Agar Cinta Bersemi Indah, dalam Sakinah nan Berkah

Suaramuslim.net – Menikah adalah impian yang ingin dicapai setiap orang. Khususnya pada jiwa-jiwa muda yang kini tengah beranjak dewasa. Karena berpasangan adalah fitrah dari sang pencipta. Ialah jalan yang dianjurkan agama untuk menjaga diri dari ketergelinciran dosa, serta sunnah rasul yang dijadikan sarana untuk menggenapkan separuh agama.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Nikah adalah sunahku. Siapa pun yang tidak mengamalkan sunahku, bukanlah golonganku. Menikahlah, sebab aku akan berbangga dengan jumlah kalian di hadapan umat-umat yang lain. Siapa pun yang memiliki kemampuan, menikahlah. Namun, orang yang belum memiliki kemampuan, hendaklah puasa. Sebab, puasa merupakan benteng baginya.” (HR. Ibnu Majah dari Aisyah)

Namun jalan untuk menempuhnya pun juga beraneka ragam. Ada yang menempuhnya dengan jalan yang diridhoi Allah namun ada pula yang menempuhnya dengan jalan yang dimurkai-Nya. Pada era sekarang ini upaya penjajakan menuju pernikahan dengan jalan mendekati zina atau yang lebih dikenal dengan pacaran adalah suatu hal yang dianggap wajar.

Baca Juga :  Memburu Sakinah dalam Menikah

Sebaliknya, orang yang berupaya menjaga diri untuk tidak pacaran, dan ingin langsung menikah justru dianggap aneh dan perlu “dicurigai”. Dalih pacaran digunakan sebagai alasan untuk mengenal lebih dekat calon pasangan yang akan dinikahinya. Padahal lamanya pacaran juga tidak menjamin kan langgengnya pernikahan mereka kelak. Bahkan ada yang merasa cintanya begitu dingin, tidak semenggebu ketika pacaran justru setelah pernikahan.

Kecenderungan, rasa tenteram, serta kasih sayang akan diberikan sebagai hadiah Allah kepada sepasang pengantin yang meniatkan pernikahan itu sebagai upaya penggenapan separuh agama. Hadiah itu akan diberikan setelah pernikahan itu berlangsung. (Ingat, bukan sebelum pernikahan, apalagi dengan mekanisme pacaran).

Jadi, jangan khawatir jika kita memang telah dimantapkan Allah untuk menerima calon pasangan hidup kita lewat istikharah kita, maka cinta itu akan datang setelah ayah kita mengucapkan : ”Yaa fulan, ankahtuka fulanah bintii.. bimahrihaa… haalan,” dan dibalas dengan ucapan: ”qobiltu,” oleh lelaki yang kemudian menjadi suami kita. Sehingga cinta pun akan selalu bersemi indah dalam sakinah nan berkah. Wallahu a’lam bishawab.

Bukankah sakinah itu hadiahnya? Tak perlu kau mencarinya
Pada setiap jejak di savana hingga balik gerumbul semak
Karena, dia mungkin turun, Saat kau menjadikan-Nya
Pusat pusaran cintamu

(Afifah Afra)

Kontributor: Santy Nur Fajarviana*
Editor: Oki Aryono

*Pengajar di MIT Bakti Ibu Madiun

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.