Kemiskinan turun, mengapa hidup masih berat?

Suaramuslim.net – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan kabar menggembirakan. Ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,84 persen pada semester I 2026, sementara angka kemiskinan turun menjadi 9,06 persen.

Tentu berita ini patut disyukuri. Namun, di tengah kabar baik tersebut, masih ada keluarga yang harus berhitung setiap kali berbelanja kebutuhan dapur. Ada pula yang terkena PHK atau kesulitan membayar kebutuhan anak-anaknya.

Mengapa angka kemiskinan menurun, sementara sebagian masyarakat masih merasa hidup begitu berat?

Kabar baik itu disampaikan dalam peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, 12 Oktober 2026.

Pemerintah provinsi tentu memiliki alasan untuk menyampaikan capaian tersebut. Menurunkan kemiskinan bukan pekerjaan mudah. Apalagi di provinsi dengan penduduk lebih dari 40 juta jiwa dan keadaan ekonomi masyarakat yang sangat beragam.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk dicermati. Sebenarnya, kapan seseorang dianggap sudah tidak miskin? Kapan ia benar-benar bisa hidup tenang tanpa terus mencemaskan kebutuhan keluarganya?

Naik kelas karena 20 ribu rupiah

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), garis kemiskinan Jawa Timur pada Maret 2026 sebesar Rp609.732 per orang per bulan. Angka ini merupakan rata-rata provinsi. Untuk wilayah perkotaan, garis kemiskinannya sebesar Rp630.615.

Mari kita bayangkan dua keluarga yang sama-sama tinggal di perkotaan. Keluarga pertama memiliki pengeluaran rata-rata Rp620.000 per orang setiap bulan. Keluarga kedua Rp640.000. Selisihnya hanya Rp20.000.

Dengan menggunakan garis kemiskinan perkotaan tersebut, keluarga pertama masih tergolong miskin, sedangkan keluarga kedua sudah berada sedikit di atas batasnya.

Secara statistik, status keduanya berbeda. Padahal, selisih Rp20.000 per orang belum tentu membuat kehidupan sehari-hari mereka jauh berbeda.

Keluarga kedua memang sudah melewati garis kemiskinan. Namun, ketika pergi ke pasar, penjual beras tentu tidak memberikan potongan harga karena status mereka sudah berubah.

Perbedaan kategori itu belum tentu menunjukkan perubahan kesejahteraan yang berarti. Keluarga dengan pengeluaran sedikit lebih tinggi belum tentu mempunyai uang untuk memperbaiki rumah atau menabung untuk kebutuhan mendatang.

BPS menggunakan garis kemiskinan berdasarkan penghitungan kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, termasuk perumahan, pakaian, pendidikan, serta kesehatan.

Pengukuran ini penting untuk memantau perkembangan kemiskinan dan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan.

Data BPS pun menunjukkan perbaikan. Jumlah penduduk miskin Jawa Timur pada Maret 2026 berkurang sekitar 92 ribu orang dibandingkan September 2025.

Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga menurun. Kabar itu patut dihargai. Hanya saja, mampu memenuhi kebutuhan paling dasar belum tentu membuat kehidupan sebuah keluarga cukup aman.

Emha Ainun Nadjib, yang lebih dikenal sebagai Cak Nun, adalah budayawan dan penyair yang kerap menyuarakan persoalan rakyat kecil.

Dalam esainya, Menghisab Kedermawanan Tuhan (2017), ia mempertanyakan ukuran kekayaan suatu negara. Siapa sebenarnya yang kaya, negara, pejabat, atau rakyatnya? Ia kemudian menghadirkan suara rakyat kecil:

Kami rakyat kecil takut salah kepada Negara kalau kami bilang kami miskin, tetapi memang sekarang semakin susah cari penghidupan.

Hari ini cukup, besok belum tentu

Mari kita membayangkan keluarga yang penghasilannya hanya sedikit melebihi kebutuhan sehari-hari. Mereka masih mampu membeli beras, membayar listrik, dan memenuhi kebutuhan anak. Sesekali masih bisa membeli telor atau ayam untuk lauk makan bersama.

Lalu sepeda motor yang dipakai bekerja rusak. Uang perbaikan diambil dari jatah belanja. Belum selesai urusan itu, anaknya sakit dan membutuhkan obat serta biaya tambahan.

Tabungan tidak ada. Meminjam kepada saudara pun belum tentu berhasil. Cari pinjol? Uangnya mungkin cepat cair, tetapi bulan depan sudah ada cicilan baru yang menunggu. Masalah hari ini selesai, bulan depan belum tentu.

Keluarga seperti itu dapat berada di atas garis kemiskinan pada saat pengukuran, namun belum mempunyai cadangan uang yang cukup untuk keadaan darurat. Mereka bekerja dan memperoleh penghasilan, tetapi hasilnya hampir selalu habis sebelum akhir bulan.

