121 tahun Syarikat Islam: Menyalakan kembali api ekonomi rakyat di Surabaya

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Surabaya, menjadi sejarah sebagai kota tempat H.O.S. Tjokroaminoto pertama kalinya meniupkan api kesadaran berdagang bagi kaum pribumi pada 1913 silam.

Di sinilah Majelis Tahkim atau Kongres Nasional ke-42 Syarikat Islam (SI) resmi dibuka, mengusung tema besar yang sarat makna: “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati”.

Bagi SI, usia 121 tahun bukanlah sekadar angka penanda umur organisasi. Ini adalah sebuah testament panjang tentang keteguhan, perlawanan terhadap ketimpangan, dan ikhtiar abadi untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman kemiskinan.

Dalam pidatonya yang membakar semangat para kader, Presiden Syarikat Islam, Hamdan Zoelva, mengingatkan kembali esensi kehadiran organisasi ini sejak era kolonial hingga hari ini.

“Hari ini insyaa Allah kita memenuhi amanat konstitusi Majelis Tahkim, kongres bertema Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati,” tutur Hamdan Zoelva di hadapan belasan ribu kader dan simpatisan yang memadati arena kongres.

Hamdan menyoroti bagaimana sejarah pergerakan bangsa kerap kali melupakan akar rumput yang sesungguhnya.

Syarikat Islam lahir sebagai simbol perlawanan kaum pribumi terhadap ketidakadilan ekonomi yang berpihak pada kepentingan asing.

Hari ini, musuh utama umat bukanlah lagi penjajah bersenjata, melainkan jerat kemiskinan dan ketimpangan struktural.

“Masalah ekonomi dan kemiskinan. Kita hendak bangkit dan melawan. Gerakan perbaikan umat, lewat ekonomi,” tegas Hamdan.

Senada dengan Hamdan, Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, yang hadir dalam perhelatan tersebut, melontarkan kritik reflektif sekaligus historis yang mencuri perhatian publik.

“Kalau boleh jujur, gerakan kebangkitan nasional pertama adalah Syarikat Islam, tapi yang kita peringati Boedi Oetomo. Persatuan Nasional, Sumpah Pemuda, padahal Syarikat Islam yang pertama,” ungkap Zulkifli Hasan.

Zulkifli menyoroti ironi struktural yang masih dirasakan oleh rakyat kecil hingga detik ini, khususnya para petani dan peternak lokal.

Keberpihakan negara, menurutnya, harus benar-benar diletakkan di atas pundak mereka yang selama ini terpinggirkan oleh arus pasar global yang tidak adil.

“Petani kita miskin, petani luar kita untungkan. Dan itulah yang terjadi berpuluh tahun. Kita perlu berpihak pada petani dan peternak Indonesia,” serunya.

Dari Surabaya tahun 1913 di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, hingga Surabaya tahun 2026, api perjuangan itu tidak pernah padam.

Ia hanya disulut kembali agar lebih terang. Kemerdekaan sejati, sebagaimana ditekankan dalam kongres ini, bukan sekadar kebebasan politik, melainkan kedaulatan ekonomi di atas kaki sendiri.

Syarikat Islam sekali lagi membuktikan bahwa napas perjuangan abad kedua ini tidak berhenti pada romantisme masa lalu, melainkan sebuah komitmen hidup, mewarisi apinya, memperbarui jalan perjuangannya.

Penyunting: Muhammad Nashir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.