Ainun Jalut; Melawan Mitos Sejarah Kedigdayaan Hulagu Khan

51
Ainun Jalut; Melawan Mitos Sejarah Kedigdayaan Hulagu Khan

Judul Buku : Against The Myth of Hulagu (Ain Jalut, Melawan mitos Hulagu)
Kategori :
Fiksi Sejarah
Pengarang :
Indra Gunawan, Lc
Penerbit :
PT Elex Media Komputindo Kompas-Gramedia
Alamat Penerbit :
Jl. Palmerah Barat 29-37, Jakarta 10270
Edisi Cetakan :
Pertama
Tahun Terbit :
Februari 2014
Tebal Buku :
398 Halaman
Tipe : 
Soft Cover
Harga Buku :
62.800

 

-Advertisement-

Suaramuslim.net – Supaya sejarah Islam tak terkesan menjemukan dan garing, pakar sejarah dituntut untuk menyajikannya dengan sajian yang senikmat dan senyaman mungkin bagi para pembaca. Karena itulah menulis sejarah dalam bentuk sastra yang dalam hal ini fiksi sejarah merupakan tantangan tersendiri bagi pakar sejarah.

Mengapa tantangan? Karena penulis tak hanya dituntut untuk menguasai detail-detail pengetahuan sejarah, pada waktu yang sama ia juga dituntut untuk menyajikannya dengan indah, renyah dan layak baca. Pada sudut pandang ini lah Anda akan bisa menikmati novel fiksi-sejarah yang berjudul “Ain Jalut, Melawan Mitos Hulagu”, karya Indra San Meazza, Lc.

Buku novel fiksi sejarah ini dicetak oleh penerbit buku PT Elex Media Komputindo Kompas-Gramedia, Jakarta. Pengarang adalah jebolan Al-Azhar yang studi S2-nya di bidang sejarah dan peradaban Islam.

Baca Juga :  Amerika Serikat Lancarkan Serangan Udara di Somalia

Penulis merupakan alumni pondok pesantren modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di Mesir, penulis tergolong mahasiswa yang aktif dan organisatoris. Aktif di berbagai organisasi, produktif dalam menulis, dan kerapkali menjuarai berbagai perlombaan karya tulis yang diadakan organisasi kemahasiswaan di Mesir. Di antara karya-karya yang ditulisnya diantaranya; Fiksi (Kidung Doa di Taman Kurma, Kado untuk Mujahid, Apa Kabarmu di Alam Sana, dan Novel Takdir Cinta), Non Fiksi (Timur Tengah dalam Lintas & Pascakemerdekaan, dan Laskar Syuhada`).

Novel fiksi-sejarah ini merupakan novel kedua, dwilogi dari novel sebelumnya yang berjudul, “The Downfall of the Dynasti Khianat di Tanah Baghdad”. Setting, dan latar sejarahnya masih sama-sama menceritakan keganasan dan kedigdayaan bangsa Mongol dalam menginvasi negara-negara Islam secara khusus, dan negara-negara di dunia pada umumnya.

Dalam novel kedua ini, Indra Gunawan atau Indra San Meazza melanjutkan kisah sejarah invasi Mongol pada negeri-negeri Islam, yang pada puncaknya ternyata mitos tentang tidak terkalahkannya Mongol bisa dilawan.

Mitos bahwa Hulagu tak terkalahkan nantinya akan terjawab pada pertempuran Ainun Jalut, pada bulan Ramadhan, yaitu ketika pasukan mamalik di Mesir dengan mantap menyatukan suara untuk berjihad melawan mongol yang dikomandoi Saifudin Quthus.

Baca Juga :  Kebijakan Umar bin Al Khathab

Dalam novel ini, di samping dilengkapi dengan ensiklopedi mini sejarah Islam, para pembaca juga akan mendapat suguhan menarik mengenai sejarah Islam. Di samping kita bisa mendapatkan fakta sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, kita juga mendapat suguhan-suguhan yang tak meembuat bosan, bahkan semakin memperkuat karakter novelnya.

Di antara tokoh sejarah yang diangkat adalah Sultan Alaudin Muhammad Al-Khawarizmi, Jalâludin, Aisyah Khatun, Mamdud, Jihan Khatun, Dhahir Bybars, Izz bin Abdissalam dan lain sebagainya. Sedangkan tokoh imaginer bisa kita baca melalui sosok Said, Wael, Jakfar, Fadhil, Zubaidah Zilan, dan Syekh Usamah.

Kita akan dibuat kagum oleh ungkapan istri salihah yang romantis, Jihan Khatun istri Mamdud. “Aku ingin menjadi permata hatimu, suamiku. Aku ingin menghapus letihmu dengan senyumku,…(hal:16)’. Kita akan terkesima dengan cinta antara Jihad (Julanar) dan Mamduh (Saifudin Quthus), meski gelombang derita sempat memisahkan jarak dan ruang mereka, namun takdir mempertemukan mereka kembali ketika Mamduh menjadi Panglima Mamalik, dengan nama Saifudin Quths.

Kita juga bisa melihat sosok Said, pemuda yang sebelumnya sukses dalam bisnis, lantaran kedengkian saudara tiri akhirnya ia jatuh miskin sampai akhirnya ia putus asa, ingin bunuh diri di sungai. Demikian pula sosok Fadhil, pemuda yang tampan dan dimanjakan oleh keberlimpahan harta tuannya, sampai akhirnya kandas akibat ulah perompak gurun yang menghabisi tuan dan keluarganya, hingga ia pun hampir menjadi gila.

Baca Juga :  Menengok Kejayaan Islam di Masa Kerajaan Ustmani

Ibarat kain, penulis mampu menjahit dengan indah antara kisah nyata dengan penguatan kisah tokoh imaginer, sehingga menyerupa baju yang indah dilihat dan nyaman untuk dipakai. Penulis berhasil mengangkat kisah sejarah umat Islam masa lalu dengan balutan sastra yang indah.

Walaupun demikian –terlepas dari kelebihan buku-, tetap saja ada beberapa kesalahan dalam penulisan, misalnya; pada hal. 15 (yang semestinya Mamdud ditulis menjadi Mandud), pada hal 23 paragraf kesatu (Mamduh ditulis Mamdud), dan kalau kita membaca literasi sejarah sebenarnya anak Mamdud adalah Mahmud, bukan Mamduh.

Secara umum novel fiksi-sejarah ini sangat bagus dan layak untuk dibaca oleh mereka yang gemar sejarah. Cocok dibaca bagi siapa saja yang memandang sejarah bukan sekadar rekaman masa lalu, tapi sebagai kompas untuk menuju masa depan gemilang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.