiraaman, meninggalkannya dengan cara yang terhormat, tidak merendahkan diri sendiri dengan sikap arogannya dan sok yang paling benar.

5. Teruslah menjalin komunikasi yang intensif dengan Allah lewat salat dan membaca Al-Qur’an serta doa dan zikir selesai salat agar terus mendapat pertolongan Allah untuk dijaga dari pengaruh toxic yang ada dalam kehidupan kita.

Inilah terapi Qurani dalam menghindari toxic yang muncul dari pergaulan kita dalam sebuah komunitas atau antar komunitas di tengah masyarakat. Wallahu a’lam.

M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
29 juni 2026/14 Muharram 1448 H

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.