Suaramuslim.net – Mungkin sebagian besar dari kita belum pernah melihat pohon tin secara langsung. Sebagian lagi hanya mengenal minyak zaitun sebagai pelengkap makanan atau produk kesehatan.
Para ulama sebagian memandang tin dan zaitun sebagai buah yang penuh manfaat. Sebagian lagi mengaitkannya dengan wilayah para nabi, tempat risalah-risalah besar diturunkan.
Di sekitar Palestina, Syam, dan Baitul Maqdis, pohon zaitun telah menjadi bagian dari kehidupan manusia selama ribuan tahun. Dari sanalah lahir banyak kisah para nabi, mulai dari Nabi Ibrahim, Nabi Dawud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, hingga Nabi Isa alaihissalam.
Yang menarik adalah, bahwa ilmu pengetahuan modern mengagumi kedua tanaman ini. Buah tin dikenal kaya serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan. Sementara zaitun menghasilkan minyak yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu bahan pangan paling bernilai dalam tradisi masyarakat Mediterania.
Berbagai penelitian mengaitkan konsumsi minyak zaitun dengan kesehatan jantung, pengendalian peradangan, dan gaya hidup yang lebih sehat.
Namun, dengan menyebut Tin dan Zaitun, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan daftar kandungan gizi.
Jika tujuan Al-Qur’an hanya menjelaskan nutrisi, tentu kitab suci ini akan berubah menjadi ensiklopedia kesehatan. Tapi melalui ayat “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun” (Q.S. At-Tin: 1), Allah mengajak kita merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui sesuatu yang kita lihat setiap hari.
Perhatikanlah pohon zaitun. Ia mampu hidup ratusan bahkan ribuan tahun. Batangnya berliku. Kulitnya tampak tua. Namun setiap musim ia tetap menghasilkan buah. Semakin tua usianya, semakin besar manfaatnya.
Bukankah demikian pula seharusnya kita sebagai seorang mukmin? Semakin bertambah usia kita, semakin bertambah kebermanfaatan kita, semakin bertambah matang llmu kita, dan semakin teduh akhlak kita.
Keberadaan kita menjadi sumber ketenangan bagi orang-orang di sekitar kita. Mungkin begitulah pelajaran yang bisa kita petik dari pohon zaitun.
Lihat pula buah tin. Buah ini tidak menunggu menjadi besar untuk memberi manfaat. Sejak muda hingga matang, hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Ini mengingatkan sekaligus pembelajaran berharga bagi kita bahwa kebermanfaatan tidak selalu menunggu kesempurnaan.
Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah sukses, saya akan berbagi.” Atau “Nanti kalau sudah kaya, saya akan membantu.” Atau “Nanti kalau sudah pensiun, saya akan berdakwah.”
Padahal, pohon tidak menunggu menjadi hutan untuk memberi keteduhan. Setetes air tidak menunggu menjadi lautan untuk menghilangkan dahaga. Dan buah tin tidak menunggu menjadi sempurna untuk memberi manfaat.
Di sinilah kita diajak untuk mengembangkan cara berpikir layaknya seorang yang diberi gelar Ulul Albab. Tidak hanya melihat buah sebagai makanan, tetapi melihatnya sebagai ayat. Tidak hanya mengagumi pohonnya, tetapi juga membaca pesan yang Allah titipkan melalui ciptaan-Nya.
Karena setiap kali Al-Qur’an mengajak kita memperhatikan alam, sesungguhnya Allah sedang mengajak kita kembali mengenal diri kita sendiri, dan akhirnya berkesimpulan bahwa “Robbanaa Maa Kholaqta Hadzaa Batila. Subhaanaka Waqinaa “Adzaaban-Naar”.
Renungan
Tin mengajarkan kita untuk segera memberi manfaat. Zaitun mengajarkan kita untuk tetap produktif sepanjang usia. Dan keduanya mengingatkan bahwa manusia terbaik bukanlah yang paling lama hidup, tetapi yang paling besar manfaatnya.
Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur (2021-2026)