Bagaimana kalau masalahnya bukan lagi motor rusak, melainkan kehilangan pekerjaan? Suami di-PHK, istri mencoba menambah penghasilan dengan berjualan makanan kecil-kecilan. Sementara itu, biaya sekolah anak, tagihan listrik, dan kebutuhan dapur tetap harus dibayar.

Keluarga yang sebelumnya berada di atas garis kemiskinan kini harus berjuang agar tetap bisa makan sampai akhir bulan.

Shubham Chaudhuri, Jyotsna Jalan, dan Asep Suryahadi membahas persoalan tersebut dalam penelitian Assessing Household Vulnerability to Poverty from Cross-sectional Data: A Methodology and Estimates from Indonesia (2002).

Mereka menawarkan metode untuk memperkirakan kerentanan rumah tangga terhadap kemiskinan pada masa mendatang, yang dikenal sebagai Vulnerability to Poverty.

Status kemiskinan yang tercatat hari ini menunjukkan keadaan pada saat survei. Tetapi rumah tangga yang sekarang tidak miskin masih dapat jatuh ke bawah garis kemiskinan ketika penghasilannya berkurang atau menghadapi guncangan ekonomi.

Penelitian itu menggunakan data rumah tangga Indonesia untuk memperkirakan risiko tersebut. Artinya, perhatian kepada keluarga berpenghasilan rendah tidak seharusnya berhenti ketika mereka sudah melewati garis kemiskinan.

Dalam Paviliun di Sorga (2018), Cak Nun mengenang kehidupannya di Yogyakarta pada awal 1970-an bersama sejumlah sahabat penyair. Mereka punya pakaian, namun urusan makan belum tentu terjamin. Ia menulis:

Adapun Peradaban Pangan, itu adalah spekulasi, harapan dan doa setiap saat.

Esai itu sebenarnya mengenang kebaikan Darmanto Jatman. Ketika Cak Nun sakit dan tak mempunyai tempat yang layak untuk beristirahat, Darmanto bersama dua sahabat lain bergantian menolongnya.

Di tengah ketidakpastian makan dan tempat tinggal, pertolongan seorang sahabat menjadi sangat berarti.

Bantuan sahabat membuat hari itu sedikit lebih ringan. Namun, persoalan makan dan tempat tinggal belum tentu selesai. Besok masih harus memikirkan kebutuhan yang sama. Begitulah beratnya hidup dalam ketidakpastian. Hari ini cukup, besok belum tentu.

Sudah tidak miskin, lalu?

Kita kembali pada angka yang disampaikan Gubernur Khofifah. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan penurunan kemiskinan merupakan kemajuan yang patut diapresiasi. Pemerintah provinsi pun menjalankan berbagai program perlindungan dan pemberdayaan, seperti PKH Plus dan Jatim Puspa Plus.

Di luar penduduk yang tercatat miskin, ada keluarga yang pengeluarannya sedikit lebih tinggi daripada garis kemiskinan. Mereka belum tentu memerlukan bantuan yang sama, tetapi tetap saja mereka menghadapi risiko kehilangan penghasilan.

Berapa banyak jumlah mereka di Jawa Timur? Persentase penduduk miskin saja tidak menjawabnya. Kita membutuhkan gambaran tentang penduduk rentan, keadaan pekerjaan, dan kemampuan keluarga menghadapi biaya tak terduga.

BPS sebenarnya memiliki indikator lain untuk membaca keadaan masyarakat, termasuk kedalaman kemiskinan, ketimpangan pengeluaran, dan pengangguran. Angka 9,06 persen layak dibaca bersama ukuran-ukuran tersebut.

Dengan begitu, kita mengetahui bahwa jumlah penduduk miskin menurun, tanpa menganggap semua yang berada di atas garis kemiskinan telah aman secara ekonomi.

Orang yang pengeluarannya berhasil melewati garis kemiskinan tidak mendapat pemberitahuan khusus. Tidak ada piagam, apalagi pesta kecil di rumah. Ia mungkin bahkan tidak tahu bahwa dirinya sudah naik kelas, berpindah kategori. Yang ia tahu, uang belanja harus cukup sampai akhir bulan.

Cak Nun pernah menulis tiga baris dalam Syair Berhala (1986) yang menarik untuk direnungkan:

Berhala
kesejahteraan yang terjebak
nurani bangsa yang tersepak

Angka kemiskinan yang menurun tetap merupakan kabar baik. Kita patut mensyukurinya. Namun, di rumah sebuah keluarga yang baru melewati garis kemiskinan, kehidupan belum tentu banyak berubah.

Uang untuk makan, listrik, dan sekolah masih harus dibagi dengan hati-hati. Kalau ada sedikit sisa, disimpan untuk keperluan mendadak. Itu pun kalau ada sisanya.

Mereka sudah tidak miskin menurut statistik, tetapi untuk merasa tenang tunggu dulu, apakah mereka sudah yakin kebutuhan hidup bulan depan bisa terpenuhi?

Bagus Suminar

Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.