Anak Gaza kembali sekolah, PUI kaitkan dengan seruan “Free Palestine” Prabowo di Gontor

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Sekitar 541.000 pelajar di Gaza kembali mengikuti pembelajaran tatap muka pada Sabtu (19/9/2026), setelah hampir tiga tahun aktivitas pendidikan terganggu akibat perang.

Pada hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto menyerukan “Free Palestine” dalam peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo Jawa Timur.

Ketua Umum Persatuan Ummat Islam (PUI) Raizal Arifin menilai dua momentum tersebut memiliki pesan yang kuat: perjuangan Palestina tidak hanya berkaitan dengan kemerdekaan sebuah bangsa, tetapi juga dengan keberlangsungan masa depan generasinya melalui pendidikan.

“Anak-anak Gaza menunjukkan bahwa ketika sekolah hancur, semangat untuk belajar tidak ikut hancur. Kembalinya mereka ke ruang kelas adalah simbol bahwa harapan dan masa depan tetap harus diperjuangkan,” ujar Raizal.

Menurutnya, seruan “Free Palestine” tidak semestinya berhenti sebagai ekspresi solidaritas politik.

Ada dimensi kemanusiaan yang perlu mendapatkan perhatian, salah satunya memastikan anak-anak Palestina tetap memiliki akses terhadap pendidikan setelah bertahun-tahun hidup dalam situasi konflik.

“Solidaritas kepada Palestina bukan hanya tentang kemerdekaan politik. Ada satu generasi yang sedang mempertaruhkan masa depannya. Anak-anak harus tetap belajar, guru harus tetap mengajar, dan masa depan mereka harus tetap dijaga,” katanya.

Raizal mengatakan, terganggunya pendidikan dalam waktu panjang dapat memberikan dampak jauh melampaui kerusakan fisik sekolah.

Kehilangan akses belajar berarti berkurangnya kesempatan anak-anak untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kapasitas yang diperlukan untuk membangun kembali kehidupan masyarakatnya.

Karena itu, PUI memandang pendidikan perlu menjadi bagian dari agenda solidaritas kemanusiaan untuk Palestina, berdampingan dengan bantuan kemanusiaan dan dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk hidup secara aman dan bermartabat.

“Pendidikan adalah jalan panjang menuju kemandirian. Apa yang terjadi di Gaza mengingatkan kita bahwa mempertahankan sekolah berarti mempertahankan masa depan sebuah bangsa. Bangunan bisa dibangun kembali, tetapi kesempatan belajar anak-anak yang hilang selama bertahun-tahun tidak mudah digantikan,” ujar Raizal.

Sebagai organisasi yang memiliki perhatian pada bidang pendidikan dan menaungi hampir 2.000 lembaga pendidikan, PUI menilai pengalaman Gaza juga menjadi refleksi bagi Indonesia.

Dalam situasi yang jauh lebih damai, pendidikan perlu terus ditempatkan sebagai investasi strategis untuk membangun generasi yang berpengetahuan, berkarakter, dan mandiri.

“Ketika Presiden menyerukan Free Palestine di Gontor, dan pada hari yang sama anak-anak Gaza kembali ke sekolah, kita mendapatkan pesan yang sangat jelas: membela masa depan Palestina juga berarti memastikan anak-anaknya tetap memiliki masa depan,” kata Raizal.

PUI berharap solidaritas masyarakat Indonesia terhadap Palestina terus diwujudkan melalui dukungan kemanusiaan dan pendidikan, sehingga anak-anak Gaza tidak hanya dapat kembali ke sekolah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk tumbuh dan membangun masa depan setelah konflik berakhir.

Pewarta: Uki Syafitri
Penyunting: Muhammad Nashir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.