Saatnya ICMI menanam solusi

Suaramuslim.net – Pengalaman Orda, Orsat, dan Batom sering menyimpan pelajaran yang tidak langsung terlihat. Ada cara kerja yang efektif, ada langkah yang perlu diperbaiki, dan ada kebiasaan kecil yang ternyata memberi hasil baik. Ketika pengalaman seperti itu dibagikan, satu tempat bisa belajar dari tempat lain.

Bagi orang-orang yang hidup di dalam organisasi, pengalaman semacam itu berharga. Kita tidak selalu harus mencari gagasan dari tempat yang jauh. Sering kali bahan belajar sudah tersedia di sekitar kita, hanya belum sempat dicatat, dibaca kembali, atau diceritakan kepada yang lain.

Tulisan ini berangkat dari semangat itu. Sebuah refleksi dari dalam, dengan harapan agar ICMI terus tumbuh, makin hidup, dan manfaatnya semakin nyata.

Ketika praktik baik belum saling bertemu

Kalau mau jujur, dari berbagai pengalaman dan percakapan dalam kehidupan organisasi, kita bisa melihat bahwa ICMI menyimpan banyak praktik baik.

Di berbagai daerah, ada orda dan orsat yang bergerak dengan caranya masing-masing. Ada batom yang menguatkan ekonomi umat. Ada orwil yang menghidupkan diskusi, literasi, pendidikan, dan kerja sosial.

Banyak hal baik sudah tumbuh. Masih ada ruang agar pengalaman seperti itu lebih mudah ditemukan, dibaca, dan dipelajari oleh keluarga ICMI di tempat lain.

Sering kali yang terjadi justru begini: satu daerah punya praktik bagus, daerah lain belum tentu tahu. Satu orsat menemukan cara kerja yang efektif, tetapi belum sempat membagikannya lebih luas. Satu batom menjalankan program yang menarik, namun ceritanya belum sampai ke banyak tempat.

Semangatnya ada. Yang masih bisa kita rapikan ialah cara pengalaman itu mengalir dari satu tempat ke tempat lain.

Anggaran Dasar ICMI sebenarnya sudah memberi arah yang cukup jelas. Di antara sifat yang ditegaskan di dalamnya ialah keislaman, keilmuan, keindonesiaan, keterbukaan, kemandirian, dan kekeluargaan.

Nilai-nilai tersebut menjadi lebih hidup ketika hadir dalam kebiasaan sehari-hari. Keterbukaan dan kekeluargaan, misalnya, bisa tumbuh melalui budaya berbagi pengalaman sehingga pengetahuan dari satu daerah ikut memperkaya daerah lain.

Ketika berbicara mengenai perjalanan reformasi Indonesia pada 2018, B. J. Habibie pernah mengatakan, “The process of reforms in Indonesia is well conducted, but it is still far from the target.” 

Kalimat itu mengingatkan bahwa sebuah perubahan perlu dijaga sampai benar-benar hidup dalam tindakan. Pesan tersebut relevan dibaca kembali ketika kita berbicara tentang organisasi yang sejak awal dekat dengan tradisi ilmu dan pengabdian.

Dalam kesempatan lain di Universitas Gadjah Mada, Habibie menegaskan pentingnya teknologi bagi daya saing bangsa dan bahwa nilai tambah teknologi lahir dari pikiran manusia.

Teknologi adalah alat. Arah penggunaannya tetap bergantung pada manusia yang berpikir, belajar, dan bersedia membagikan pengetahuan.

Dari praktik menjadi pelajaran

Kita bisa mulai dari kebiasaan yang dekat dengan kehidupan organisasi. Setiap orda, orsat, dan batom dapat mencatat pengalaman yang dianggap layak dipelajari. Tidak perlu panjang. Cukup persoalan yang ditemui, langkah yang sudah dicoba, dan pelajaran yang mungkin berguna bagi tempat lain.

Dari catatan semacam itu, pelan-pelan bisa terbentuk peta pembelajaran. Kita mulai mengetahui apa yang pernah dicoba di satu tempat, apa yang berhasil, apa yang masih perlu disempurnakan, dan pengalaman mana yang layak dicoba dalam konteks berbeda.

