Pendidikan dan kemerdekaan

Memaknai Potret Pendidikan di Sekitar Kita

Suaramuslim.net – Tugas pendidikan hanya satu: membangun jiwa merdeka sebagai prasyarat budaya bagi bangsa yang merdeka. Hanya di atas jiwa yang merdeka -bukan jiwa budak yang terjajah- dapat dibangun adab, akhlak, dan kompetensi produktif yang disebut kecerdasan bangsa.

Tugas pendidikan ini jauh lebih kompleks dibanding tugas pengajaran. UUD 1945 memahami kompleksitas pendidikan, sehingga pasal 31 hanya menyebut suatu sistem pengajaran nasional -bukan sistem pendidikan nasional- dalam batang tubuhnya.

UUD 2002 hasil amandemen empat kali atas UUD 1945 lebih ambisius, tapi manipulatif. Ia menyebut sistem pendidikan nasional, bahkan dengan menetapkan syarat minimal 20% APBN untuk pendidikan.

UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas mengandalkan persekolahan sebagai komponen utama dalam Sisdiknas ini. Sangat teknokratik: menyiapkan tenaga kerja yang cukup terampil menjalankan mesin-mesin sekaligus cukup dungu untuk setia bekerja bagi para pemilik modal. Bukan untuk membangun jiwa merdeka. No more no less.

Pengajaran bisa direncanakan sebagai usaha sadar yang dirancang melalui kurikulum di sekolah untuk mencapai standar tertentu. Pendidikan tidak bisa. Belajar atau learning sebagai urusan utama pendidikan adalah sebuah emergent phenomena yang tidak bisa direncanakan, bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. It takes a village to raise a child.

Banyak pembelajaran terjadi di luar kelas, di luar sekolah. Mengatakan bahwa sekolah adalah tempat belajar terbaik adalah menyesatkan. Apalagi mengatakan anak yang tidak bersekolah adalah tidak terdidik, atau kampungan.

Neurosains mengatakan bahwa ruang kelas adalah tempat belajar terburuk bagi manusia. Apalagi bagi anak laki-laki. Tempat belajar terbaik adalah di luar sekolah, termasuk di rumah, di mana pengalaman tiga dimensi yang kaya terpapar pada pembelajar.

Learning is a process of making sense of experiences. Bahan baku utama proses belajar adalah pengalaman. Mengurung anak berjam-jam di sekolah kurang memberi pengalaman yang nyata. Sebagai lingkungan buatan, sekolah seringkali terlalu nyaman, aman dan teratur. Tidak ada tantangan dengan risiko nyata. True leaders tidak dilahirkan dalam lingkungan sekolah.

Sekolah justru memperpanjang masa kanak-kanak, memperlambat kedewasaan mental, dan sosial anak, serta meningkatkan ketergantungan pada guru.

Sebelum sekolah menjadi institusi revolusi industri, anak-muda muda belajar di rumah dan di masyarakat. Pada umur 18 tahun atau bahkan lebih muda, anak-anak itu sudah dewasa secara mental dan sosial.

Bekerja di masa remaja adalah proses belajar yang lazim. Masa sebelum sekolah ada, warga lebih banyak membaca buku untuk mengasah pikiran, dan memperluas wawasan.  

Sejak UUD 2002 berlaku, persekolahan makin TSM, proses yang disebut John T. Gatto sebagai dumbing down of peoples makin menjadi-jadi.

Setelah internet ada di mana-mana, dan waktu warga muda justru makin habis di dunia maya, pengalaman mereka makin miskin. Kecerdasan menurun. Bahkan secara fisik mereka ini makin pasif yang mengancam kesehatan mereka.

Jika sekarang banyak sarjana yang menganggur itu karena anak-anak muda memang makin less employable

Daniel Mohammad Rosyid
Stasiun Cirebon
Rabu 12/8/2026

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.