Al Ghaffar
Ilustrasi laki-laki berdoa di dalam masjid. (Foto: Aswaja.com)

Suaramuslim.net – Al Ghaffar, satu di antara nama Allah yang sering disebut. Nama itu selalu disebut saat orang punya banyak salah dan dosa. Bagi mereka yang butuh untuk mendekat kepada Allah memang sering diterjemahkan ke dalam makna Maha Pengampun.

Dalam ayat di QS At Thaha ayat 82, ”Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh kemudian di jalan yang benar.” Pada tiga kata “Aku Maha Pengampun” memakai “Laghaffar” yang bermakna Maha Pengampun.

Namun apakah sesederhana itu makna dari Al Ghaffarnya Allah? Tentu tidak. Di sana ada makna yang lain dan tentu lebih dalam. Al Ghaffar diambil dari akar kata ghafara yang bermakna menutupi. Selain itu dipakai nama sejenis tumbuhan yang bisa untuk obat dari sebuah penyakit.

Jika diambil dari kedua makna yang menutupi dan obat dari sebuah penyakit, sudah ada perluasan makna di sana. Dari menutupi bisa diambil hikmah jika Allah dengan nama Al Ghaffar juga bisa menutupi segala sesuatu dengan sesuatu. Apapun itu. Jika diambil dari makna mengobati suatu penyakit maka Allah dengan nama tersebut juga mengobati penyakit atas sebuah kesakitan. Sebagaimana dengan kebutuhan manusia, Allah mengobati penyakit-penyakit kejiwaan manusia.

Baca Juga :  Memurnikan Tobat Menuju Muslim yang Taat

Al Imam Al Ghazali mampu memaknai Al Ghaffar secara luas. Pertama, Allah menutupi organ manusia sehingga tidak terlihat kotoran-kotoran yang ada di balik perut. Coba bayangkan jika kulit atau daging manusia transparan? Betapa menjijikkan manusia itu. Visual kotoran itu tidak menyedapkan mata. Sebagian orang dengan visual kotoran bisa muntah-muntah.

Kedua, Allah menutupi isi hati seseorang. Seandanya orang lain mengetahui keburukan isi hati kita. Apalah jadinya hubungan manusia? Bisa-bisa disharmonis. Jika kebetulan sedang ada kebencian dengan seseorang. Belum lagi jika menyimpan sebuah rahasia, maka tidak bisa dirahasiakan lagi. Padahal rahasia tetap rahasia. Tidak boleh semua orang tahu.

Ketiga, Allah menutupi kesalahan-kesalahan manusia. Jika dihitung, kemaksiatan seorang manusia itu sudah tak terhitung. Bisa dikata dunia adalah tempat kemaksiatan diumbar. Dan memang sudah menjadi kodrat manusia “harus” berdosa. Jika tidak berdosa tentu jadi malaikat. Semua kesalahan masa lalu akan tergambar dengan jelas jika Allah tidak menutupi aib-aib manusia tersebut.

Keempat, Allah selalu menutupi kesedihan-kesedihan manusia dengan perjalanan waktu. Artinya, Allah menjadikan waktu sebagai obat untuk kesedihan. Lambat? Tentu lambat. Bukankah pengobatan yang terbaik adalah pengobatan yang tidak terasa kesembuhannya? Seiring berjalan waktu seseorang yang ditinggal meninggal orang tua atau orang terdekat yang dikasihi akan hilang kesedihannya. Tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari dan seribu hari adalah hitungan waktu yang mampu menutup kesedihan. Bukankah setelah melewati seribu hari banyak yang “lupa” jika salah satu keluarga terdekat meninggal.

Baca Juga :  Memurnikan Tobat Menuju Muslim yang Taat (2)

Allah mengatur sedemikian rupa agar manusia tidak larut dalam kesedihan. Yang kesedihan tersebut akan merugikan dirinya sendiri. Merusak badannya dan menumbuhkan penyakit yang sebelum tiarab di bawah imun tubuh. Tidak saja menutupi kesedihan, namun mengganti kesedihan menjadi kegembiraan.

Keempat hal di atas merupakan nama hikmah yang sudah disibak oleh Imam Al Ghazali. Tentu saja bukan membatasi hanya empat. Nama dan sifatnya Allah yang begitu luas akan hikmah hanya sedikit yang bisa kita gali. Semoga bisa menggali lebih dalam lagi.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.