SURABAYA (Suaramuslim.net) – Padatnya jadwal dalam menempuh pendidikan medis ternyata tidak menjadi halangan untuk terus memperdalam hafalan Al-Qur’an.
Hal ini dibuktikan oleh dr. Jordan Fahmi (30), seorang dokter residen Ilmu Penyakit Dalam di RSUD dr. Soetomo dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, yang sukses mengikuti program sertifikasi tahfidz Al-Qur’an.
Pria yang tengah menjalani pendidikan setara S2 profesi spesialis ini membagikan kisah inspiratifnya dalam menyeimbangkan dunia medis dan spiritual.
Menurut dr. Jordan, fondasi agamanya telah ditanamkan sejak kecil oleh sang ayah yang berlatar belakang religius. Ia selalu dituntut untuk menyeimbangkan pencapaian pendidikan akademik formal dan ilmu agama.
Komitmen mendalamnya untuk menghafal Al-Qur’an mulai tumbuh kuat pada tahun 2017. Saat itu, ia merasa banyak waktu luang di masa mudanya yang terbuang sia-sia.
“Saya coba terus introspeksi dan muhasabah. Saya putuskan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan terus berzikir. Menurut saya, zikir yang paling mudah, menyenangkan, dan bisa terus-menerus dilakukan adalah dengan menghafal Al-Qur’an,” ungkap dr. Jordan.
Terkait keputusannya mengikuti program sertifikasi tahfidz di Griya Al Qur’an, dr. Jordan menjelaskan bahwa hal itu murni atas kemauan pribadi untuk menjaga konsistensi, bukan karena tuntutan akademik.
Ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan target nyata agar terus bersemangat dalam menghafal.
Griya Al Qur’an pun menjadi pilihannya karena menawarkan fleksibilitas yang sangat dibutuhkan oleh para profesional dengan jadwal padat seperti dirinya.
“Di tempat lain biasanya untuk mendaftar sertifikasi harus menunggu momen tertentu, misalnya setahun atau enam bulan sekali. Sedangkan di Griya Al Qur’an ini, kita siapnya kapan, bisa langsung menjadwalkan janjian dengan pengujinya. Sangat memfasilitasi,” jelasnya.
Selain fleksibilitas waktu sertifikasi, dr. Jordan juga mengapresiasi program-program Griya Al Qur’an yang dinilai sangat ramah bagi pekerja profesional.
Program seperti layanan mendatangkan guru mengaji ke rumah atau kantor dinilai sebagai solusi cerdas bagi mereka yang kesulitan menyisihkan waktu untuk datang langsung ke tempat belajar.
Menutup kisahnya, dr. Jordan mengajak masyarakat luas untuk lebih bijak menggunakan waktu yang tersisa.
“Waktu kita sebagai manusia di dunia ini terbatas. Sebisa mungkin manfaatkan setiap waktu yang berlalu. Memanfaatkan waktu paling mudah adalah dengan berzikir, yaitu membaca Al-Qur’an. Dan itu akan jauh lebih nikmat kalau kita membacanya dalam kondisi sudah hafal,” pungkasnya.
Kontributor: Cantiku Islami
Penyunting: Muhammad Nashir