Bayangkan bila satu pengalaman dari orsat kampus dapat membantu orsat kampus lain. Pengalaman sebuah orda membangun jejaring dengan pemerintah daerah mungkin berguna bagi daerah lain. Batom yang menemukan cara mengelola program ekonomi atau sosial dengan baik juga punya cerita yang layak dibagikan.

Orwil dapat ikut mempertemukan pengalaman-pengalaman tersebut agar lebih mudah dibaca bersama.

Dengan kebiasaan semacam itu, kita tidak perlu selalu memulai dari nol. Yang sudah berjalan baik dapat dipelajari. Yang kurang pas menjadi bahan evaluasi. Gagasan baru pun memperoleh pijakan dari pengalaman sebelumnya.

Dalam literatur pembelajaran organisasi dikenal gagasan triple-loop learning. Tosey, Visser, dan Saunders (2012) menunjukkan bahwa konsep ini berkembang melalui beberapa jalur pemikiran dan mempunyai beragam penafsiran.

Dalam tulisan ini, gagasan tersebut kita gunakan secara terbatas sebagai ajakan untuk melihat proses belajar lebih dalam. Setelah tindakan dan cara berpikir diperiksa, nilai yang ikut memberi arah pada keputusan juga layak direnungkan.

Misalnya, sebuah orda menjalankan program literasi yang pesertanya belum sebanyak yang diharapkan. Perbaikan pertama mungkin dilakukan dengan mengubah waktu kegiatan, cara mengundang peserta, atau bentuk acaranya.

Setelah itu, pertanyaannya bisa dibuat lebih dalam: apakah seminar memang cara yang paling tepat untuk menjangkau kelompok yang ingin dilayani?

Lalu ada pertanyaan lain yang jarang muncul: sebenarnya ukuran keberhasilan yang sedang kita kejar apa; ramainya kegiatan, banyaknya peserta, atau perubahan yang benar-benar dirasakan setelah program selesai?

Pertanyaan terakhir membawa proses belajar ke wilayah yang lebih dalam. Orsat, orda, atau batom mulai melihat kembali cara mereka memberi makna pada sebuah program.

Sebuah kegiatan yang pesertanya sedikit belum tentu gagal jika menghasilkan perubahan yang nyata. Sebaliknya, kegiatan yang ramai belum otomatis memberi manfaat yang bertahan lama.

Dari sini, pengalaman tidak berhenti sebagai bahan evaluasi teknis. Ia ikut membantu kita memeriksa cara berpikir dan nilai yang diam-diam menjadi dasar ketika menentukan program.

Cara belajar seperti ini mengingatkan kita pada kebiasaan bermuhasabah. Kita melihat kembali apa yang sudah dilakukan, mencoba memahami cara berpikir di baliknya, lalu menimbang apakah arah yang ditempuh masih sesuai dengan nilai pengabdian yang ingin dijaga.

Budaya belajar semacam ini rasanya layak terus dirawat di lingkungan ICMI. Ada keberanian mengatakan, “ini yang sudah baik,” “ini yang belum berjalan,” dan “ini yang bisa kita pelajari bersama.”

Keterbukaan seperti itu menunjukkan kedewasaan. Pengalaman tidak disimpan untuk mencari siapa yang benar atau salah, melainkan diolah agar pekerjaan berikutnya menjadi lebih baik.

Kebiasaan belajar bisa dimulai dengan tiga catatan setelah sebuah kegiatan selesai: satu hal yang berhasil, satu hal yang kurang berjalan baik, dan satu hal yang ingin dicoba berikutnya.

Catatan itu dapat disimpan melalui kanal organisasi, grup percakapan, folder bersama, buletin digital, atau forum daring. Alatnya tidak perlu rumit. Kebiasaan berbagi jauh lebih penting daripada kecanggihan medianya.

Membuka jalur belajar bersama

Di era digital dan kecerdasan buatan, pertukaran pengetahuan dapat berlangsung jauh lebih cepat.

