Menghargai waktu untuk belajar
Jam pasir

Suaramuslim.net – Ramadan ini mengajarkan banyak hikmah, salah satunya adalah waktu. Paling tidak kita saat ini sering melihat jam sebagai penunjuk waktu, tapi bukan waktu. Kapan buka tiba dan kapan sahur berakhir. Waktu adalah satu konsep fisika yang paling sulit dipahami. Konsep yang sama sulitnya adalah ruang.

Ruang dan waktu adalah dua konsep penting untuk memahami pengalaman. Untuk bergerak dalam ruang, kita butuh waktu, juga energi. Selama Ramadan ini, kita diminta hemat energi melalui pembatasan konsumsi. Ditambah PSBB akibat Covid-19 ini, di tengah banjir propaganda betapa mematikannya virus ini, sempurnalah pengalaman ruang dan waktu kita.

Mengapa pengalaman penting? Kata bijak mengatakan bahwa pengalaman adalah guru atau pelajaran terbaik. Memang pengalaman adalah papan lontar belajar sebagai sebuah proses. Tanpa pengalaman, belajar hampir pasti sulit dilakukan. Belajar sebagai proses harus dimulai dengan mengalami. Lalu berbicara, membaca dan menulis.

Belajar adalah sebuah siklus mengalami-berbicara-membaca-menulis yang diputar terus makin besar dan makin dalam. Bermain di luar ruang adalah cara memperoleh pengalaman ruang dan waktu yang terbaik.

Ada beda pendapat para fisikawan soal waktu. Newton mengatakan waktu itu seperti ether yang mengalir terus secara linier ke depan. Leibniz mengatakan bahwa waktu adalah hanya konsep untuk mengurutkan peristiwa. A concept in ordering of events.

Itulah mengapa selama kita dipaksa mengulang-ulang kegiatan di ruang yang sempit rumah kita, waktu terasa panjang. Membosankan. Agar tidak bosan, kita harus menciptakan rangkaian peristiwa kesibukan. Makin padat kesibukan, waktu terasa lebih pendek. Orang sibuk mengatakan life is damned too short.

Allah bersumpah demi waktu berkali-kali dalam Al-Qur’an. Bagi setiap jiwa telah ditetapkan rezeki dan ajalnya. Kematian adalah saat jiwa habis waktu dan rezekinya. Tidak bisa diperpanjang dan dipersingkat. Tapi kita tidak pernah tahu seberapa banyak jatah kita itu.

Oleh karena itu kita diminta senantiasa waspada kalau-kalau jatah waktu dan rezeki kita habis agar kita bisa mengakhiri jatah itu dengan keadaan terbaik husnul khatimah.

Oleh karena itu tidak terlalu penting panjang umur kalender. Lebih penting adalah panjang amal yang menciptakan banyak peristiwa dalam jatah waktu kita masing-masing. Sebagian orang mengatakan good men die young. Orang baik sibuk berbuat baik dalam waktu yang memendek. Menunda adalah kebiasaan para pecundang, berpikir seolah esok masih ada. Kebaikan perlu disegerakan dan diperbanyak.

Banyak orang ingin hidup berumur panjang lalu melakukan banyak hal yang buruk karenanya. Orang ini menyangka umurnya bisa diperpanjang. Padahal umurnya sudah dijatah.

Secara kalender Muhammad Rasulullah umurnya pendek untuk ukuran zaman ini. Tapi karena beliau banyak berbuat baik dalam umurnya yang pendek, umurnya justru sangat panjang seolah beliau masih hidup hingga saat ini karena namanya selalu kita sebut dalam doa-doa kita.

Subhaanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illa Allah, wa Allahu akbar. Ya Allah jadikan kami orang yang sibuk mengabdi sesuai tuntunan-Mu, sebagai pendukung satu-satunya kehidupan yang agung yang saling sayang menyayangi, yaitu Islam.

Ya Allah, akhiri hidup kami bersama orang-orang yang berbuat yang terbaik. Sungguh kami tidak mau menghabiskan waktu kami kecuali sibuk sebagai muslim. Aamiin Allahumma aamiin.

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.