Al Quran Al-Karim, Bacaan yang Maha Sempurna dan Maha Mulia
Al Quran (Foto: Freepik)

Suaramuslim.net – Al Quran secara harfiah berarti Bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan dan maha mulia ini adalah definisi yang diutarakan oleh penafsir Indonesia yaitu Quraisy Shihab (1997). Kemahamulian dan kemahasempurnaan “bacaan” ini agaknya tidak hanya dapat dipahami oleh para pakar, tetapi juga oleh semua orang yang menggunakan sedikit pikirannya.

Tidak ada satu bacaan pun sejak peradaban tulis-baca dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya maupun yang tidak mengerti. Bahkan anehnya, juara dalam membacanya adalah mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Al Quran. Bukankah juara- juara MTQ tingkat internasional sering kali diraih oleh putra-putri bangsa kita?

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al Quran, yang dipelajari dan diketahui sejarahnya bukan sekadar secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi tahun, bulan, masa, dan musim turunnya—malam atau siang, dalam perjalanan atau di tempat berdomisili (Nabi Muhammad SAW), bahkan sebab-sebab serta saat-saat turunnya. Dan segala hal yang membicarakan ini dijadikan sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu Asbabun Nuzul.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al Quran, yang dipelajari redaksinya, bukan hanya dari segi penetapan kata demi kata dalam susunannya serta pemilihan kata tersebut. Tetapi mencakup arti kandungannya yang tersurat dan tersirat sampai kepada kesan-kesan yang ditimbulkannya dan yang dikenal dalam bidang studi Al Quran dengan tafsir isyari.

Tidak ada satu bacaan pun yang dipelihara, dibaca, dan dipelajari aneka macam bacaannya—yang jumlahnya lebih dari sepuluh serta ditetapkan tata cara membacanya—mana yang harus dipanjangkan atau dipendekkan, dipertebal ucapannya atau dihaluskan, di mana tempat-tempat yang boleh berhenti, yang dianjurkan dan dilarang untuk berhenti. Semua terhimpun dalam ilmu tajwid.

Baca Juga :  Masyaallah! Manisnya Al Quran Juga Dirasakan Penyair Kafir

Bahkan sampai pada lagu dan irama yang diperkenankan dan tidak. Bahkan lebih jauh lagi, sampai pada sikap dan etika membaca pun mempunyai aturan-aturan tersendiri.

Tidak ada satu bacaan pun, selain Al Quran yang diatur dan dipelajari tata cara penulisaannya, baik dari segi persesuaian dan perbedaannya dengan penulisan masa kini, sampai pada mencari rahasia perbedaan penulisan kata-kata yang sama seperti penulisan kata-kata yang sama seperti penulisan kata “bismi” yang pada wahyu pertama ditulis dengan menggunakan huruf alif seperti ba’. Sedangkan pada ucapan bismillah ditulis dengan alif dan kemudian ditemukan pertimbangan-pertimbangan yang sangat mengagumkan dari perbedaan-perbedaan tersebut.

Pernahkah kita mengetahui satu bacaan yang sifatnya seperti ini? Kalau tidak, wajarlah bila Kalam Ilahi yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dinamai dengan Al Quran, bacaan yang mencapai puncak kesempurnaan dari Maha Sempurna Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari semua fakta tadi, apakah kita betul-betul mengetahui dan membenarkan Al Quran sebagai bacaan yang sempurna? Sebagai seorang manusia pada umumnya kita terkadang terlena dan terpukau dengan banyak buku, bacaan fiksi atau pun bacaan ilmiah yang menarik dan menyenangkan. Bahkan kita mengidolakan para penulis buku yang kita anggap karangan dan tulisannya mampu memberikan informasi atau sensasi fiksi yang menyenangkan di dalam otak kita.

Baca Juga :  Soal Cadar di Kampus Islam

Memang tidak salah kita mengelu-elukan para penulis dan buku yang kita anggap baik dan bagus untuk dibaca, tetapi sungguh ironis apabila ada sebuah bacaan yang sempurna bahkan sebagai buku panduan hidup yang betul-betul benar karena berasal dari Yang Maha Benar tersedia dihadapan kita, kita bahkan tidak membacanya atau yang lebih tidak etis lagi kita meninggalkannya. Hal inilah yang seyogianya diperhatikan oleh kita terkhusus generasi muda Islam yang menjadi harapan bagi agama, bangsa dan negara.

Mengapa harus diperhatikan dan apa faedah atau manfaat dari memahami Al Quran bagi kita? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh kita yang berstatus sebagai muslim dan orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Al Quran memperkenalkan dirinya sebagai hudan linnas yang berarti petunjuk untuk seluruh manusia. Inilah fungsi utama kehadirannya, Al Quran bukan bacaan ilmiah ataupun bukan bacaan fiksi, karena fungsi utama Al Quran yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada manusia ialah untuk menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia serta bukti kebenaran. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Baqarah ayat ke-185. Oleh karena itu Al Quran menjelaskan tentang konsep dan tata cara hidup yang lurus dan sesuai dengan kehendak Sang Maha Pencipta.

Baca Juga :  Adab Membaca Al Quran

Karena hal inilah, sepantasnya bagi manusia untuk memperhatikan dalam artian memahami dan mengamalkan apa yang terkandung dalam Al Quran. Karena ketika kita meninggalkan pedoman hidup kita, cenderung kita akan terjebak dalam hal-hal yang membuat kita berada dalam titik terendah dalam hidup kita, depresi dan lain lain. Adapun faedah dari kita memahami Al Quran sendiri ialah kita mampu mengetahui konsep jalan hidup yang lurus dan sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia yang akan memberikan output kebahagiaan dalam kehidupan kita di dunia dan di akhirat kelak.

Kontributor: Ihsan Firdaus
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.