Struktur organisasi tetap memiliki fungsi karena ICMI mengenal jenjang orsat, orda, orwil, dan pusat. Pada saat yang sama, gagasan dari orsat atau orda sering perlu lebih cepat terdengar agar pengalaman yang baik segera bisa dipelajari oleh yang lain.

Barangkali ruang belajar yang lebih horisontal layak ikut dipikirkan di lingkungan ICMI. Orsat, orda, batom, orwil, dan pusat dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk saling membaca pengalaman.

Etika dan adab organisasi tetap dijaga. Pertukaran pengetahuan cukup dibuat lebih lancar. Pusat tetap memberi arah sesuai perannya, sementara pengalaman dari daerah memperoleh ruang yang lebih luas untuk didengar.

Hal seperti ini sebenarnya sejalan dengan semangat jaringan dalam Anggaran Dasar ICMI. Anggota dapat mengembangkan kegiatan dan jaringan lintas tempat maupun wilayah melalui koordinasi organisasi.

Ruang belajar horizontal karena itu dapat dipahami sebagai cara memperkaya komunikasi, tanpa harus mengubah tata organisasi yang sudah ada.

Dalam pendekatan perbaikan mutu Juran, root cause analysis digunakan untuk menelusuri penyebab yang berada di balik gejala. Cara berpikir ini berguna ketika membaca kehidupan organisasi.

Kalau sebuah praktik baik belum menyebar, misalnya, pertanyaannya bisa diteruskan: apakah belum tercatat, belum ada ruang berbagi, belum diketahui pihak lain, atau ada sebab lain yang perlu dipahami?

Pertanyaan yang tepat sering membawa kita lebih dekat pada langkah yang masuk akal. Kita tidak tergesa membuat kesimpulan. Kita membaca pengalaman, mencari sebab, mencoba perbaikan, lalu belajar lagi dari hasilnya.

Menjaga adab, merawat arah

Tradisi Islam memberi dasar yang kuat untuk belajar bersama. Syura dalam kehidupan Rasulullah ﷺ menghadirkan ruang untuk mendengar, menimbang, dan mencari pilihan terbaik.

Ada adab di dalamnya. Ada kesediaan untuk mendengar orang lain. Ada pula ikhtiar menjaga kepentingan bersama.

Semangat seperti itu tumbuh dalam kehidupan organisasi cendekia. Ilmu bertemu dengan pengalaman, pendapat bertemu dengan pendapat lain, lalu keputusan lahir melalui pertimbangan yang matang. Yang dicari bukan kemenangan satu suara, melainkan manfaat yang bisa dijaga bersama.

Di balik proses belajar bersama, ada hal yang tetap perlu dijaga: niat dan cara kita memperlakukan pengalaman.

Catatan tentang keberhasilan maupun kekurangan sebaiknya tidak berubah menjadi bahan untuk menilai orang lain. Ia lebih berguna ketika dipakai untuk memahami apa yang terjadi, memperbaiki langkah, dan menjaga arah pengabdian. Di situ, belajar organisasi menjadi lebih manusiawi.

Perubahan semacam ini bisa berawal dari hal-hal yang dekat: satu catatan yang dibagikan, satu praktik baik yang ditularkan, satu orsat yang didengar, satu orda yang diapresiasi, atau satu batom yang pengalamannya dipelajari. Kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus dapat membentuk budaya belajar.

Maka, pengalaman Orda, Orsat, dan Batom layak mendapat ruang lebih besar dalam percakapan organisasi. Pelan saja, asal tekun. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Tak perlu saling menunjuk. Lebih baik saling menguatkan.

Pengetahuan juga tumbuh dari kerja yang senyap, pengalaman daerah, dan langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik.

Kalau niatnya dijaga, solusi punya ruang yang baik untuk tumbuh. Ilmu membantu menjernihkan langkah, kolaborasi membuat ikhtiar lebih kuat, dan manfaat menjadi ukuran yang bisa dirasakan bersama.

Insyaallah, budaya belajar yang dirawat dari banyak tempat akan terus memperkaya perjalanan ICMI sebagai rumah para cendekiawan muslim.

Bagus Suminar
Aktivis ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.