Suaramuslim.net – Kemerdekaan Indonesia ini diraih dengan dua kekuatan; kekuatan doa para pejuang dan pribadi syukur para pahlawan.
A. Kekuatan doa para pejuang
Ada dua kisah pada masa Rasulullah yang dapat dijadikan pelajaran bagaimana kekuatan doa itu dahsyat untuk mencapai harapan. Yaitu dua kisah yang menakjubkan;
Kisah saat Nabi Muhammad berhijrah dan terlebih dahulu bersembunyi di gua Tsur
Saat itu beliau ditemani sahabatnya di dalam gua yaitu Sayidina Abu Bakar Ash Shiddiq. Sahabatnya itu nampak panik dan terus berdoa, namun Nabi Muhammad menenangkannya seraya berkata “la tahzan innallaha ma’ana”. Ini diabadikan di Q.S. At Taubah ayat 40.
اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ٤٠
Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Perhatikan dari ayat itu nampak yang ketakutan dan terus berdoa adalah Abu Bakar sedangkan Nabi yang menenangkannya.
Kisah di Perang Badar
Dalam momentum ini justru Nabi Muhammad yang terus berdoa hingga imamah beliau terjatuh dan Abu Bakar yang menenangkan Nabi.
Nabi berdoa dengan doa yang menggetarkan ‘arsy Allah;
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
Ya Allah penuhilah janji-Mu padaku, ya Allah berilah apa yang telah Engkau janjikan padaku, ya Allah jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah niscaya tak ada lagi orang yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini.
Dan doa itu dikabulkan dengan jawaban Allah dalam Q.S. Al Anfal ayat 9 dan 10.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.
وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Nampak dari dua kisah itu ada dua keadaan yang terbalik dan memunculkan dua pelajaran yang besar. Yaitu keadaan yang pertama di gua Tsur, Nabi berposisi sebagai penenang Abu Bakar, sedangkan di perang Badar justru Abu Bakar yang menenangkan Nabi Muhammad.
Ada dua pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa tersebut;
Kepasrahan total kepada Allah dengan doa di saat sudah tidak ada lagi jalan keluar. Doa terus dilakukan tidak boleh berhenti terlebih saat masih banyak peluang yang harus dikerjakan.
Doa adalah senjata yang membuat hati seseorang menjadi tenang.
Karena itu doa harus berlandaskan kepada dua hal supaya dapat terkabulkan dan menghasilkan ketenangan;
Pendoanya harus menjalankan perbuatan yang diridai Allah.
Pendoanya harus yakin. Karena keyakinan inilah yang mewujudkan doa sesuai harapan.
Dua hal itu diungkapkan oleh Allah di Q.S. Al-Baqarah ayat 186.
B. Meraih kemerdekaan dengan pribadi syukur para pahlawan
Ada ayat yang motivatif sekali membangun jiwa-jiwa menjadi jiwa yang bersyukur, yaitu Q.S. An Nisa ayat 147;
مَا يَفْعَلُ اللّٰهُ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَاٰمَنْتُمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا ١٤٧
Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.
Apa itu syukur?
Di ujung ayat itu ada dua sifat Allah yaitu Syaakiran (Maha Mensyukuri atau Bersyukur) dan ‘Aliiman (Maha Mengetahui).
Kalau sifat Allah Yang Maha Mengetahui dari terjemahannya saja dapat dipahami dengan mudah, tapi bagaimana dengan sifat-Nya Maha Mensyukuri atau Maha Bersyukur?
Karena kalau kita ‘mensyukuri’ sesuatu itu artinya kita butuh terhadap sesuatu. Atau kalau kita bersyukur ya pastinya bersyukur kepada Allah.
Bagaimana jika sifat itu dinisbatkan kepada Allah? Padahal Allah tidak membutuhkan kepada apapun, justru sebaliknya apapun dan siapapun yang membutuhkan Allah!
Karena itu kita butuh tafsir dari arti ‘Syakara’ secara bahasa yang berarti banyak ‘memberi dan sedikit menerima’.
Berarti, sifat Allah Maha Bersyukur adalah Allah Maha Banyak memberikan karunia kepada hamba-hamba-Nya.
Artinya manusia yang bersyukur adalah manusia yang banyak memberi dan sedikit menerima.
Bagaimana cara memiliki pribadi syukur sehingga menjadi pejuang kemerdekaan yang sejati?
Ada tiga hal sederhana untuk menjadi bangsa yang bersyukur.
1. I’tiraafan (pengakuan)
Pengakuan yang tulus bahwa semua yang ada dan dirasa atau tidak, adalah nikmat yang datangnya dari Allah.
Karena itu pula harus diakui bahwa kemerdekaan bangsa ini adalah berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Di samping juga usaha perjuangan yang luhur dari pahlawan kita.
Contohlah teladan dari sikap putra Daud, Nabi Sulaiman, ketika mendapatkan kenikmatan yang sangat luar biasa dalam Q.S. An-Naml ayat 38-40;
{قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (38) قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40) }
Sulaiman berkata, “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”
‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”
Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya).
Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”
Nabi Sulaiman alaihis salam memiliki sikap yang luar biasa ketika mendapatkan anugerah di luar kemampuannya dengan ucapan;
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya)”
Jangan sombong seolah pencapaian kita murni usaha diri kita sendiri!
Karena menafikan Allah atas setiap nikmat adalah kekufuran dan kesombongan. Dan hal itu akan membuat Allah murka, seperti yang terjadi pada Qarun.
Qarun dengan sombongnya berkata terkait kenikmatan hidupnya;
{قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي}
Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78)
Itulah sikap Nabi Sulaiman yang wajib kita teladani, dan jangan menjadi pribadi Qarun yang kufur lagi sombong.
Ternyata pendiri bangsa sudah mencontoh sikap Nabi Sulaiman dengan mengakui kemerdekaan bangsa ini karena anugerah Allah Yang Mahakuasa. Bahkan ucapan Nabi Sulaiman di An Naml 40 di atas menjadi inspirasi dalam Preambule UUD 1945. Lihatlah alenia ketiga;
“Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Dan bagi generasi zaman now, harusnya mengakui bahwa hidup nyaman sekarang ini (tidak dijajah secara fisik), adalah karunia Allah dan para pahlawan. Karena pengakuan ini penting sebagai sikap Berketuhanan Yang Esa untuk mengisi kemerdekaan ini ke arah yang lebih baik.
2. Tahaddutsan bin ni’mah (ungkapkan kebaikan nikmat itu)
Ungkapkan bahwa ini nikmat dan kebaikan Allah, sehingga kita beruntung menjadi hamba-Nya.
Carilah nikmat mana yang belum disyukuri sebagai anugerah-Nya. Sebutkan kebaikan teman, istri atau siapa saja, sehingga kita merasa beruntung punya teman baik dan istri yang salehah.
Mengungkapkan sesuatu sebagai sebuah kenikmatan yang datangnya dari Allah, itu jauh lebih baik daripada mencari-cari nikmat yang belum didapat.
Ungkapan positif terhadap nikmat ini dapat menjadi energi diri untuk berkarya lebih baik.
3. Tashrif fi mardhatillah (menggunakan nikmat pada yang diridai Allah)
Semua nikmat harusnya digunakan kepada hal positif dan disenangi Allah.
Mata, gunakanlah dengannya memandang yang halal.
Mulut, gunakanlah dengannya bicara yang baik.
Tangan, kaki, dan seterusnya.
Inilah dua kekuatan yang mendasari keberhasilan kemerdekaan negeri kita. Wallahu A’lam.
M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
17 Agustus 2026/4 Rabiul Awwal 1448

